Si
Es Batu
Yang Kian Mencair
oleh: es.Arini_lf
Rangkuman
cerita:
Cerita ini mengisahkan tentang keluarga dan konflik rumah
tangga. Juga menceritakan sebuah kebohongan orang tua tetang rahasia yang
tersembunyi . dan menyebabkan kehilangannya rasa kepercayaan antara ayah dan
anak. Kebohongan apakah itu? dan apakah
si Es batu dapat luluh dengan penjelasan ayah nya? Lalu bagaimana dengan
kisah cintanya?...
I.
Menunggu
Telah
berapa kali aku lirik jam tangan. Sembari menunggu seseorang yang ku nanti.
Seperti biasa gayaku bosan, dengan
menopangkan kepala di atas meja. “Entah tak seperti biasanya dia terlambat. Apa
mungkin sedang terjadi apa-apa dengannya?”, fikirku cemas.
“Oh..
Zafran, kenapa kamu lama?”, ucapku kemudian. Sambil kurobohkan kepala ku di
atas meja kaca ruang tamu.
Sesekali
ku tengok ponsel putihku, untuk memastikan apa dia memberi kabar akan
keterlambatannya. Namun hasilnya tetap nihil. Satu panggilan pun tak ada, apa
lagi SMS.
“Zafrannn….”,
ucap ku sambil mengetuk-ngetukkan pensil. Tak lama setelah ku ucap keluhku
mengecuap namanya. Tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu yang menuju ke
tempatku berada. Sontak pendanganku langsung terarah ke sumber suara tersebut.
Sudah dapat di tebak, dia adalah Zafran yang ku tunggu. Dia berdiri tegak di hadapanku dengan pakaian
santai namun rapi. Dengan celana jeans yang menawan. Lengkap dengan kacamatanya
yang menambah dirinya terlihat berwibawa.
“Nasya,
Maaf sekali ya?, kali ini aku terlambat, sebenarnya aku mau kasih kabar tapi
aku kira lebih baik aku langsung bicara saja. Tadi aku buru-buru sekali tak
sempat kasih kabar ke kamu. Ada urusan mendadak dan….”.
Sebelum
dia menyelesaikan alasan-alasannya aku bungkam mulutnya terlebih dahulu dengan
meletakkan jari teunjukku di depan mulutnya..Ia pun langsung terdiam. Sebab aku
arah padanya, sebenarnya tanpa memberi alas an pun aku bisa percaya. Asalkan
dia kasih kabar sebelumnya kalau dia baik-baik saja. Sebenarnyakan yang membuat
aku marah karena di buatnya kawatir dengan keterlambatannya.
“iya
gak masalah, tapiiii… kakak salah, mengapa sebelumnya gak memberi pesan. Bilang
‘aku telat’ aja gak masalah. Untung aku gak pergi ke mall kek atau apa. Kalo
ada jadwal kesana aku pasti berubah fikiran untuk keluar.”ucapku mengutarakan
maksutku.
“Baiklah
Sya.. Aku minta maaf, lain kali aku pasti kasih tau jika aku telat”, jawabnya
dengan wajah menyesal.
“Oh
iya gimana materi kemarin? Apa ada yang ingin kamu tanyakan dari tugas yang ku
berikan. Atau ada yang kurang jelas dari tugasnya?”, Tanya Zafran memulai
pembicaraan.
Lalu
kami pun melangkah ke meja tamu untuk meneruskan materi yang dia ajarkan
kemarin dengan tugas-tugas yang ia tinggalkan sebelumnya.
“Aku
rasa belum, karena semua teramat jelas. Umm… tapi nanti aku pasti akan
menanyakan pada mu, apa yang menurutku sulit untuk ku fahami.”
“Ohh..
baiklah.. kita mulai dengan materi selanjutnya.”
II.
Bertemu
si cuek
Pagi
yang indah, sayang untuk ku lewatkan pagi yang cerah ini. Terlihat sepasang burung di pohon sebrang
jalan, layaknya sepasang kekasih yang sedang berduaan. Yang satu melompat ke
ranting yang lain, dan yang satunya mengejarnya sambil membawa sebuah makanan
yang di apit kedua paruhnya. Drama alamiah itu benar-benar membuatku riang.
Suasana dingin dengan sedikit sorotan hangat sang mentari membawaku untuk
melangkah keluar dariruang tidur ku. Seusai menyisir rambut, akhirnya aku
melangkah keluar rumah. Dengan penuh semangat. Brruukkk!!!... sesuatu
menghalangi ku saat aku melangkah seusai keluar dari pintu kamar. Sampai aku
agakterpental kebelakang. Syukurlah sesuatu itu meraih tanganku, dan aku pun terjatuh
pas pada dadanya.
“Emhh…
maaf..”, dengan reflek dia melepasku setelah aku pada posisi berdiri kokoh.
Tanpa sempat ku balas ia segera melangkah menghindar. Hemm… siapa lagi? Dia
Viko si Kakak cuek yang aneh. Dia kakak ku sendiri. Entah mengapa dia membenciku.
Sekali pun dia tak pernah menyapa ku cuek. Sampai sekarang pun aku tak tau apa
yang menjadi alasanya untuk membenci ku. Sedari aku mengenalnya pertama kali.
Oh maaf bukan, lebih tepatnya saat aku tau dia adalah kakakku sendiri. Setelah
aku bangun dari koma dan memasukki rumah ini. Kata ayah dan bunda dia adalah
salah satu dari kakak ku sendiri. . tapi rasa-rasanya dia bukan seperti
kakakku. Karena dia membenci ku. Hemm
lupakan hal itu. Itukan tidak penting. Aku coba lupakan tingkahnya itu dan kembali
melanjutkan langkahku keluar rumah.
“Hey
.. sayang?, mau kemana pagi-pagi? Wah nampaknya sudah wangi ini ya?”, sapa ayah
dari tempat duduk meja makan. Sambil mengatupkan majalah kesehatan yang sedang
i abaca.
“Makan
dulu sini!... ini ada roti sama keju sudah siap.”sahut bunda sambil
menghidangkan racikan kue buatannya dan segelas susu hangat untukku.
“Emmhh..
nampaknya menarik juga hidangannya, hhee.. Iya Ayah Nasya udah mandi, udah
wangi. Waww.. memang bunda ibunda terbaik Nasya. Itu hidanganteristimewa buat
Nasya..” jawabku setelah berada di dekat meja makan.
“ahh
kamu bisa aja Sya…” jawab bunda merespon pujianku.
Akhirnya
sebelum keluar rumah aku putuskan untuk sarapan terlebih dahulu bersama ayah
dan bunda. Tanpa ragu aku gigit dan ku nikmati kue buatan bunda.
“Oh
iya sayang , tadi malam belajar apa sama nak Zafran.?”, ucap bunda
menghangatkan suasana dalam ruang makan.
“Umhh…
tadi malam Nasya belajar bahasa Inggris bun, Aku suka sama Zafran. Ummhh aduh,
maksud aku, aku suka sama penjelasan Zafran. Dia sangan pandai dalam hal
menernagkan.”,dengan cekukan aku menelan kue setelah menyadari perkataan jujur
terceplos dari bibirku.
“ehem-ehem…
itu tadi sepertinya jujur dari hati ya?”, respon bunda sambil menertawakanku.
“Ya..
ampun anak ayah yang sedang ada rasa.”, ibuh ayah memperheboh pembicaraan kita
pagi ini.
“Oh..
enggak bun yah, kan Nasya Cuma salah ngomong aja.”, sambil meneguk air susu
untuk mempermudah ku untuk menelan roti yang tiba-tiba keras di tengorokkanku.
Karena malu, aku berusaha untuk menhindar dari mereka dengan berpura-pura
terburu untuk keluar dari rumah sesuai keinginan awal.
“Upss.
Yah bun kayaknya Nasya harus cepat-cepat keluar deh.. waktu udah semakin siang
aja nihh.. ya udah Nasya pamit ya?”, sambil melihat jam tangan ku.
“Oh
jadi pengen coba mengalihkan perhatian ni ya? Dengan menghindar dari ayah dan
bunda.”, goda ayah lagi.”tapi ayah restu i kamu bila itu terbaik untukmu
sayang,” imbuh ayah dengan menaruh tangannya di atas kepalaku setepalah
tangannya ku kecup. Bunda pun bertingkah serupa. Yah seperti itulah tradisi
rumah kami sebelum kami berpergian.
“semoga
harimu menyenangkan ya sayang.” Doa bunda kemudian.
‘Viko!!!...
kenapa harus ada dia di sini? Luar biasa si aktif itu. Tak henti-hentinya dia
beraktifitas seperti robot saja. Hari libur saja msih di gunakan buat
berkegiatan gak menarik. Lihat saja main basket masak sendirian kurang kerjaan
sekali.’, suara batin ku sambil menatapnya heran. Yah luar bisa sekali si kakak
super aneh ini. Tanpa pamit dengan keluarga. Selalu saja cari-cari kegiatan
untuk menghindar dari kita. Sering sekali aku terbingung di buatnya. Terlebih
marah dengan sikapnya.
“ohhh…
sedari tadi kamu mainan basket sendiri? Seperti ini. “, ucapku kemudian
“Tanpa
berkumpul terlebih dahulu dengan kita.” Imbuhku lebih berani . Sudah bisa di
tebak bukan dia masih menganggapku tidak ada.
“Apa
kamu memang seneng buat bunda sedih, buat ayah kawatir?” ucapku makin melunjak.
Ia pun
membantingkan bolanya dengan keras ke lantai lapangan. Lalu enghampiri ku dan
berkata singkat,”tutup mulut kamu!jika kamu gak tau apa-apa. Itu lebih baik.”
Sambil menatapku tajam. Lantas pergi menghindar. Aku tak takut padanya malah
aku penasaran sebenarnya ada apa di balik ucapaannya itu. Karena aku seakan
melihat ada sesuatu yang ganjil pada tatapannya barusan.
“Aku pasti
menemukan alasanmu bertingkah seperti itu?”,ucapku lirih.
III.
Berubahnya
hati
Kali
ini ku tunggu dia di depan pintu kamarnya. Hampir ½ jam Ia pun keluar. Tentu
dia kaget melihatku yang tiba-tiba berada di hadapannya.Iya pun sesegera
menhindari dari ku.
“Tunggu apa maksud mu kemarin?..”
ucapku agak tegas.
“kata-kata yang mana ? dan maaf gak
usah telalu memfikirkan kata-kata ku, itu nggak penting..”, jawabnya cuek.
Uhhh… dia lolos lagi di hadapanku. Aku
terlanjur bosan mendengar responnya. Jadi, hanya mampu terdiam tanpa
menghalanginya keluar. Dengan cepatnya dia menghilkang sampai tak terlihat lagi
ketika aku menengok. Tanpa berfikir panjang, aku mencoba memasuki kamarnya.
Karena penasaran dengan si kakak aneh itu. Seperti apa sih kamarnya itu yang
mungkin mempengaruhinya menjadi manusia yang super dingin dan nyebelin.
Kamarnya begitu rapi. Namun dinding kamarnya banyak tertempel tulisan dan
gambar poster grupband gak ku kenal sama sekali pada sebuah bor yang di
sediakan di salah satu dinding. Hanya candela kamarnya saja yang membuat ku
sedikit tertarik karena disana aku bisa melihat taman samping rumah yang banyak
dengan tanaman hiasnya. Kolam ikan ayah pun terlihat dari sini. Di samping jendela
pun terdapat hiasan akar kering yang unik. Dan lihat bola kesayangannya pun dia
letakkan di antara hiasan akar itu. Penataan yang cukup unik sih.
“Viko?...”, ucap
ku kaget melihatnya tiba-tiba berada di depan ku setelah aku balikkan badan
menghadap pintu kamarnya. Aku yang terlanjur
malu karena tertangkap basah. Sesegera keluar dari rungan tersebut. Tak
lupa aku pun hanya bisa mengucap kan kata maaf, tanpa melihat wajahnya. Karena
wajahnya sudah mulai memerah ganas. Syukurlah dia tak memperpanjang masalahnya.
Hanya menatapku garang.
Sesampai di ambang
pintu tiba tiba terdengar suara ayah yang baru menuruni tangga rumah,“Sayang
kenapa kamu di situ?”.
“emhh… engakk aku…
akuu..”, balas ku agak gagap karena bingung mau kasih alasan apa.
“Ohh.. kamu baru ngobrol
sama Viko?, baguslah kalo begitu. Berarti dia sudah bisa membuka hatinya untuk
menerima keadaan ini. Ah sudahlah.. oh iya sayang, ayah mau ngomong sama kamu.
Kalo besok ayah ada acara di Malaysia ke persiapan pernikahan Farhat saudara jauh ayah disana. Dan itu cukup lama.
1 bulan. Dan ayah mau bawa bunda ke sana untuk nemenin ayah. Jadi kamu gak papa
kan sendirian di rumah sama Viko? .” terdiam sesaat sembari menunggu jawaban
dari ku.”Tapi kalo kamu gak mau ayah bisa ngalah kok biar ayah sendiri saja yang
berangkat.“.
Sedikit
mempertimbangkan keinginan ayah. Akhirnya aku iyakan niatan ayah. Kasihan juga
melihat ayah tanpa teman nantinya.
Dan akhirnya
saat-saat membosankan itu datang. aku sendirian, Viko si membosankan itu paling
sudah keluar rumah dari tadi. Toh kalo dia ada, males juga menyapanya. Ya…Tuhan
tiba-tiba suasana berubah menjadi gelap dan menakutkan. Mendung yang pekat
membuat sang malam semakin gelap saja di malam ini. Di tambah dengan munculnya
cahaya petir yang menyambar-nyambar. Aku yang ketakutan setengah mati hanya
bisa mematikan tv yg sebelumnya aku tonton.lalu sesegera meringkuk di sofa ruang tv. Aku peluk erat bantal ruang
itu. Sungguh aku benar-benar taku dengan suaranya juga cahayanya yg
berkilat-kilat. Sampai aku dibuat tegang oleh suaranya. Tiba-tiba ada seseorang
di dekatku. Menyadari itu manusia, tanpa pandang bulu aku peluk dia karena
reflek takutku.
“Ustt.. diam,
tenang ya.. ada aku disini…!!”, dia pun berbisik lembut pada ku. Mendengar
suara Viko yang baru saja berbisik. Aku pun melepaskan pelukan ku. Aku sedikit
menghindar darinya. Kami saling salah tingkah. Dan sempat terdiam bingung
sesaat. Ia pun memilih untuk pergi menghindar dari ku.
Tak lama dia
muncul kembali dengan membawa 2 gelas kopi hangat. Lalu berkata sambil
menjulurkan satu gelas kopi di meja depan tempat aku terduduk,” Kopi,,,,
setidaknya bisa ngangetin tubuh mu.”
Pelakuan Viko
sangat mengherankan. Kenapa si dingin ini bisa berubah se perhatian ini.?
Fikirku negative terhadapnya. Yah jelas saja selama ini dia super cuek dan
dingin.
“oh iya,
terimakasi”. Ucapku kemudian dengan agak ragu.
Suasana malam ini
kami habiskan dengan meminum kopi. Yahh… sudah bisa di tebak, masih dengan
suasana canggung. Tanpa sadar aku pun tertidur dengan keadaan duduk dan kusandarkan
kepala di atas meja depan tv.
Selama 1 bulan ini
hubungan ku membaik dengan Viko. Aku merasa lebih dekat dari sebelumnya. Ia
selalu memperhatikanku saat aku masuk jam kelas prifat dengan Zafran. Sampai
setelahnya pun dia sering mengajakku main keluar. Bermaian dengan
kawan-kawannya tanpa memandang siapa dia. Kata Viko sih yang penting selama dia
mau asik sama kita kenapa kita tidak. Perinsip yang bagus. Dan yang lebih aku
suka padanya dia ternyata sangat suka memasak di dapur. Katanya,” cowok itu harus
bisa banyak hal. Termasuk memasak, karena jika nanti kalo orang terkasih kita
sakit kita bisa membuatnya banyak makan. Terus bisa cepat sembuh deh.”
Candaannya itu sangat konyol bagi ku. Namun kekonyolannya juga tak membuatnya
menjadi pribadi yang suka menyepelekan hal yang penting. Dia berbeda dari
dugaan ku sebelumnya. Ternyata hatinya lebih baik dari ku. Dia menjaga ku
dengan baik selama ini. Saat aku tertidur dia juga bersedia menyelimutiku
bahkan membopongku ke kamar. Dan sikapnya membuat sosok Zafran tenggelam.aku
merasa lebih hidup bersama Viko. Merasa sempurna.
Seusai memilih
baju yang cocok untuk malam mini. Aku pun menghadiri lokasi tempat Viko
mengundangku. Di taman dekat komplek kami dia mengundangku. Memang itu lokasi
faforit kami berolahraga. Dan membuang penat ketika ada di rumah selama aku
dekat dengannya. Sesampainya aku di tempat yang Viko minta. Namun agak masih
jauh dari lokasi Viko berada. Terlihat di sana agak samar sebuah hiasan lilin
yang di jajar indah. Viko pun berada di sebuah bangku taman tempat biasa kami
singgah. Dengan girang aku menghampirinya. Karena aku fikir dia memberi kejutan
untuk adiknya tercinta ini.
“Selamat malam
bidadari cantik.” Sapa Viko bangkit dari tempat dia singgah sesudah jarak kami
berdekatan.
“Waw… acara apa
ini?... romantic banget?..”ucapku sambil menatapnya dengan girang.
“kamu suka?... “
diam sesaat menatap wajah ku.
Aku pun
membalasnya dengan senyum bahagia.
“syukurlah..” tawanya
mengembang manis.”oke, silahkan duduk.!” Di sebuah meja panjang dia menyuruhku
duduk.
Dia pun mulai
meraba sebuah kotak makanan di sampingnya. Dia keluarkan satu persatu makanan
ringan beserta minumannya di tengah-tengah kami duduk. Yah kami duduk
bersampingan di atas bangku panjang taman. Ada coklat kesukaan ku, ada juga
sebuah snek jagung. Dan makanan kecil kesukanu lainnya. Minumannya dia sediakan
2 botol air mineral dan 2 botol kemasan tea.
“maaf ya Sya.. aku
sediakan makanan ala kadarnya. Karena dengan memakan makanan ini aku bisa
melihat mu tertawa lepas.”ucapnya sambil mengeluarkan persediaannya dari kotak
itu.
“Wah special
sekali aku mala mini kak. BTW ada apa sih.”ucapku sambil membuka bungkus snek
kesukaan ku.
Dia hanya
tersenyum seraya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Namun masih ia tahan.
Senyumnya masing mengembang. Lalu dia mengambil gitarnya. Berlahan-lahan dia
genjreng dan menyanyikan lagu yang lumayan bikin baper di malam ini. 2 lagu dia
nyanyikan isinya semua tentang cinta. Hemmm kaya sepasang kekasih aja kita
berdua. Samapi aku menghabiskan 1 snek, 1 coklat dan setengah botol air tea. Dia
belum memakan atau meminum sedikit pun.
“Ngomong-ngomong,
kita kaya sepasang sejoli yang sedang romantic-romantisnya ngedate di taman
ya?.. heheheeemm…” ucapku sambil membuka bungkus kemasan kacang kulit.
Dia pun mulai
meletakkan gitarnya dan meraba sesuatu di keranjang makanan. Entah apakah itu.
Dia menyembunyikan di balik punggungnya. Dia pun menatap ku dan menghampiri ku.
Pas di bawah tempat aku duduk dia menjongkok. Lalu berkata,” Nasya aku tak tau
apa yang ku lakuin ini benar. Dan aku tak peduli lagi enatah bagaimana mereka
menyudutkanku jika aku salah. Sebelumnya aku minta maaf. Mungkin awalnya
hubungan kita sangat buruk. Namun dari waktu singkat 1 bulan ini aku merasa
nyaman bersama mu. Dari saat kita main keluar bersama kakak-kakak komplek. Aku
merasa terhibur melihat senyumlepasmu. Dan saat kita suka olahraga bersama. Aku
merasa tak sendirian lagi. Juga saat aku mengajakmu jalan-jalan keluar, aku
merasa ada seseorang yang benar-benar ingin aku bahagiyakan. Dan tak lupa
sedari aku tak tega meninggalkan mu keluar ruma saat malam hujan melanda itu.
Aku tak tau mengapa aku bisa bersimpati besar pada mu. Padahal aku … maaf
membenci mu sebelumnya. Emhhh… Sya maaf mungkin ini konyol tapi. Aku harus
ungkapakan, karena aku tak bisa memendamnya. Maaf aku mencintai mu Sya.. dan
maukah kamu menerima perasaanku. Untuk jadi pasanganku.?”, sambil menyodorkan
bunga di hadapanku.
Aku pun syok,
tanpa sayadar bungkus kacang sudah terjatuh, seisi-isinya pun berantakan di bawah
kaki ku. Entah aku harus tertawa atau marah dengan nya. Mati rasa saat itu. Hanya
bisa berkata,”Kak, kakak sadar dengan ucapan kakak barusan?,” dengan bingung.
“Kakak serius
Sya..”, jelasnya meyakinkanku.
“ya ampun….
Apa-apaan ini..?.”keluhku masih merasa bingung.
Dia hanya terdiam
namun masih menatapku dengan pasti.
“jjaa..emhhh. jadi
gini kakak, ini semua gak wajar. Kita ini saudara kak. Kenapa kakak bisa bilang
begitu?” dengan nada agak gelagapan aku menegaskannya.
“Nasya,,, ada
sesuatu yang gak kamu ketahui sebelumnya. Kita memang saudara. Tapi bukan
kandung. Aku milik ayah ku, dan kamu bersama kakakmu kak Nandar adalah miki
ibumu….”
“tunggu-tunggu
maksudnya?”
“Sya,,, kita
menjadi kakak/adik karena ayah aku dan bunda mu menikah. Saat kamu koma di
rumasakit. Ada suatu hal yang membuat ayah memilih bunda mu menjadi
pendampingnya.
“Apa? Ada suatu
hal yang gak aku ketahui selama ini? Ayah? Bunda? Mereka….”
“iya. Sya, jadi
jika aku punya rasa sama kamu itu hal yang lumrah. Dan itu wajar-wajar saja
bukan?”.
“Aku belum
siapmejawab pertanyaan mu kak. Dan maaf aku harus pulang duluan.” Sambil
menangis aku berjalan menuju rumah.
Kali ini Viko tak
megejarku. Mungkin dia merasa faham dengan perasaanku. Jujur aku juga
menyayanginya. Dan mungkin ini adalah jawaban dari pertanyaanku selama ini.
Mengapa aku memiliki perasaan yang lebih untuknya. Bahkan melebihi kekagumanku
terhadap Zafran.
IV.
Menghilangnya
dia membuat ku tak menyadari arti bahagia
3 bulan sudah dari
pertemuan terakhirku dengan Viko. Setelah itu hubungan kami kembali dingin
seperti sebelumnya. Hanya sepintas keluar dan masuk rumah saja aku melihatnya. Aku
yang sering sekali rindu dengan kebersamaan kami dulu. Sayang gara-gara
perasaan itu kami renggang. Kini aku hanya bisa menghibur diri dengan Zafran.
Zafran pun tak sesibuk dulu. Dia mulai banyak meluangkan waktu untuk mengajakku
bermain keluar. Belajar pun tak selalu di rumah kadang kita belajar di taman
atau tempat nyaman lainnya.
“Sya.. sebenarnya
kamu niat engak sih main keluar?dari tadi, kamu dikit-dikit bengong dikit-dikit
gak nyambung. Mikirin apa sih?.” Tanya Zafran setelah menyadarkanku dari
lamunanku memfikirkan Viko.
“Kak Zafran
ngomomng apa sih?.. “ucapku sambil memainkan sedotan di dalam gelas.
“kalau ada masalah
kamu cerita aja Sya?... apa gunanya aku kalo kamu ada masalah gak mau berbagi?
Siapa tau aku bisa membantu mu.” Ucap Zafran penuh dengan perhatian.
Aku pun terdiam.
Bingung aku harus menjawab apa. Gak lucukan jika aku bilang aku kangen Viko.
Aku maunya dia jadi pacar aku.
“OK Sya.. seperti
biasa kamu diam dan bingung gitu setiap aku kasih kamu pertanyaan. Tentang
sikapmu itu. Sebenarnya selama ini aku merasa ada seseorang di dalam fikiranmu.
Dan tentunya itu bukan aku. 2 bulan ini membuat ku merasa aku tak ada artinya
di hatimu. Tak lebih hanya seorang guru dan muridnya atau sebuah teman aja.
Bukan seorang kekasih yang semestinya.” Zafran mencoba mengungkapkan masalahnya
selama ini.
“Kak Zafran
ngomong apa sih. Apa karena aku jarang ngomong I Love You sama kakak? Atau …”
“sssettt…!!.”jari
telunjuknya membungkam mulutku. Lalu berkata,”I Love you, itu Cuma kata Sya…
kekanak-kanakan sekali aku meminta kamu mengucapkannya seribu kali. Karena yang
ku minta adalah hati kamu punya rasa cinta buat aku. Bukan sekedar kata-kata. Tapi
rasa-rasanya aku tak bisa membuat mu menyayangiku Sya. Aku benar-benar cinta
sama kamu Sya.. tapi sayang aku gak bisa jadi pelampiasan.”sangat dalam dia
mengucapkannya.
“Kak, tolong
lupakan itu. Iya memang aku belum bisa melupakan seseorang yang membuatku
selalu merindukannya. Tapi, kakak bersedia memberiku waktu untu
melupakkannyakan? Please, aku butuh waktu kak.. dan aku ingin bisa memulainya
dengan mu.”
“waktu,, emhhh..
sebenarnya aku rela Sya aku gak memiliki mu asal kamu bisa seceria dulu. Itu sudah
cukup bagiku. Namun jika kamu meminta waktu. Apa 2 bulan ini tak cukup?..
dengan berat hati Sya …kita sama-sama mengkoreksi diri dulu. Agar kita gak
salah memilih jalan. Kita putus dulu.”
Aku hanya bisa terdiam. Tak lama setelah
minumanku habis. Zafran mengatarku sampai rumah. dengan sikap baik dia juga
masih bisa menyapa ayah dan bunda. Di hadapan mereka kami nampak seperti
biasanya. Aku pun langsung menuju kamar setelah melihat Zafran mulai
meninggalkan rumah kami. Aku menyesal dengan sikapku terhadapnya. Dia yang
tulus pada ku hanya bisa aku diamkan karena rinduku kepada Viko. Bahkan aku tak
ingat banyak hal yang ia usahakan untuk mengambil hatiku.
V.
Renganggangnya
hubunganku dengan Zafran
Terdengar suara
pesawat melandas. Ditengah ramainya bandara yang terpenuhi para penjemput
penumpang. Aku dan Bunda menanti kedatangan Ayah dari pintu penantian
penumpang. Yah 1 bulan yang lalu ayah di tugaskan di Kalimantan. Ayah berangkat
sendiri dari 2 minggu setelah aku putus dengan Zafran. Sudah bisa di tebak. Aku
sangat kesepian selama itu. Selama inikan aku bisa melupakan masalahku karena
mencari kesibukan dengan menganggu ayah membaca majalah kesehatanya itu. Tapi
syukurlah dia kembali lagi.
“Nasya sayang…..”,
tiba-tiba suara itu mnegejutkan ku dari arah pintu keluar. “Cuma berduan saja
ini?.” Imbuhnya sambil memelukku.
“iya yah.” jawabku
dengan meraih tas yg ayah pegang sebelumnya.
“jangan bun biar
ayah aja.” Ucap ayah melarang bunda membawakan kopernya.
Kami pun berjalan
menuju mobil dan pulang ke rumah. selama perjalanan ayah menayakan tentang
Viko. Ayah kecewa padanya, karena seperginya ayah. Dia juga meninggalkan rumah.
dan memilih mengekos di dekat tempat kuliahnya.
Sesampainya di
rumah munculah kak Nandar dari pintu sambil mengendong putranya yang masih
berumur 1 tahun dia menghampiri kami.lalu menyapa ayah,” apakabar yah?”
“alhamdulillah
baik. wah kamu kesini, mana istrimu nak?” jawab ayah sambil mencium keponakan
ku itu.
“iya ada di dalam
yah. Sedang siap-siap di meja makan.”
“lagi cuti ya?.”
“iya ayah
kebetulan aku bisa minta libur 1 minggu ke depan. untuk tengok bunda dan ayah
di sini.”
“oh baguslah kalo
begitu,mari-mari kita lanjutkan di dalam saja. Ayah letih sekali.”
Masuklah kami
semua ke dalam rumah, ayah yang langsung menuju ke kamarnya. Aku dan bunda
langsung menuju dapur untuk membantu kak Risti istri kakak. Dan kak Nandar
masih dengan asik mengendong bayinya.
Tak lama kemudian
kami berkumpul di ruang makan. Disana menu makanan yang cukup banyak telah
tersedia rapi. Ayah yang baru tiba. Langsung mencium Raka anak ponakan ku.
“oh iya bun, tadi
aku hubungi Viko. Seperti biasa. Nada bunyinya berdering tapi dia tak
mengangkatnya. Ayah bingung sama anak itu.”keluh ayah teringat Viko.
“sudahlah yah…
mungkin dia butuh waktu untuk bisa bicara dengan ayah.”
Ayah diam kesal.
“oh iya yah
bagaimana kerjaan di Kalimantan?.”Tanya kak Nandar mengalihkan tema
perbincangan.
“Alhamdulillah
baik nak. Oh iya bagaimana kabar bapak ibu mu di sana risti?”
“Alhamdulillah
baik yah.”
“sedang sibuk apa
mereka di desa?”
“biasa sedang
nyawah di musim hujan gini.” Sambil tersenyum santai pada ayah
“wah asik dong di
sawah?..” candaan ayah mulai terasa.
“iya yah makanya
ayah dan semuanya main ke desa biar gak bosan di keramaian kota.” Sahut kak
Nandar.
“iya nanti bisa di
atur.”jawab ayah sedikit terhibur dengan pembicaraan kami.
Pembicaraan kami
berlangsung dengan membahas pengalaman lucu di pekerjaan kak Nandar dan cerita
ayah selama di Kalimantan. Aku yang tak memiliki pengalaman menarik hanya
terdiam dan menyimak mereka sambil ketawa karenanya.
VI.
Terbongkarnya
Rahasia Besar
Karena
jeli 1 minggu ayah di rumah tanpa melihat Viko di rumah. akhirnya ayah pun
memutuskan untuk mencarinya. Setelah berpamitan dengan bunda. Ayah menuju
garasi mobil untuk menuju ke tempat Viko berada. Aku yang penasaran, akhirnya
ku ikuti kemana ayah berada. Syukurlah ayah tak sadar kalau dia sedang aku
buntuti. Tujuan pertama ayah adalah kampusnya, untuk mencari dimana Viko berada
ayah pun mencoba mencari informasi di ruang kemahasiswaan. Lalu ayah diarahkan
untuk bertanya jadwal para mahasiswa kedokteran yang sedang mengikuti mata
perkuliahan pada hari ini. Sepertinya ayah mendapatkan informasi tentang itu.
Ayah pun menuju ke ruang kelas mahasiswa. Beberapa saat dia menungguinya. Al
hasil keluarlah si Viko yang di carinya. Terkaget melihat ayahnya. Dia hanya
bisa terdiam tanpa menyapa. Dan berusaha menghindar dari ayahnya. Entah
kata-kata apa yang di ucapkan ayah. Sampai dia terhenti dari langkahnya menjauhi
ayahnya. Kini mereka meninggalkan tempat itu.
Entah
kemana lagi mereka akan berjalan. Aku pun hanya bisa membututinya dari jarak
jauh.”Ya ampun Viko, mengapa aku merasa mendapatkan kebahagiyaan ku kembali
setelah melihatmu. Padahal aku sangat ingin sekali melupakan perasaan itu.”
Ucapku dalamhati selama perjalanan mengikuti mereka. Di sebuah kafe dengan gaya
desain dinding kayu mobil mereka terhenti.
“silahkan…!”
dengan focus aku mengintai mereka sampai sapaan karyawan kafe aku lewatkan
tanpa balasan. dengan cepat aku mengambil bangku yang pas untuk mengintip
pembicaraan mereka setelah mereka duduk di balik sekat kafe yang aku duduki.
Pas sekali tempat ini. Ayah tak sadar dengan kahadiranku apa lagi Viko karena
kita menghadap berlawanan arah dengan di batasi oleh hiasan dinding kayu yang
di buat agak bercela-cela namun sempit celanya.
“2
cangkir kopi sepesial dari kafe ini,”pesan ayah. Si pelayan pun giliran
menghapiriku. Aku hanya bisa menujuk pesanan ku tanpa suara. Dan memberi kode
terimakasih padanya. Segeralah dia menyipkan pesanan kami. Terhalang suara
nyayian kafe mungkin mereka tak begitu memperhatikan seseorang di
sekelilingnya. Terdiam agak lama sambil menunggu pesanan. Akhirnya Viko memulai
percakapan,”iya yah apa yang mau ayah
katakan?”
“hemhhh…
tanpa ayah minta kamu untuk berbicara sama ayah. Apa kamu selamanya tak mau
bicara sama ayah?,”
“entahlah
yah..”
“entah?...
apa jangan-jangan kamu sudah menganggap ayah sudah tiada?”, ucap ayah agak
dengan nada berat.
“bukan
begitu maksud Viko yah..”
“lalu
kamu masih marah karena pernikahan ayah?”
Viko
terdiam
“apa
iya kamu mau membenci ayah sampai seumur hidup?, ayah sudah semakin tua nak?,
ayah lelah dengan semua ini, ayah arus menjelaskannya supaya bisa jadi bahan
pertimbangan mu untuk memaafkan kesalahan ayah.”, curhat ayah sam il menahan
tangis.
“apa
yang perlu ayah jelaskan?.. semua sudah jelas, ayah menikahi wanita itu. Tanpa
seizin Viko, tanpa peduli bagaimana Viko saat itu. Sudah siapkah keadaan Viko
untuk melupakan mama pa?belum, disana Viko rindu sama mama. Yang tiba-tiba ayah
jauhkan dari Viko tanpa Viko tau alasannya. Viko bingung saat kehilangan mama
yah. Yah degan kesibukan ayah di luar kota mungkin membuat ayah tak peduli
dengan keadaan ku saa itu. dan yang lebih membuat Viko terpukul. Belum genap 1
tahun aku terpisah dari mama. tapi tiba-tiba ayah membawa pulang wanita itu. dan
bilang dia pengganti mamah. Jujur, Viko nggak nyangka yah. Viko hancur saat itu.
dan benarkan kekawatiran Viko jika wanita itu pasti istri simpanan ayah. “, jelas
Viko tanpa basa-basi. Hampir saja Viko meninggalkan tempat duduknya namun ayah
menghalanginya dengan menarik tangannya.
“Tunggu,
nak!!... Tolong dengarkan ayah!!!, setelahnya keputusan untuk memaafkan ayah
itu kembali kepadamu. Tapi tolong dengarkan penjelasan ayah. Kamu mau ketemu
ibu mu?ayah akan kasih tau dimana dia tinggal.”
Mendengarkan
ucapan ayah Viko pun menghentikan langkahnya. Lalu kembali menduduk i tempat
duduknya semula.
“Maafkan ayah sebelumnya nak. Mungkin ayah salah tak meminta izin dari mu
soal Bunda mu.”
“jangan
sebut dia bundaku yah!!...”
“hemmhh..
baiklah. Prasangkamu itu terbalik nak. Dan untuk mamamu itu, mengapa ayah
menceraikannya? Alasanya adalah karena dia selingkuh dengan pria lain. Apa ayah
salah menceraikannya. Lalu katakana nak!! … apa salah ayah mencerikannya? 1x 2x
mungkin bisa ayah salah faham tapi kalau berkali-kali ayah melihat mamamu
kencan bahkan lebih parahnya tidur di hotel dengan pria lain. Apa masih bisa di
sebut salah faham? Katakan jika ayah salah!!...”
Viko
hanya diam tak berdaya bersuara. Mungkin dia kecewa dengan tuduhannya.
“katakan
apa yang harus kamu lakukan jika kamu di posisi ayah!!!.. dan jika kamu ingin
ikut dengan ibu mu itu. dia ada di Bekasi bersama prianya. dan itu kembali pada
mu, entah kamu percaya atau tidak. Tanyakan langsung sama mama mu. Tanyakan
kapan mereka menikah?oh tidak ,, tanyakan apa kamu punya adik se ibu degan pria
itu. karena mungkin adikmu sudah lahir.
Viko
semakin layu. Lalu memberanikan diri bertanya pada ayahnya,”lalu wanita itu dan
Nasya juga kak Nandar? Mereka benar saudara angkat Viko apa anak ayah ?”
“jadi,
hal yang membuatmu jauh dari ayah adalah prasangkamu itu? andai kamu mau
mendengarkan ayah sejak awal. Ayah akan menjelaskannya sedetail mungkin nak. Nandar
dan Nasya adalah anak angkat ayah seperti ayah ucapkan dari awal. Ayah bertemu
mereka di Rumasakit di tempat ayah bertugas. Tak sengaja ayah menangani Nasya
yang saat itu kecelakaan tertabrak mobil yang di kendarai Zafran. Keadaanya
sangat parah saat itu. bisa di bayangkan parahnya dengan mengingat keadaannya
sekarang. Dia tak ingat masa lalunnya. Bahkan lupa siapa dirinya. Berhari-hari
ayah menanganinya. Berhari-hari juga semakin ayah merasa iba dengan ibunya. Dia
mengharapkan Nasya sadar. Entah mungkin saking sedihnya dia banyak bercertita
tentang hal-hal yang belum bisa di berikan untuk Nasya. Maka dari itu ibunya
setiap hari berharap supaya bisa di beri waktu untuk bisa membahagiyakan
anaknya sambil meraba kaca ruang ICU. Dan yang membuat hati ayah merasa luluh
adalah dimana kasih sayang ibunya yang sangat tulus pada anaknya terlihat jelas
waktu itu. dan membuat ayah jatuh hati pada sikapnya. Berbeda jauh dari mama mu
yang hanya memfikirkan tentang dunianya. Yah mungkin kamu tak faham itu karena kamu
terlalu baik menyibukkan diri mu dengan sekolahmu nak. Itu sangat bagus menurut
ayah tenimbang prestasi kamu hancur karena ulah mamamu. Tapi sayang, malah
kenyataan berkata sebaliknya . Malah ayah yang jadi alasan mu memperburuk nilai
sekolahmu.”
Viko
diam sejenak…
“lalu
kenapa ayah tak menayakan pada Viko. Apa Viko siap untuk menerima ibu baru buat
Viko?... kenapa yah?”
“ayah
fikir kamu tak peduli dengan hal itu. ayah fikir kamu akan bisa lebih baik jika
bundamu itu hadir diantara kita. Dan bisa mengganti peran ibu sesungguhnya
dalam rumah tangga. Jadi tanpa meminta mu untuk menerimanya ayah memutuskan
menikahi bunda mu sebulan setelah Nasya sadar. Karena alasan ayah menikahi
bundamu juga karena Nasya mengira ayah ini ayah kandungnya. Selain itu juga
ayah meinkahi bundamu karena ayah prihatin dengan keadaanya sebagai seorang
single parent. Cukupkan jawaban semua itu untuk bisa memuaskan hati mu nak?...?
lalu apa yang ingin kamu tanyakan lagi supaya kesalah fahaman ini tak
berkepanjangan..”
Viko
hanya bisa diam.. karena semakin tak enak dengan ayahnya, lalu ia berpamitan.
Dan berkata,” Viko perlu menenagkan diri sejenak yah. Viko pamit dulu.”
“silahkan
Viko semoga kamu mengerti. Dan bisa memahami suasana ini.”
Seusai percakapan
mereka berakhir dan ayah kembali ke rumah. aku pun masih terdiam sejenak di
bangku cafe. Karena masih tak yakin dengan apa yang ayah ucapkan. Mana mungkin
ayah yang se sayang itu pada ku dan kak Nandar adalah anak tirinya. Apa aku ini
bermimpi.? Bahkan saat aku pertama menyangka ayah itu adalah ayahku dia sama
sekali tak mengelah. Dan selalu merawatku dengan baik. Tak terlihat seperti
orang lain. Setengah jam aku merenung di tempat itu akhirnya aku memutuskan
untuk pulang dan tak sabar untuk menayakan hal ini semua kepada ayah dan bunda.
Demi meyakinkan apa yang aku dengar tadi.
Syukurlah.. ayah
dan bunda tak berada di depan rumah.. aku pun bisa dengan leluasa memasuki
rumah. sesampainya di ambang pintu kamar ku ayah tiba-tiba mengagetkan ku
dengan sapaannya itu,”Nasya!!...” baru kali ini ayah berusara agak keras pada
ku
“emmmhhh iya
ayah”, dengan penuh ketakutan karena takut ketangkap basah saat membututi ayah.
“kamu kemana aja
sayang? Baru kali ini kamu pergi gak pamitan. Bunda kamu kawatir. Baru saja ayah
coba telfon kak Nandar katanya kamu gak bersamanya. Untung kamu segera tiba.
Sebelum Nandar pulang dari Mall.”
“maaf ayah tadi
Nasya keluar sebentar. Oh iya bunda mana?”
Sebelum ayah
menjawab bunda pun tiba-tiba datang menghampiri kami.
“Nak kemana aja
kamu? Bunda bingung kamu kemana. Bunda kira kamu ikut Nandar atau bersama
Zafran. Tapi setelah berjam-jam bunda coba hubungi mereka ternyata kamu tak
bersama mereka. Bunda makin kawati kalo terjadi apa-apa sama kamu. Harusnya
kamu pamit dulu sama bunda kalo kamu mau keluar.”
“maaf bun… yah…,
tadi Nasya keburu jadi gak sempat berpamitan. Oh iya maaf ya yah.. bun.. Nasya
lelah Nasya ingin istirahat dulu.”
Mereka pun
mengizinkanku untuk memasuki kamar.
VII.
Yah..
Bun… siapa Nasya Sebenarnya?
Pagi telah tiba,
di ruang tamu ayah bunda kak Nandar , kak Risty dan anaknya sudah berada di
sana dengan kegiatannya masing-masing. Aku pun turut bergabung dengan mereka.
Di suasana pagi yang tak se samai biasanya. Kini kami seakan saling berlomba
untuk menghabiskan makanan kami masing-masing. Seusai sarapan pagi ini kak Nandar sekeluarga
seleasi lebih awal langsung berpamitan dengan ayah dan bunda untuk pergi ke tempat
teman Kak Risty yang kebetulan juga tinggal di dekat kota kami. Tinggallah kami
bertiga di ruang makan. Ayah kali ini mendapatkan tugas siang jadi agak
bersantai untuk meninggalakan ruang makan. Dan masih sibuk dengan majalahnya.
Bunda pun sibuk kesana kemari membereskan meja makan. Aku ikut membantunya. Di
sela-sela kegiatan kami aku mulai memberanikan diri untuk bertanya kepada ayah
dan bunda tentang apa yang kudengar kemarin.
“yah, bun,
sebelumnya Nasya minta maaf. Kemarin Nasya pergi untuk …….” Diam sejanak,”
mengikuti ayah bertemu kak Viko.”
Ayah yang semula
santai dengan majalahnya pun langsung syok. Dan bunda yang tak tau apa-apa Cuma
bisa diam menyimak.
“iya yah , Nasya
penasaran sama keadaan kak Viko. Tapi akhirnya malah dengar ucapan ayah tentang
Nasya yang bukan anak kandung ayah. Dan hal ini yang ingin Nasya tanyakan pada
ayah dan bunda.”
Ayah pun
meletakkan majalah dan kaca matanya di atas meja.
“hemmm.. baiklah..
hal yang sudah terlanjur terbongkar. Kenapa tak kita jelaskan pada saatnya.” Ucap
ayah menatap lantai.
“yah?”seru bunda
seakan ingin menayakan sesuatu.
“baik lah bun,
ayah ingin katakana semuanya pada Nasya. Ayah takut akan terjadi salah faham
lagi. Kalau ini benar mengapa harus merasa bersalah. Dan Nasya anak ku sayang. Memang
benar kamu bukan anak kandung ayah. Namun kamu sudah ayah anggap seperti anak
ayah sendiri. Bahkan lebih nak.”
Diam sejenak
suasana kami di pagi itu. lalu aku bertanya pada bunda,”lalu kemana ayah bunda
bun?”
“ayah kamu ada di
Jawa Timur.”
“lalu kenapa ayah
kandung Nasya taka da di saat anaknya terbaring koma?”
Bunda terdiam.
Seperti tak mau menjelaskan. Namun aku berusaha mendesak bunda agar tau alasan
sebenarnya.
“kenapa bun?”
Ayah pun angkat
bicara,” karena dia tak pernah mengharapkan anak-anaknya lagi.”
“kenapa gak
mengharapkan yah. Apa alasannya?”
“ayah juga tak
faham. Dengan lelaki yang bisa berfikir jika lebih berat meninggalkan hartanya
dari pada meninggalkan anak dan istrinya. Dia yang takut miskin karena
menafkahi anak dan istrinya.” Tiba ayah dengan suara tegas mengucapkan itu
semua. Lemas aku mendengar semua itu. aku hanya bisa terduduk di kursi ruang
makan. Bunda sesegera memelukku. ayah merasa kecewa mengatakan ucapan itu. dan
baru kali ini aku menatap ayah
meneteskan airmatanya. Lalu berkata,” maafkan ayah nak.. maaf…
seharusnya ayah lebih bisa mengontrol kata-kata ayah.”
“enggak ayah benar
dengan mengatakan sejujurnya. Aku tak mau hidup dalam kebohongan. Meski
kenyataannya sangat menyakitkan yah.. “
Bunda pun
menceritakan semua tentang ayah kandungku dan bagaimana mereka bisa berpisah. Karena
kenyataan memang harus di ungkapkan meski demikian mungkin kebenaranya. Karena
berbohong untuk menutupinya hanya menimbulkan kesalah fahaman yang berujung
kebencian yang sulit untuk di jelaskan. Bahkan membuat kepercayaan hancur
karena ego kita masing-masing.
VIII.
Surat
dari Viko
Ting-tung…ting-tung….”
Bunyi bel rumah membuyarkan pembicaraan kami di depan ruang televisi. Aku pun
membukakan pintu, tak ada siapa pun di luar. Hanya ada sepucuk surat yang di
tinggal di bawah pintu dekat kakiku menginjak. Aku pun peasaran. Lalu ku ambil.
Di sana bertuliskan untuk ayah dari Viko. Tanpa ku lirik sedikitpun aku bawa
surat itu untuk ayah. Ayah pun sesegera membacanya dengan posisi santai semula.
Seusai membacanya
ayah meletakkan selembaran surat Viko di atas meja. Lalu ayah menunduk sedih. Menahan
air mata. Aku yang penasaran dengan isi suratnya pun mencoba membacanya.
Untuk Ayah….
Ayah, maafkan Viko yah. Selama ini Viko menganggap ayah adalah
dalang dari semua masalah Viko. Ternyata
Viko salah. Malah mama yang membuat keluarga kita hancur. Maaf yah Viko tak
bisa kembali ke rumah. Viko butuh waktu untuk menetralkan semua perasaan Viko. Menetralkan
semua keadaan ini. Agar nanti jika kiata bertemu kembali kita bisa kembali dengan
keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Dan mungkin saat ayah membaca surat
ini, Viko sudah berada di perjalanan menuju Singapur. Yah.. Viko menerima
tawaran pertukaran pelajar di kampus yah. Selain agar bisa di sibukan diri di
sana. Viko mungkin bisa lebih tenang dengan tempat yang baru. Viko minta doa
ayah. Semoga nanti Viko bisa lulus dengan nilai terbaik Viko untuk ayah di
Fakultas Kedokteran.
Hildan
Viko Dermawan
“Viko”,
ucapku dalam hati. Air mataku terlepas dari genangannya. Lalu aku mencoba
menghindari ruangan itu. untuk menyediri di sudut kaki ranjang kamar ku. Aku
menangis sejadi-jadinya di sana. Aku takut Viko melupakan ku. Aku takut
hubungan kita benar-benar akan berubah menjadi lebih buruk lagi.
IX.
Kisah
Akhir
“Baju
ini bagus ya buat Natasya?”, ucapku menyodorkan baju bayi umur 1,5 tahun itu
pas di depan tubuh bayi Viko yang sedang iya gendong.
“sepertinya
bagus juga, bentuknya lucu. Dan warnanya… sepertinya dia suka..” balas Viko
pada ku.
“baiklah
kita dapat 4 pasang baju buat dia.” Sambil ku cium pipinya yang mengemaskan itu.
“sudahlah
Nasya sayang!!... belanjaan kamu udah terlalu banyak. Baju udah, perlengkapan
bayi sudah. Makanan sudah. Mau apa lagi, ini aja cukup. Kasihan bayi dalam
perutmu itu.”ucap Viko kawatir.
“baiklah,
kita pulang. Sebenarnya aku ingin cari sepatu dulu buat Natasya. Namun
sepertinya aku juga sudah mulai capek.”
Sesampainya
di kasir aku sodorkan kartu ATM ku. Dan kami bawa ke dalam mobil semua barang
belanjaan kami.
Tasya
yang lucu berada di kursi belakang
bersamaku. Dan Viko yang mengemudi mobilnya. Kami pun menuju perjalanan
pulang. Disana perjalanan kami pun cukup menyenangkan karena candaan Viko.
“udah
sampai rumah…” ucap Viko ramah.
Zafran
yang sudah menunggui ku di depan rumah pun langsung membukakan pintu mobil
untukku. Dan menggendong Natasya. Viko
pun membawakan barang belanjaan memasuki rumah. di dalam ruang tamu pun di
sambut oleh Elysa istri Viko yah si mama Natasya. Yang blasteran Singapura Indonesia itu. lalu
mengambil alih mengendong Tasya. Dan karena larut malam aku dan Zafran yang
sudah datang ½ jam yang lalu di rumah ayah akhirnya membawaku untuk pulang. Yah
setiap hari aku sering ke tempat bunda dan ayah sambil bermain dengan Tasya dan
bercerita banyak hal dengan mamanya Tasya. Sampai Zafran menjemputku sepulang
dari bekerja. Karena di rumah aku tak di bolehkan untuk berberes rumah oleh
Zafran semenjak aku hamil. Takut aku terlalu lelah. Jadi hal yang terbaik adalah berkumpul dengan
keluarga itu pun atas izin Zafran.
Dan
tentang Viko. Viko kembali ke rumah papa setelah Elysa hamil 8 bulan. Dan
memutuskan untuk tinggal di rumah seperti keinginan papa. Aku memutuskan
menikah dengan Zafran setelah 1 bulan lahirnya Tasya. Dan memutuskan untuk
langsung tinggal di perumahan milik Zafran.
Beberapa
menit perjalan kami pulang aku yang tertidur pulas di kursi samping Zafran
menyetir segera di bangunkan. Aku pun di gandengnya keluar. Yah tak seperti
dulu sebelum aku hamil dia sering membopongku. Kini perutku sudah membuncit selama
7 hampir 8 bulan. Jadi tak mungkin dia melakukannya lagi.
Dan
usailah kisah kami. Mungkin aku pernah mencintai Viko, namun memiliki dia bukan
takdir yang Tuhan tuliskan. Namun aku cukup bahagia dengan adanya Zafran yang
menjadi pilihan yang sangat tepat untukku. Karena selama ini dia menjaga ku
dengan baik. Sampai aku tak bisa untuk memnbencinya. Bahkan rasa ku dengan Viko
dulu tbenar-benar terhapuskan oleh perhatian Zafan yang membuat ku benar-benar
jatuh hati padanya.
- The End -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar