Minggu, 13 Januari 2019

Si Es Batu Yang Kian Mencair






Si Es Batu

Yang Kian Mencair

oleh:  es.Arini_lf



Rangkuman cerita:

Cerita ini mengisahkan tentang keluarga dan konflik rumah tangga. Juga menceritakan sebuah kebohongan orang tua tetang rahasia yang tersembunyi . dan menyebabkan kehilangannya rasa kepercayaan antara ayah dan anak. Kebohongan apakah itu? dan apakah  si Es batu dapat luluh dengan penjelasan ayah nya? Lalu bagaimana dengan kisah cintanya?... 



I.                   Menunggu

Telah berapa kali aku lirik jam tangan. Sembari menunggu seseorang yang ku nanti. Seperti biasa gayaku  bosan, dengan menopangkan kepala di atas meja. “Entah tak seperti biasanya dia terlambat. Apa mungkin sedang terjadi apa-apa dengannya?”, fikirku cemas.
“Oh.. Zafran, kenapa kamu lama?”, ucapku kemudian. Sambil kurobohkan kepala ku di atas meja kaca ruang tamu.
Sesekali ku tengok ponsel putihku, untuk memastikan apa dia memberi kabar akan keterlambatannya. Namun hasilnya tetap nihil. Satu panggilan pun tak ada, apa lagi SMS.
“Zafrannn….”, ucap ku sambil mengetuk-ngetukkan pensil. Tak lama setelah ku ucap keluhku mengecuap namanya. Tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu yang menuju ke tempatku berada. Sontak pendanganku langsung terarah ke sumber suara tersebut. Sudah dapat di tebak, dia adalah Zafran yang ku tunggu. Dia  berdiri tegak di hadapanku dengan pakaian santai namun rapi. Dengan celana jeans yang menawan. Lengkap dengan kacamatanya yang menambah dirinya terlihat berwibawa.
“Nasya, Maaf sekali ya?, kali ini aku terlambat, sebenarnya aku mau kasih kabar tapi aku kira lebih baik aku langsung bicara saja. Tadi aku buru-buru sekali tak sempat kasih kabar ke kamu. Ada urusan mendadak dan….”.
Sebelum dia menyelesaikan alasan-alasannya aku bungkam mulutnya terlebih dahulu dengan meletakkan jari teunjukku di depan mulutnya..Ia pun langsung terdiam. Sebab aku arah padanya, sebenarnya tanpa memberi alas an pun aku bisa percaya. Asalkan dia kasih kabar sebelumnya kalau dia baik-baik saja. Sebenarnyakan yang membuat aku marah karena di buatnya kawatir dengan keterlambatannya.
“iya gak masalah, tapiiii… kakak salah, mengapa sebelumnya gak memberi pesan. Bilang ‘aku telat’ aja gak masalah. Untung aku gak pergi ke mall kek atau apa. Kalo ada jadwal kesana aku pasti berubah fikiran untuk keluar.”ucapku mengutarakan maksutku.
“Baiklah Sya.. Aku minta maaf, lain kali aku pasti kasih tau jika aku telat”, jawabnya dengan wajah menyesal.
“Oh iya gimana materi kemarin? Apa ada yang ingin kamu tanyakan dari tugas yang ku berikan. Atau ada yang kurang jelas dari tugasnya?”, Tanya Zafran memulai pembicaraan.
Lalu kami pun melangkah ke meja tamu untuk meneruskan materi yang dia ajarkan kemarin dengan tugas-tugas yang ia tinggalkan sebelumnya.
“Aku rasa belum, karena semua teramat jelas. Umm… tapi nanti aku pasti akan menanyakan pada mu, apa yang menurutku sulit untuk ku fahami.”
“Ohh.. baiklah.. kita mulai dengan materi selanjutnya.”



II.                 Bertemu si cuek
Pagi yang indah, sayang untuk ku lewatkan pagi yang cerah ini.  Terlihat sepasang burung di pohon sebrang jalan, layaknya sepasang kekasih yang sedang berduaan. Yang satu melompat ke ranting yang lain, dan yang satunya mengejarnya sambil membawa sebuah makanan yang di apit kedua paruhnya. Drama alamiah itu benar-benar membuatku riang. Suasana dingin dengan sedikit sorotan hangat sang mentari membawaku untuk melangkah keluar dariruang tidur ku. Seusai menyisir rambut, akhirnya aku melangkah keluar rumah. Dengan penuh semangat. Brruukkk!!!... sesuatu menghalangi ku saat aku melangkah seusai keluar dari pintu kamar. Sampai aku agakterpental kebelakang. Syukurlah sesuatu itu meraih tanganku, dan aku pun terjatuh pas pada dadanya.
“Emhh… maaf..”, dengan reflek dia melepasku setelah aku pada posisi berdiri kokoh. Tanpa sempat ku balas ia segera melangkah menghindar. Hemm… siapa lagi? Dia Viko si Kakak cuek yang aneh. Dia kakak ku sendiri. Entah mengapa dia membenciku. Sekali pun dia tak pernah menyapa ku cuek. Sampai sekarang pun aku tak tau apa yang menjadi alasanya untuk membenci ku. Sedari aku mengenalnya pertama kali. Oh maaf bukan, lebih tepatnya saat aku tau dia adalah kakakku sendiri. Setelah aku bangun dari koma dan memasukki rumah ini. Kata ayah dan bunda dia adalah salah satu dari kakak ku sendiri. . tapi rasa-rasanya dia bukan seperti kakakku.  Karena dia membenci ku. Hemm lupakan hal itu. Itukan tidak penting. Aku coba lupakan tingkahnya itu dan kembali melanjutkan langkahku keluar rumah.
“Hey .. sayang?, mau kemana pagi-pagi? Wah nampaknya sudah wangi ini ya?”, sapa ayah dari tempat duduk meja makan. Sambil mengatupkan majalah kesehatan yang sedang i abaca.
“Makan dulu sini!... ini ada roti sama keju sudah siap.”sahut bunda sambil menghidangkan racikan kue buatannya dan segelas susu hangat untukku.
“Emmhh.. nampaknya menarik juga hidangannya, hhee.. Iya Ayah Nasya udah mandi, udah wangi. Waww.. memang bunda ibunda terbaik Nasya. Itu hidanganteristimewa buat Nasya..” jawabku setelah berada di dekat meja makan.
“ahh kamu bisa aja Sya…” jawab bunda merespon pujianku.
Akhirnya sebelum keluar rumah aku putuskan untuk sarapan terlebih dahulu bersama ayah dan bunda. Tanpa ragu aku gigit dan ku nikmati kue buatan bunda.
“Oh iya sayang , tadi malam belajar apa sama nak Zafran.?”, ucap bunda menghangatkan suasana dalam ruang makan.
“Umhh… tadi malam Nasya belajar bahasa Inggris bun, Aku suka sama Zafran. Ummhh aduh, maksud aku, aku suka sama penjelasan Zafran. Dia sangan pandai dalam hal menernagkan.”,dengan cekukan aku menelan kue setelah menyadari perkataan jujur terceplos dari bibirku.
“ehem-ehem… itu tadi sepertinya jujur dari hati ya?”, respon bunda sambil menertawakanku.
“Ya.. ampun anak ayah yang sedang ada rasa.”, ibuh ayah memperheboh pembicaraan kita pagi ini.
“Oh.. enggak bun yah, kan Nasya Cuma salah ngomong aja.”, sambil meneguk air susu untuk mempermudah ku untuk menelan roti yang tiba-tiba keras di tengorokkanku. Karena malu, aku berusaha untuk menhindar dari mereka dengan berpura-pura terburu untuk keluar dari rumah sesuai keinginan awal.
“Upss. Yah bun kayaknya Nasya harus cepat-cepat keluar deh.. waktu udah semakin siang aja nihh.. ya udah Nasya pamit ya?”, sambil melihat jam tangan ku.
“Oh jadi pengen coba mengalihkan perhatian ni ya? Dengan menghindar dari ayah dan bunda.”, goda ayah lagi.”tapi ayah restu i kamu bila itu terbaik untukmu sayang,” imbuh ayah dengan menaruh tangannya di atas kepalaku setepalah tangannya ku kecup. Bunda pun bertingkah serupa. Yah seperti itulah tradisi rumah kami sebelum kami berpergian.
“semoga harimu menyenangkan ya sayang.” Doa bunda kemudian.




‘Viko!!!... kenapa harus ada dia di sini? Luar biasa si aktif itu. Tak henti-hentinya dia beraktifitas seperti robot saja. Hari libur saja msih di gunakan buat berkegiatan gak menarik. Lihat saja main basket masak sendirian kurang kerjaan sekali.’, suara batin ku sambil menatapnya heran. Yah luar bisa sekali si kakak super aneh ini. Tanpa pamit dengan keluarga. Selalu saja cari-cari kegiatan untuk menghindar dari kita. Sering sekali aku terbingung di buatnya. Terlebih marah dengan sikapnya.
“ohhh… sedari tadi kamu mainan basket sendiri? Seperti ini. “, ucapku kemudian
“Tanpa berkumpul terlebih dahulu dengan kita.” Imbuhku lebih berani . Sudah bisa di tebak bukan dia masih menganggapku tidak ada.
“Apa kamu memang seneng buat bunda sedih, buat ayah kawatir?” ucapku makin melunjak.
Ia pun membantingkan bolanya dengan keras ke lantai lapangan. Lalu enghampiri ku dan berkata singkat,”tutup mulut kamu!jika kamu gak tau apa-apa. Itu lebih baik.” Sambil menatapku tajam. Lantas pergi menghindar. Aku tak takut padanya malah aku penasaran sebenarnya ada apa di balik ucapaannya itu. Karena aku seakan melihat ada sesuatu yang ganjil pada tatapannya barusan.
“Aku pasti menemukan alasanmu bertingkah seperti itu?”,ucapku lirih.



III.              Berubahnya hati

Kali ini ku tunggu dia di depan pintu kamarnya. Hampir ½ jam Ia pun keluar. Tentu dia kaget melihatku yang tiba-tiba berada di hadapannya.Iya pun sesegera menhindari dari ku.
            “Tunggu apa maksud mu kemarin?..” ucapku agak tegas.
            “kata-kata yang mana ? dan maaf gak usah telalu memfikirkan kata-kata ku, itu nggak penting..”, jawabnya cuek. Uhhh…  dia lolos lagi di hadapanku. Aku terlanjur bosan mendengar responnya. Jadi, hanya mampu terdiam tanpa menghalanginya keluar. Dengan cepatnya dia menghilkang sampai tak terlihat lagi ketika aku menengok. Tanpa berfikir panjang, aku mencoba memasuki kamarnya. Karena penasaran dengan si kakak aneh itu. Seperti apa sih kamarnya itu yang mungkin mempengaruhinya menjadi manusia yang super dingin dan nyebelin. Kamarnya begitu rapi. Namun dinding kamarnya banyak tertempel tulisan dan gambar poster grupband gak ku kenal sama sekali pada sebuah bor yang di sediakan di salah satu dinding. Hanya candela kamarnya saja yang membuat ku sedikit tertarik karena disana aku bisa melihat taman samping rumah yang banyak dengan tanaman hiasnya. Kolam ikan ayah pun terlihat dari sini. Di samping jendela pun terdapat hiasan akar kering yang unik. Dan lihat bola kesayangannya pun dia letakkan di antara hiasan akar itu. Penataan yang cukup unik sih.
“Viko?...”, ucap ku kaget melihatnya tiba-tiba berada di depan ku setelah aku balikkan badan menghadap pintu kamarnya. Aku yang terlanjur  malu karena tertangkap basah. Sesegera keluar dari rungan tersebut. Tak lupa aku pun hanya bisa mengucap kan kata maaf, tanpa melihat wajahnya. Karena wajahnya sudah mulai memerah ganas. Syukurlah dia tak memperpanjang masalahnya. Hanya menatapku garang.
Sesampai di ambang pintu tiba tiba terdengar suara ayah yang baru menuruni tangga rumah,“Sayang kenapa kamu di situ?”.
“emhh… engakk aku… akuu..”, balas ku agak gagap karena bingung mau kasih alasan apa.
“Ohh.. kamu baru ngobrol sama Viko?, baguslah kalo begitu. Berarti dia sudah bisa membuka hatinya untuk menerima keadaan ini. Ah sudahlah.. oh iya sayang, ayah mau ngomong sama kamu. Kalo besok ayah ada acara di Malaysia ke persiapan pernikahan Farhat  saudara jauh ayah disana. Dan itu cukup lama. 1 bulan. Dan ayah mau bawa bunda ke sana untuk nemenin ayah. Jadi kamu gak papa kan sendirian di rumah sama Viko? .” terdiam sesaat sembari menunggu jawaban dari ku.”Tapi kalo kamu gak mau ayah bisa ngalah kok biar ayah sendiri saja yang berangkat.“.
Sedikit mempertimbangkan keinginan ayah. Akhirnya aku iyakan niatan ayah. Kasihan juga melihat ayah tanpa teman nantinya.



Dan akhirnya saat-saat membosankan itu datang. aku sendirian, Viko si membosankan itu paling sudah keluar rumah dari tadi. Toh kalo dia ada, males juga menyapanya. Ya…Tuhan tiba-tiba suasana berubah menjadi gelap dan menakutkan. Mendung yang pekat membuat sang malam semakin gelap saja di malam ini. Di tambah dengan munculnya cahaya petir yang menyambar-nyambar. Aku yang ketakutan setengah mati hanya bisa mematikan tv yg sebelumnya aku tonton.lalu sesegera meringkuk  di sofa ruang tv. Aku peluk erat bantal ruang itu. Sungguh aku benar-benar taku dengan suaranya juga cahayanya yg berkilat-kilat. Sampai aku dibuat tegang oleh suaranya. Tiba-tiba ada seseorang di dekatku. Menyadari itu manusia, tanpa pandang bulu aku peluk dia karena reflek takutku.
“Ustt.. diam, tenang ya.. ada aku disini…!!”, dia pun berbisik lembut pada ku. Mendengar suara Viko yang baru saja berbisik. Aku pun melepaskan pelukan ku. Aku sedikit menghindar darinya. Kami saling salah tingkah. Dan sempat terdiam bingung sesaat. Ia pun memilih untuk pergi menghindar dari ku.
Tak lama dia muncul kembali dengan membawa 2 gelas kopi hangat. Lalu berkata sambil menjulurkan satu gelas kopi di meja depan tempat aku terduduk,” Kopi,,,, setidaknya bisa ngangetin tubuh mu.”
Pelakuan Viko sangat mengherankan. Kenapa si dingin ini bisa berubah se perhatian ini.? Fikirku negative terhadapnya. Yah jelas saja selama ini dia super cuek dan dingin.
“oh iya, terimakasi”. Ucapku kemudian dengan agak ragu.
Suasana malam ini kami habiskan dengan meminum kopi. Yahh… sudah bisa di tebak, masih dengan suasana canggung. Tanpa sadar aku pun tertidur dengan keadaan duduk dan kusandarkan kepala di atas meja depan tv.



Selama 1 bulan ini hubungan ku membaik dengan Viko. Aku merasa lebih dekat dari sebelumnya. Ia selalu memperhatikanku saat aku masuk jam kelas prifat dengan Zafran. Sampai setelahnya pun dia sering mengajakku main keluar. Bermaian dengan kawan-kawannya tanpa memandang siapa dia. Kata Viko sih yang penting selama dia mau asik sama kita kenapa kita tidak. Perinsip yang bagus. Dan yang lebih aku suka padanya dia ternyata sangat suka memasak di dapur. Katanya,” cowok itu harus bisa banyak hal. Termasuk memasak, karena jika nanti kalo orang terkasih kita sakit kita bisa membuatnya banyak makan. Terus bisa cepat sembuh deh.” Candaannya itu sangat konyol bagi ku. Namun kekonyolannya juga tak membuatnya menjadi pribadi yang suka menyepelekan hal yang penting. Dia berbeda dari dugaan ku sebelumnya. Ternyata hatinya lebih baik dari ku. Dia menjaga ku dengan baik selama ini. Saat aku tertidur dia juga bersedia menyelimutiku bahkan membopongku ke kamar. Dan sikapnya membuat sosok Zafran tenggelam.aku merasa lebih hidup bersama Viko. Merasa sempurna.

Seusai memilih baju yang cocok untuk malam mini. Aku pun menghadiri lokasi tempat Viko mengundangku. Di taman dekat komplek kami dia mengundangku. Memang itu lokasi faforit kami berolahraga. Dan membuang penat ketika ada di rumah selama aku dekat dengannya. Sesampainya aku di tempat yang Viko minta. Namun agak masih jauh dari lokasi Viko berada. Terlihat di sana agak samar sebuah hiasan lilin yang di jajar indah. Viko pun berada di sebuah bangku taman tempat biasa kami singgah. Dengan girang aku menghampirinya. Karena aku fikir dia memberi kejutan untuk adiknya tercinta ini.
“Selamat malam bidadari cantik.” Sapa Viko bangkit dari tempat dia singgah sesudah jarak kami berdekatan.
“Waw… acara apa ini?... romantic banget?..”ucapku sambil menatapnya dengan girang.
“kamu suka?... “ diam sesaat menatap wajah ku.
Aku pun membalasnya dengan senyum bahagia.
“syukurlah..” tawanya mengembang manis.”oke, silahkan duduk.!” Di sebuah meja panjang dia menyuruhku duduk.
Dia pun mulai meraba sebuah kotak makanan di sampingnya. Dia keluarkan satu persatu makanan ringan beserta minumannya di tengah-tengah kami duduk. Yah kami duduk bersampingan di atas bangku panjang taman. Ada coklat kesukaan ku, ada juga sebuah snek jagung. Dan makanan kecil kesukanu lainnya. Minumannya dia sediakan 2 botol air mineral dan 2 botol kemasan tea.
“maaf ya Sya.. aku sediakan makanan ala kadarnya. Karena dengan memakan makanan ini aku bisa melihat mu tertawa lepas.”ucapnya sambil mengeluarkan persediaannya dari kotak itu.
“Wah special sekali aku mala mini kak. BTW ada apa sih.”ucapku sambil membuka bungkus snek kesukaan ku.
Dia hanya tersenyum seraya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Namun masih ia tahan. Senyumnya masing mengembang. Lalu dia mengambil gitarnya. Berlahan-lahan dia genjreng dan menyanyikan lagu yang lumayan bikin baper di malam ini. 2 lagu dia nyanyikan isinya semua tentang cinta. Hemmm kaya sepasang kekasih aja kita berdua. Samapi aku menghabiskan 1 snek, 1 coklat dan setengah botol air tea. Dia belum memakan atau meminum sedikit pun.
“Ngomong-ngomong, kita kaya sepasang sejoli yang sedang romantic-romantisnya ngedate di taman ya?.. heheheeemm…” ucapku sambil membuka bungkus kemasan kacang kulit.
Dia pun mulai meletakkan gitarnya dan meraba sesuatu di keranjang makanan. Entah apakah itu. Dia menyembunyikan di balik punggungnya. Dia pun menatap ku dan menghampiri ku. Pas di bawah tempat aku duduk dia menjongkok. Lalu berkata,” Nasya aku tak tau apa yang ku lakuin ini benar. Dan aku tak peduli lagi enatah bagaimana mereka menyudutkanku jika aku salah. Sebelumnya aku minta maaf. Mungkin awalnya hubungan kita sangat buruk. Namun dari waktu singkat 1 bulan ini aku merasa nyaman bersama mu. Dari saat kita main keluar bersama kakak-kakak komplek. Aku merasa terhibur melihat senyumlepasmu. Dan saat kita suka olahraga bersama. Aku merasa tak sendirian lagi. Juga saat aku mengajakmu jalan-jalan keluar, aku merasa ada seseorang yang benar-benar ingin aku bahagiyakan. Dan tak lupa sedari aku tak tega meninggalkan mu keluar ruma saat malam hujan melanda itu. Aku tak tau mengapa aku bisa bersimpati besar pada mu. Padahal aku … maaf membenci mu sebelumnya. Emhhh… Sya maaf mungkin ini konyol tapi. Aku harus ungkapakan, karena aku tak bisa memendamnya. Maaf aku mencintai mu Sya.. dan maukah kamu menerima perasaanku. Untuk jadi pasanganku.?”, sambil menyodorkan bunga di hadapanku.
Aku pun syok, tanpa sayadar bungkus kacang sudah terjatuh, seisi-isinya pun berantakan di bawah kaki ku. Entah aku harus tertawa atau marah dengan nya. Mati rasa saat itu. Hanya bisa berkata,”Kak, kakak sadar dengan ucapan kakak barusan?,” dengan bingung.
“Kakak serius Sya..”, jelasnya meyakinkanku.
“ya ampun…. Apa-apaan ini..?.”keluhku masih merasa bingung.
Dia hanya terdiam namun masih menatapku dengan pasti.
“jjaa..emhhh. jadi gini kakak, ini semua gak wajar. Kita ini saudara kak. Kenapa kakak bisa bilang begitu?” dengan nada agak gelagapan aku menegaskannya.
“Nasya,,, ada sesuatu yang gak kamu ketahui sebelumnya. Kita memang saudara. Tapi bukan kandung. Aku milik ayah ku, dan kamu bersama kakakmu kak Nandar adalah miki ibumu….”
“tunggu-tunggu maksudnya?”
“Sya,,, kita menjadi kakak/adik karena ayah aku dan bunda mu menikah. Saat kamu koma di rumasakit. Ada suatu hal yang membuat ayah memilih bunda mu menjadi pendampingnya.
“Apa? Ada suatu hal yang gak aku ketahui selama ini? Ayah? Bunda? Mereka….”
“iya. Sya, jadi jika aku punya rasa sama kamu itu hal yang lumrah. Dan itu wajar-wajar saja bukan?”.
“Aku belum siapmejawab pertanyaan mu kak. Dan maaf aku harus pulang duluan.” Sambil menangis aku berjalan menuju rumah.
Kali ini Viko tak megejarku. Mungkin dia merasa faham dengan perasaanku. Jujur aku juga menyayanginya. Dan mungkin ini adalah jawaban dari pertanyaanku selama ini. Mengapa aku memiliki perasaan yang lebih untuknya. Bahkan melebihi kekagumanku terhadap Zafran.



IV.              Menghilangnya dia membuat ku tak menyadari arti bahagia

3 bulan sudah dari pertemuan terakhirku dengan Viko. Setelah itu hubungan kami kembali dingin seperti sebelumnya. Hanya sepintas keluar dan masuk rumah saja aku melihatnya. Aku yang sering sekali rindu dengan kebersamaan kami dulu. Sayang gara-gara perasaan itu kami renggang. Kini aku hanya bisa menghibur diri dengan Zafran. Zafran pun tak sesibuk dulu. Dia mulai banyak meluangkan waktu untuk mengajakku bermain keluar. Belajar pun tak selalu di rumah kadang kita belajar di taman atau tempat nyaman lainnya.
“Sya.. sebenarnya kamu niat engak sih main keluar?dari tadi, kamu dikit-dikit bengong dikit-dikit gak nyambung. Mikirin apa sih?.” Tanya Zafran setelah menyadarkanku dari lamunanku memfikirkan Viko.
“Kak Zafran ngomomng apa sih?.. “ucapku sambil memainkan sedotan di dalam gelas.
“kalau ada masalah kamu cerita aja Sya?... apa gunanya aku kalo kamu ada masalah gak mau berbagi? Siapa tau aku bisa membantu mu.” Ucap Zafran penuh dengan perhatian.
Aku pun terdiam. Bingung aku harus menjawab apa. Gak lucukan jika aku bilang aku kangen Viko. Aku maunya dia jadi pacar aku.
“OK Sya.. seperti biasa kamu diam dan bingung gitu setiap aku kasih kamu pertanyaan. Tentang sikapmu itu. Sebenarnya selama ini aku merasa ada seseorang di dalam fikiranmu. Dan tentunya itu bukan aku. 2 bulan ini membuat ku merasa aku tak ada artinya di hatimu. Tak lebih hanya seorang guru dan muridnya atau sebuah teman aja. Bukan seorang kekasih yang semestinya.” Zafran mencoba mengungkapkan masalahnya selama ini.
“Kak Zafran ngomong apa sih. Apa karena aku jarang ngomong I Love You sama kakak? Atau …”
“sssettt…!!.”jari telunjuknya membungkam mulutku. Lalu berkata,”I Love you, itu Cuma kata Sya… kekanak-kanakan sekali aku meminta kamu mengucapkannya seribu kali. Karena yang ku minta adalah hati kamu punya rasa cinta buat aku. Bukan sekedar kata-kata. Tapi rasa-rasanya aku tak bisa membuat mu menyayangiku Sya. Aku benar-benar cinta sama kamu Sya.. tapi sayang aku gak bisa jadi pelampiasan.”sangat dalam dia mengucapkannya.
“Kak, tolong lupakan itu. Iya memang aku belum bisa melupakan seseorang yang membuatku selalu merindukannya. Tapi, kakak bersedia memberiku waktu untu melupakkannyakan? Please, aku butuh waktu kak.. dan aku ingin bisa memulainya dengan mu.”
“waktu,, emhhh.. sebenarnya aku rela Sya aku gak memiliki mu asal kamu bisa seceria dulu. Itu sudah cukup bagiku. Namun jika kamu meminta waktu. Apa 2 bulan ini tak cukup?.. dengan berat hati Sya …kita sama-sama mengkoreksi diri dulu. Agar kita gak salah memilih jalan. Kita putus dulu.”
 Aku hanya bisa terdiam. Tak lama setelah minumanku habis. Zafran mengatarku sampai rumah. dengan sikap baik dia juga masih bisa menyapa ayah dan bunda. Di hadapan mereka kami nampak seperti biasanya. Aku pun langsung menuju kamar setelah melihat Zafran mulai meninggalkan rumah kami. Aku menyesal dengan sikapku terhadapnya. Dia yang tulus pada ku hanya bisa aku diamkan karena rinduku kepada Viko. Bahkan aku tak ingat banyak hal yang ia usahakan untuk mengambil hatiku.



V.                Renganggangnya hubunganku dengan Zafran

Terdengar suara pesawat melandas. Ditengah ramainya bandara yang terpenuhi para penjemput penumpang. Aku dan Bunda menanti kedatangan Ayah dari pintu penantian penumpang. Yah 1 bulan yang lalu ayah di tugaskan di Kalimantan. Ayah berangkat sendiri dari 2 minggu setelah aku putus dengan Zafran. Sudah bisa di tebak. Aku sangat kesepian selama itu. Selama inikan aku bisa melupakan masalahku karena mencari kesibukan dengan menganggu ayah membaca majalah kesehatanya itu. Tapi syukurlah dia kembali lagi.
“Nasya sayang…..”, tiba-tiba suara itu mnegejutkan ku dari arah pintu keluar. “Cuma berduan saja ini?.” Imbuhnya sambil memelukku.
“iya yah.” jawabku dengan meraih tas yg ayah pegang sebelumnya.
“jangan bun biar ayah aja.” Ucap ayah melarang bunda membawakan kopernya.
Kami pun berjalan menuju mobil dan pulang ke rumah. selama perjalanan ayah menayakan tentang Viko. Ayah kecewa padanya, karena seperginya ayah. Dia juga meninggalkan rumah. dan memilih mengekos di dekat tempat kuliahnya.
Sesampainya di rumah munculah kak Nandar dari pintu sambil mengendong putranya yang masih berumur 1 tahun dia menghampiri kami.lalu menyapa ayah,” apakabar yah?”
“alhamdulillah baik. wah kamu kesini, mana istrimu nak?” jawab ayah sambil mencium keponakan ku itu.
“iya ada di dalam yah. Sedang siap-siap di meja makan.”
“lagi cuti ya?.”
“iya ayah kebetulan aku bisa minta libur 1 minggu ke depan. untuk tengok bunda dan ayah di sini.”
“oh baguslah kalo begitu,mari-mari kita lanjutkan di dalam saja. Ayah letih sekali.”
Masuklah kami semua ke dalam rumah, ayah yang langsung menuju ke kamarnya. Aku dan bunda langsung menuju dapur untuk membantu kak Risti istri kakak. Dan kak Nandar masih dengan asik mengendong bayinya.
Tak lama kemudian kami berkumpul di ruang makan. Disana menu makanan yang cukup banyak telah tersedia rapi. Ayah yang baru tiba. Langsung mencium Raka anak ponakan ku.
“oh iya bun, tadi aku hubungi Viko. Seperti biasa. Nada bunyinya berdering tapi dia tak mengangkatnya. Ayah bingung sama anak itu.”keluh ayah teringat Viko.
“sudahlah yah… mungkin dia butuh waktu untuk bisa bicara dengan ayah.”
Ayah diam kesal.
“oh iya yah bagaimana kerjaan di Kalimantan?.”Tanya kak Nandar mengalihkan tema perbincangan.
“Alhamdulillah baik nak. Oh iya bagaimana kabar bapak ibu mu di sana risti?”
“Alhamdulillah baik yah.”
“sedang sibuk apa mereka di desa?”
“biasa sedang nyawah di musim hujan gini.” Sambil tersenyum santai pada ayah
“wah asik dong di sawah?..” candaan ayah mulai terasa.
“iya yah makanya ayah dan semuanya main ke desa biar gak bosan di keramaian kota.” Sahut kak Nandar.
“iya nanti bisa di atur.”jawab ayah sedikit terhibur dengan pembicaraan kami.
Pembicaraan kami berlangsung dengan membahas pengalaman lucu di pekerjaan kak Nandar dan cerita ayah selama di Kalimantan. Aku yang tak memiliki pengalaman menarik hanya terdiam dan menyimak mereka sambil ketawa karenanya.




VI.              Terbongkarnya Rahasia Besar
Karena jeli 1 minggu ayah di rumah tanpa melihat Viko di rumah. akhirnya ayah pun memutuskan untuk mencarinya. Setelah berpamitan dengan bunda. Ayah menuju garasi mobil untuk menuju ke tempat Viko berada. Aku yang penasaran, akhirnya ku ikuti kemana ayah berada. Syukurlah ayah tak sadar kalau dia sedang aku buntuti. Tujuan pertama ayah adalah kampusnya, untuk mencari dimana Viko berada ayah pun mencoba mencari informasi di ruang kemahasiswaan. Lalu ayah diarahkan untuk bertanya jadwal para mahasiswa kedokteran yang sedang mengikuti mata perkuliahan pada hari ini. Sepertinya ayah mendapatkan informasi tentang itu. Ayah pun menuju ke ruang kelas mahasiswa. Beberapa saat dia menungguinya. Al hasil keluarlah si Viko yang di carinya. Terkaget melihat ayahnya. Dia hanya bisa terdiam tanpa menyapa. Dan berusaha menghindar dari ayahnya. Entah kata-kata apa yang di ucapkan ayah. Sampai dia terhenti dari langkahnya menjauhi ayahnya. Kini mereka meninggalkan tempat itu.
Entah kemana lagi mereka akan berjalan. Aku pun hanya bisa membututinya dari jarak jauh.”Ya ampun Viko, mengapa aku merasa mendapatkan kebahagiyaan ku kembali setelah melihatmu. Padahal aku sangat ingin sekali melupakan perasaan itu.” Ucapku dalamhati selama perjalanan mengikuti mereka. Di sebuah kafe dengan gaya desain dinding kayu mobil mereka terhenti.  
“silahkan…!” dengan focus aku mengintai mereka sampai sapaan karyawan kafe aku lewatkan tanpa balasan. dengan cepat aku mengambil bangku yang pas untuk mengintip pembicaraan mereka setelah mereka duduk di balik sekat kafe yang aku duduki. Pas sekali tempat ini. Ayah tak sadar dengan kahadiranku apa lagi Viko karena kita menghadap berlawanan arah dengan di batasi oleh hiasan dinding kayu yang di buat agak bercela-cela namun sempit celanya.
“2 cangkir kopi sepesial dari kafe ini,”pesan ayah. Si pelayan pun giliran menghapiriku. Aku hanya bisa menujuk pesanan ku tanpa suara. Dan memberi kode terimakasih padanya. Segeralah dia menyipkan pesanan kami. Terhalang suara nyayian kafe mungkin mereka tak begitu memperhatikan seseorang di sekelilingnya. Terdiam agak lama sambil menunggu pesanan. Akhirnya Viko memulai percakapan,”iya yah  apa yang mau ayah katakan?”
“hemhhh… tanpa ayah minta kamu untuk berbicara sama ayah. Apa kamu selamanya tak mau bicara sama ayah?,”
“entahlah yah..”
“entah?... apa jangan-jangan kamu sudah menganggap ayah sudah tiada?”, ucap ayah agak dengan nada berat.
“bukan begitu maksud Viko yah..”
“lalu kamu masih marah karena pernikahan ayah?”
Viko terdiam
“apa iya kamu mau membenci ayah sampai seumur hidup?, ayah sudah semakin tua nak?, ayah lelah dengan semua ini, ayah arus menjelaskannya supaya bisa jadi bahan pertimbangan mu untuk memaafkan kesalahan ayah.”, curhat ayah sam il menahan tangis.
“apa yang perlu ayah jelaskan?.. semua sudah jelas, ayah menikahi wanita itu. Tanpa seizin Viko, tanpa peduli bagaimana Viko saat itu. Sudah siapkah keadaan Viko untuk melupakan mama pa?belum, disana Viko rindu sama mama. Yang tiba-tiba ayah jauhkan dari Viko tanpa Viko tau alasannya. Viko bingung saat kehilangan mama yah. Yah degan kesibukan ayah di luar kota mungkin membuat ayah tak peduli dengan keadaan ku saa itu. dan yang lebih membuat Viko terpukul. Belum genap 1 tahun aku terpisah dari mama. tapi tiba-tiba ayah membawa pulang wanita itu. dan bilang dia pengganti mamah. Jujur, Viko nggak nyangka yah. Viko hancur saat itu. dan benarkan kekawatiran Viko jika wanita itu pasti istri simpanan ayah. “, jelas Viko tanpa basa-basi. Hampir saja Viko meninggalkan tempat duduknya namun ayah menghalanginya dengan menarik tangannya.
“Tunggu, nak!!... Tolong dengarkan ayah!!!, setelahnya keputusan untuk memaafkan ayah itu kembali kepadamu. Tapi tolong dengarkan penjelasan ayah. Kamu mau ketemu ibu mu?ayah akan kasih tau dimana dia tinggal.”
Mendengarkan ucapan ayah Viko pun menghentikan langkahnya. Lalu kembali menduduk i tempat duduknya semula.
 “Maafkan ayah sebelumnya nak.  Mungkin ayah salah tak meminta izin dari mu soal Bunda mu.”
“jangan sebut dia bundaku yah!!...”
“hemmhh.. baiklah. Prasangkamu itu terbalik nak. Dan untuk mamamu itu, mengapa ayah menceraikannya? Alasanya adalah karena dia selingkuh dengan pria lain. Apa ayah salah menceraikannya. Lalu katakana nak!! … apa salah ayah mencerikannya? 1x 2x mungkin bisa ayah salah faham tapi kalau berkali-kali ayah melihat mamamu kencan bahkan lebih parahnya tidur di hotel dengan pria lain. Apa masih bisa di sebut salah faham? Katakan jika ayah salah!!...”
Viko hanya diam tak berdaya bersuara. Mungkin dia kecewa dengan tuduhannya.
“katakan apa yang harus kamu lakukan jika kamu di posisi ayah!!!.. dan jika kamu ingin ikut dengan ibu mu itu. dia ada di Bekasi bersama prianya. dan itu kembali pada mu, entah kamu percaya atau tidak. Tanyakan langsung sama mama mu. Tanyakan kapan mereka menikah?oh tidak ,, tanyakan apa kamu punya adik se ibu degan pria itu. karena mungkin adikmu sudah lahir.
Viko semakin layu. Lalu memberanikan diri bertanya pada ayahnya,”lalu wanita itu dan Nasya juga kak Nandar? Mereka benar saudara angkat Viko apa anak ayah ?”
“jadi, hal yang membuatmu jauh dari ayah adalah prasangkamu itu? andai kamu mau mendengarkan ayah sejak awal. Ayah akan menjelaskannya sedetail mungkin nak. Nandar dan Nasya adalah anak angkat ayah seperti ayah ucapkan dari awal. Ayah bertemu mereka di Rumasakit di tempat ayah bertugas. Tak sengaja ayah menangani Nasya yang saat itu kecelakaan tertabrak mobil yang di kendarai Zafran. Keadaanya sangat parah saat itu. bisa di bayangkan parahnya dengan mengingat keadaannya sekarang. Dia tak ingat masa lalunnya. Bahkan lupa siapa dirinya. Berhari-hari ayah menanganinya. Berhari-hari juga semakin ayah merasa iba dengan ibunya. Dia mengharapkan Nasya sadar. Entah mungkin saking sedihnya dia banyak bercertita tentang hal-hal yang belum bisa di berikan untuk Nasya. Maka dari itu ibunya setiap hari berharap supaya bisa di beri waktu untuk bisa membahagiyakan anaknya sambil meraba kaca ruang ICU. Dan yang membuat hati ayah merasa luluh adalah dimana kasih sayang ibunya yang sangat tulus pada anaknya terlihat jelas waktu itu. dan membuat ayah jatuh hati pada sikapnya. Berbeda jauh dari mama mu yang hanya memfikirkan tentang dunianya. Yah mungkin kamu tak faham itu karena kamu terlalu baik menyibukkan diri mu dengan sekolahmu nak. Itu sangat bagus menurut ayah tenimbang prestasi kamu hancur karena ulah mamamu. Tapi sayang, malah kenyataan berkata sebaliknya . Malah ayah yang jadi alasan mu memperburuk nilai sekolahmu.”
Viko diam sejenak…
“lalu kenapa ayah tak menayakan pada Viko. Apa Viko siap untuk menerima ibu baru buat Viko?... kenapa yah?”
“ayah fikir kamu tak peduli dengan hal itu. ayah fikir kamu akan bisa lebih baik jika bundamu itu hadir diantara kita. Dan bisa mengganti peran ibu sesungguhnya dalam rumah tangga. Jadi tanpa meminta mu untuk menerimanya ayah memutuskan menikahi bunda mu sebulan setelah Nasya sadar. Karena alasan ayah menikahi bundamu juga karena Nasya mengira ayah ini ayah kandungnya. Selain itu juga ayah meinkahi bundamu karena ayah prihatin dengan keadaanya sebagai seorang single parent. Cukupkan jawaban semua itu untuk bisa memuaskan hati mu nak?...? lalu apa yang ingin kamu tanyakan lagi supaya kesalah fahaman ini tak berkepanjangan..”
Viko hanya bisa diam.. karena semakin tak enak dengan ayahnya, lalu ia berpamitan. Dan berkata,” Viko perlu menenagkan diri sejenak yah. Viko pamit dulu.”
“silahkan Viko semoga kamu mengerti. Dan bisa memahami suasana ini.”
Seusai percakapan mereka berakhir dan ayah kembali ke rumah. aku pun masih terdiam sejenak di bangku cafe. Karena masih tak yakin dengan apa yang ayah ucapkan. Mana mungkin ayah yang se sayang itu pada ku dan kak Nandar adalah anak tirinya. Apa aku ini bermimpi.? Bahkan saat aku pertama menyangka ayah itu adalah ayahku dia sama sekali tak mengelah. Dan selalu merawatku dengan baik. Tak terlihat seperti orang lain. Setengah jam aku merenung di tempat itu akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan tak sabar untuk menayakan hal ini semua kepada ayah dan bunda. Demi meyakinkan apa yang aku dengar tadi.
Syukurlah.. ayah dan bunda tak berada di depan rumah.. aku pun bisa dengan leluasa memasuki rumah. sesampainya di ambang pintu kamar ku ayah tiba-tiba mengagetkan ku dengan sapaannya itu,”Nasya!!...” baru kali ini ayah berusara agak keras pada ku
“emmmhhh iya ayah”, dengan penuh ketakutan karena takut ketangkap basah saat membututi ayah.
“kamu kemana aja sayang? Baru kali ini kamu pergi gak pamitan. Bunda kamu kawatir. Baru saja ayah coba telfon kak Nandar katanya kamu gak bersamanya. Untung kamu segera tiba. Sebelum Nandar pulang dari Mall.”
“maaf ayah tadi Nasya keluar sebentar. Oh iya bunda mana?”
Sebelum ayah menjawab bunda pun tiba-tiba datang menghampiri kami.
“Nak kemana aja kamu? Bunda bingung kamu kemana. Bunda kira kamu ikut Nandar atau bersama Zafran. Tapi setelah berjam-jam bunda coba hubungi mereka ternyata kamu tak bersama mereka. Bunda makin kawati kalo terjadi apa-apa sama kamu. Harusnya kamu pamit dulu sama bunda kalo kamu mau keluar.”
“maaf bun… yah…, tadi Nasya keburu jadi gak sempat berpamitan. Oh iya maaf ya yah.. bun.. Nasya lelah Nasya ingin istirahat dulu.”
Mereka pun mengizinkanku untuk memasuki kamar.



VII.           Yah.. Bun… siapa Nasya Sebenarnya?

Pagi telah tiba, di ruang tamu ayah bunda kak Nandar , kak Risty dan anaknya sudah berada di sana dengan kegiatannya masing-masing. Aku pun turut bergabung dengan mereka. Di suasana pagi yang tak se samai biasanya. Kini kami seakan saling berlomba untuk menghabiskan makanan kami masing-masing.  Seusai sarapan pagi ini kak Nandar sekeluarga seleasi lebih awal langsung berpamitan dengan ayah dan bunda untuk pergi ke tempat teman Kak Risty yang kebetulan juga tinggal di dekat kota kami. Tinggallah kami bertiga di ruang makan. Ayah kali ini mendapatkan tugas siang jadi agak bersantai untuk meninggalakan ruang makan. Dan masih sibuk dengan majalahnya. Bunda pun sibuk kesana kemari membereskan meja makan. Aku ikut membantunya. Di sela-sela kegiatan kami aku mulai memberanikan diri untuk bertanya kepada ayah dan bunda tentang apa yang kudengar kemarin.
“yah, bun, sebelumnya Nasya minta maaf. Kemarin Nasya pergi untuk …….” Diam sejanak,” mengikuti ayah bertemu kak Viko.”
Ayah yang semula santai dengan majalahnya pun langsung syok. Dan bunda yang tak tau apa-apa Cuma bisa diam menyimak.
“iya yah , Nasya penasaran sama keadaan kak Viko. Tapi akhirnya malah dengar ucapan ayah tentang Nasya yang bukan anak kandung ayah. Dan hal ini yang ingin Nasya tanyakan pada ayah dan bunda.”
Ayah pun meletakkan majalah dan kaca matanya di atas meja.
“hemmm.. baiklah.. hal yang sudah terlanjur terbongkar. Kenapa tak kita jelaskan pada saatnya.” Ucap ayah menatap lantai.
“yah?”seru bunda seakan ingin menayakan sesuatu.
“baik lah bun, ayah ingin katakana semuanya pada Nasya. Ayah takut akan terjadi salah faham lagi. Kalau ini benar mengapa harus merasa bersalah. Dan Nasya anak ku sayang. Memang benar kamu bukan anak kandung ayah. Namun kamu sudah ayah anggap seperti anak ayah sendiri. Bahkan lebih nak.”
Diam sejenak suasana kami di pagi itu. lalu aku bertanya pada bunda,”lalu kemana ayah bunda bun?”
“ayah kamu ada di Jawa Timur.”
“lalu kenapa ayah kandung Nasya taka da di saat anaknya terbaring koma?”
Bunda terdiam. Seperti tak mau menjelaskan. Namun aku berusaha mendesak bunda agar tau alasan sebenarnya.
“kenapa bun?”
Ayah pun angkat bicara,” karena dia tak pernah mengharapkan anak-anaknya lagi.”
“kenapa gak mengharapkan yah. Apa alasannya?”
“ayah juga tak faham. Dengan lelaki yang bisa berfikir jika lebih berat meninggalkan hartanya dari pada meninggalkan anak dan istrinya. Dia yang takut miskin karena menafkahi anak dan istrinya.” Tiba ayah dengan suara tegas mengucapkan itu semua. Lemas aku mendengar semua itu. aku hanya bisa terduduk di kursi ruang makan. Bunda sesegera memelukku. ayah merasa kecewa mengatakan ucapan itu. dan baru kali ini aku menatap ayah  meneteskan airmatanya. Lalu berkata,” maafkan ayah nak.. maaf… seharusnya ayah lebih bisa mengontrol kata-kata ayah.”
“enggak ayah benar dengan mengatakan sejujurnya. Aku tak mau hidup dalam kebohongan. Meski kenyataannya sangat menyakitkan yah.. “
Bunda pun menceritakan semua tentang ayah kandungku dan bagaimana mereka bisa berpisah. Karena kenyataan memang harus di ungkapkan meski demikian mungkin kebenaranya. Karena berbohong untuk menutupinya hanya menimbulkan kesalah fahaman yang berujung kebencian yang sulit untuk di jelaskan. Bahkan membuat kepercayaan hancur karena ego kita masing-masing.



VIII.         Surat dari Viko

Ting-tung…ting-tung….” Bunyi bel rumah membuyarkan pembicaraan kami di depan ruang televisi. Aku pun membukakan pintu, tak ada siapa pun di luar. Hanya ada sepucuk surat yang di tinggal di bawah pintu dekat kakiku menginjak. Aku pun peasaran. Lalu ku ambil. Di sana bertuliskan untuk ayah dari Viko. Tanpa ku lirik sedikitpun aku bawa surat itu untuk ayah. Ayah pun sesegera membacanya dengan posisi santai semula.
Seusai membacanya ayah meletakkan selembaran surat Viko di atas meja. Lalu ayah menunduk sedih. Menahan air mata. Aku yang penasaran dengan isi suratnya pun mencoba membacanya.
       Untuk Ayah….
Ayah, maafkan Viko  yah. Selama ini Viko menganggap ayah adalah dalang dari semua masalah Viko.  Ternyata Viko salah. Malah mama yang membuat keluarga kita hancur. Maaf yah Viko tak bisa kembali ke rumah. Viko butuh waktu untuk menetralkan semua perasaan Viko. Menetralkan semua keadaan ini. Agar nanti jika kiata bertemu kembali kita bisa kembali dengan keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Dan mungkin saat ayah membaca surat ini, Viko sudah berada di perjalanan menuju Singapur. Yah.. Viko menerima tawaran pertukaran pelajar di kampus yah. Selain agar bisa di sibukan diri di sana. Viko mungkin bisa lebih tenang dengan tempat yang baru. Viko minta doa ayah. Semoga nanti Viko bisa lulus dengan nilai terbaik Viko untuk ayah di Fakultas Kedokteran.

Hildan Viko Dermawan

“Viko”, ucapku dalam hati. Air mataku terlepas dari genangannya. Lalu aku mencoba menghindari ruangan itu. untuk menyediri di sudut kaki ranjang kamar ku. Aku menangis sejadi-jadinya di sana. Aku takut Viko melupakan ku. Aku takut hubungan kita benar-benar akan berubah menjadi lebih buruk lagi.





IX.               Kisah Akhir
“Baju ini bagus ya buat Natasya?”, ucapku menyodorkan baju bayi umur 1,5 tahun itu pas di depan tubuh bayi Viko yang sedang iya gendong.
“sepertinya bagus juga, bentuknya lucu. Dan warnanya… sepertinya dia suka..” balas Viko pada ku.
“baiklah kita dapat 4 pasang baju buat dia.” Sambil ku cium pipinya yang mengemaskan itu.
“sudahlah Nasya sayang!!... belanjaan kamu udah terlalu banyak. Baju udah, perlengkapan bayi sudah. Makanan sudah. Mau apa lagi, ini aja cukup. Kasihan bayi dalam perutmu itu.”ucap Viko kawatir.
“baiklah, kita pulang. Sebenarnya aku ingin cari sepatu dulu buat Natasya. Namun sepertinya aku juga sudah mulai capek.”
Sesampainya di kasir aku sodorkan kartu ATM ku. Dan kami bawa ke dalam mobil semua barang belanjaan kami.
Tasya yang lucu berada di kursi belakang  bersamaku. Dan Viko yang mengemudi mobilnya. Kami pun menuju perjalanan pulang. Disana perjalanan kami pun cukup menyenangkan karena candaan Viko.
“udah sampai rumah…” ucap Viko ramah.  
Zafran yang sudah menunggui ku di depan rumah pun langsung membukakan pintu mobil untukku. Dan menggendong Natasya.  Viko pun membawakan barang belanjaan memasuki rumah. di dalam ruang tamu pun di sambut oleh Elysa istri Viko yah si mama Natasya.  Yang blasteran Singapura Indonesia itu. lalu mengambil alih mengendong Tasya. Dan karena larut malam aku dan Zafran yang sudah datang ½ jam yang lalu di rumah ayah akhirnya membawaku untuk pulang. Yah setiap hari aku sering ke tempat bunda dan ayah sambil bermain dengan Tasya dan bercerita banyak hal dengan mamanya Tasya. Sampai Zafran menjemputku sepulang dari bekerja. Karena di rumah aku tak di bolehkan untuk berberes rumah oleh Zafran semenjak aku hamil. Takut aku terlalu lelah. Jadi hal yang terbaik adalah berkumpul dengan keluarga itu pun atas izin Zafran.
Dan tentang Viko. Viko kembali ke rumah papa setelah Elysa hamil 8 bulan. Dan memutuskan untuk tinggal di rumah seperti keinginan papa. Aku memutuskan menikah dengan Zafran setelah 1 bulan lahirnya Tasya. Dan memutuskan untuk langsung tinggal di perumahan milik Zafran.



Beberapa menit perjalan kami pulang aku yang tertidur pulas di kursi samping Zafran menyetir segera di bangunkan. Aku pun di gandengnya keluar. Yah tak seperti dulu sebelum aku hamil dia sering membopongku. Kini perutku sudah membuncit selama 7 hampir 8 bulan. Jadi tak mungkin dia melakukannya lagi.
Dan usailah kisah kami. Mungkin aku pernah mencintai Viko, namun memiliki dia bukan takdir yang Tuhan tuliskan. Namun aku cukup bahagia dengan adanya Zafran yang menjadi pilihan yang sangat tepat untukku. Karena selama ini dia menjaga ku dengan baik. Sampai aku tak bisa untuk memnbencinya. Bahkan rasa ku dengan Viko dulu tbenar-benar terhapuskan oleh perhatian Zafan yang membuat ku benar-benar jatuh hati padanya.


- The End -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Si Es Batu Yang Kian Mencair