Senin, 24 Desember 2018

MIMPI ANAK PENJUAL TALI



“Walah kang nek pancen ne ura kuat ngragati sekolah ki yo uwis . Tiwas kowe ngrekoso urung jamin bocah ki dadi opo sek di karep ke. Akeh uwong sek wes sekolah duwur, ning kae delok en anak e pak Wagiya juragan kayu akhir e yo ngangur to urung jadi pegawe. Gek nek awak e dewe ki wes wong ngrekasa urasah  ngimpi duwur-duwur. Tiwas ngrekasa medotke nyawa urung karuan anak mu mentas jadi pegawe ki.” Tutur Pak Martono adik bapak.
“Ealah ambokke kayo ngene kahanan e kae. Aku wes nekat kudu iso nyekolahke anak sak kuat ku. Ura ketang ketuk SMA. Anger e niat ing sun mugi Gusti Allah maringi kuat lan maringi Rejeki.”, Sahut Bapak menjawabnya dengan nada santai namun yakin.
“SMK ki gur podo karo SMP gek kang, opo mbok kira SMA ki duwur nek jaman sakiki. Gek mentok-mentok e mlebu Bangunan nek ura due hubungan. Kae anak ku lanang sek ura gelem sekolah, tamatan SD we malah wes mentas melu proyek bangunan ketok ngendi-ngendi malahan wes iso makani wong tua barang. Sak umuran to rakan nek karo Imran. ? wes neh gek kon melu anak ku Yogi wae malah karuan.”imbuh pak lik Martono.
“La nek aku ura koyo kowe sek milih mayar e No. Ugi aku dadi bapak wes wajib ku ngusahakke semaksimal mungkin ben anak kui bener-benr gayuh impian e.”, jawab bapak memantapkan keyakiannya.
“Oalah di kandani ben kepenak kok ura mener. Yo sak karep mu wae kang.”, balas Lek Martono mengakhiri percakapan.

Tak sengaja ku dengan percakapan mereka di balik dinding anyaman bambu kamarku. Sejenak terfikir dalam benak bagaimana rasanya jadi bapak yang mengelincirkan hati ku. Bapak ku yang semakin lama semakin renta, membuatku tak tega akan ego ku yang membuat bapak masih berjuang mencari rejeki untuk biaya sekolah dan hidup kami sekeluarga. Ingin sekali saat ini membuang jauh impian ku yang di lihat dari pandangan ekonomi kami sangat tinggi. Di dalam lemari mulai ku tengok sebuah misi ku kedepan untuk memasuki pendidikan di bangku SLTA. Kutuliskan dengan jelas misiku di sana . yaitu sebuah nama SMK faforit di kota kami. Ku baca dalam hati tulisan itu. Teringat rasanya jadi bapak yang berat jika harus mendukung impian ku. Entah mengapa tiba-tiba mentes deras air mataku, sampai kata-kata itu buram terlihat dari kedua mata. Hati terasa berat untuk memutuskan untuk menghapus impian itu. Sungguh tangan ini ingin meremasnya namun hati tak kuasa. Akhirnya hanya bisa ku lepas tulisan itu lalu menyimpanya kembali di bawah lipatan baju dalam almari.
………………………………………. 0O0…………………………………………..

Magrib telah tiba, seusai melaksanakan ibadah aku, bapak dan mamak (sebutan ibu orang jawa) berkumpul di atas tikar untuk menikmati hidangan makan malam. Dengan menu khas keluarga kami yaitu sambal bawang beserta temped an rebusan daun singkong bercampur daun papaya sebagi lalapan makan kami. Selama menyatapnya bapak membahas tentang pendaftaran sekolah. Aku yang merasa bersalah hanya bisa menundukan kepala.
Ibu pun mulai memancing ku supaya ikut bergabung dalam percakapan mereka,” Oh iya, pendaftaran ke SMK itu kapan lhe (sebutan sayang orang jawa memanggil anak laki-lakinya)?”.
“Kata pak Isnandhar tanggal 15 mak”, jawab ku singkat demi melegakan pertanyaan mereka.
“Bulan ini?,” bapak gantian bertanya.
“Iya pak,”
“Tenang lhe bapak masih kuat untuk menyekolahkan kamu,” ucap bapak meyakinkan ku.
Diam sejenak tanpa ada suara, hanya terdengar suara jangkrik di luar rumah.
“Jika ada niat Allah pasti kasih jalan nak, Bapak juga pengen kamu bisa bekerja di tempat yang layak yang enak. Engak seperti bapak, bukankah itu keinginan setiap orang tua untuk anaknya. Supaya anaknya sukses, bahagia anaknya adalah kebahagiaan orangtua juga. Suksesnya anak adalah tanda suksesnya orangtua juga. Jadi bapak juga musti berjuang bukan Cuma kamu yang berjuang lhe. Jadi biar disini bapak semangat kerjanya kamu juga disana nati yang giat belajarnya.” Ucap bapak sambil menepuk batang tangan ku.
Hampir saja airmataku menetes, untunglah aku masih bisa menahannya. Lalu kucoba tersenyum di hadapan mereka. Sehingga suasanya malam ini berakhir dengan tawa.
Dan dari amanat bapak itu lah semangat ku kembali terbangun. Juga mulai saat itu pula aku berjanji untuk tidak mengecewakan bapak juga mamak.
…………………..…………………..……..oOo………………………………………………..

Waktu pendaftaran SMK sudah usai, Alhamdulillah aku telah mamasuki sekolah impian ku masa SMP. Raut wajah bahagianya bapak dan mamak saat tau aku di terima di sekoah faforit ini masih  teringat jelas  di mata. Dan itu sangat ingin aku ingat sepanjang masa. Dan dari saat ini juga bapak bermisi keras dengan bekerja pagi-siang-malam demi mengumpulkan rupiah. Selain menjual tali dadung bapak berinisiatif untuk membuat kerajianan seperti tampah, tenggok, dan kerajinan lainnya. Dan mamak pun ikut mendukungnya dengan bekerja sebagai asisten rumah tangga di kota. Syukurlah rejeki kami mengalir memenuhi kebutuhan kami. Tak sia-sia usaha kami meski harus terpisah. Yang awalnya bapak sepi dengan dagangannya kini menjadi laris manis hapir setiap harinya. Di tambah dengan penghasilan ibu tiap bulanya sudah cukup untuk membayar sekolah dan membiayai kebutuhan hidup kami. Bahkan bisa untuk membayar uang kos ku. Selama 3 tahun bersekolah aku merasa trenyuh pada usaha mereka mereka demi aku. Aku pun ikut membantu dengan usaha ku di sela-sela kesibukan ku untuk bersekolah. Alhamdulillah ada kesempatan untuk bisa bekerja sambil bersekolah. Dengan berjualan cemilan yang aku beli kiloan lalu aku kemas menjadi cemilan dengan seharga seribuan. Modalnya pun aku dapatkan dari sebagian jatah uang saku perbulannya. Penjualanya pun cukup mudah tinggal aku titipkan dagangan ku di setiap kelas pada keesokan harinya. Lalu aku ambil kembali setelah istirahat. Dari kejujuran teman-teman sekolah Alhamdulillah usaha ku bisa membantu ku untuk meringankan orang tua ku. Alhasil bisa kugunakan untuk membayar modul (buku ringkasan pelajaran yang di buat oleh guru mata pelajaran yang di ajarkannya) juga membiayai kebutuhan kecil lainnya. Tanpa harus meminta bapak atau mamak. Setiap minggunya aku biasanya tak pulang seperti kawan-kawan lainya. Demi meminimalisir kebutuhan ku. Sangat jarang sekali kami (aku,mamak, dan bapak) bertemu. Terkadang rindu memang namun aku harus berfokus demi sekolahku dan harapan besar mereka.

…………………..…………………..……..oOo………………………………………………..
Masa SMK telah berlalu dengan di akhiri dengan kegiatan Wisuda dan pelepasan anak didik mereka. Kembali aku menatap tawa mereka menyambutku di rumah. mamak yang tak kuasa menahan tangis harunya memelukku dengan kasihnya. Akhirnya masa sekolah ku berlalu dengan membawa banyak ilmu juga nilai-nilai perjuangan dalam memperjuangkan suatu harapan besar kami. Di dalam rumah telah usai. Aku benar-benar lega bisa membawa nilai terbaikku di hadapan mereka. Kini giliranku untuk bisa sepenuhnya memberi yang terbaik kepada mereka. Menyadari keadaan kami yang serba kekurangan. Meski sangat ingin sekali melanjutkan pendidikan ku ke jenjang yang lebih tinggi. Aku harus tahan terlebih dahulu. Sampai aku bisa memperoleh biaya sendiri untuk kembali menganyam pendidikan di kemudian hari.
Belum seberuntung kawan ku yang lain yang sudah bekerja di sebuah Pabrik besar di Jakarta. Aku hanya bisa bekerja di sebuah percetakan kecil di kota. Karena bekerja di luar kota memerlukan banyak biaya terlebih dahulu untuk pergi ke sana. Dan keadaan ku belum mendukung saat ini. Maka itu aku memilih bekerja di kota terdekat. Dengan gaji 700ribu per bulanya. Untungnya ada mesh dan fasilitas makan dalam oleh percetakan tersebut. Juga di beri kebijakan libu 2x dalam sebulan. Dan yang membuat aku senang aku masih bisa mengirimkan sebagian dari gaji ku untuk orang tua di rumah. Meski pun belum seberapa namun, mereka merasa amat senang dengan sedikit usaha ku. Itulah hal yang membuat ku merasa amat di dihargai juga memotivasiku supaya aku bisa lebih baik lagi dari sekarang.
Suatu hari aku pulang kerumah. Menyadari makin lama makin terlihat rapuh gubuk kami ini. Membuatku berfikir untuk memperbaikinya. Namun bagaimana lagi dengan gaji ku selama ini belum bisa untuk ku tabung untuk memperbaiki rumah kami yang semakin rapuh. Sedih sekali merasakannya, memahami mamak yang sebenarnya ingin sekali membangun kembali kediaman ini namun belum ada biaya untuk itu. Juga melihat keadan bapak yang semakin lama semakin renta. Lalu menatap diriku sendiri yang masih amat tak berdaya. Membuat ku mengurungkan cita-citaku selama ini untuk menjadi seorang guru. Mengubur dalam-dalam. Dan mengubahnya untuk memprioritaskan keinginan orangtua terlebih dahulu. Hal ini membuat ku menerima tawaran dari Pak Marno beberpa waktu lalu. Yaitu tawaran untuk bekerja di sebuah proyek bangunan. Dari beberapa pertimbangan yang sudah saya fikirkan sebelumnya. Di sana saya bisa mendapat gaji lebih banyak terlebih ada uang lembur. Yang nantinya bisa aku gunakan untuk mewujudkan keinginan mamak dan bapak.

…………………..…………………..……..oOo………………………………………………..

Misi ku beberapa waktu ini Alhamdulillah telah lancar. Waktu pulang ke desa pun aku kurangi bahkan hamper tak pernah pulang. Demi mengumpulkan rupiah untuk membangun rumah. Alhasil beberapa material sudah mulai terkumpul di rumah. Sampai pembangunan rumah pun telah di mulai. Syukurlah dari 1 tahun usaha ku bekerja sebagai kuli bangunan membuahkan hasil berlipat. Selain bisa membangun rumah aku juga bisa menyisikannya untuk biaya kuliah kedepanya. Waktu siang sampai malam aku tekuni akhirnya bisa membuahkan hasil yang amat mengejutkan. Walau banyak tetangga yang memperolok selama itu. Dan menganggapku berfikir ,’besar pasak dari pada tiang’. Jelas saja mereka beranggapan serupa karena sebelumnya mereka sudah meperingatkan kami untuk tidak usah bersekolah di jenjang SLTA karena percuma menurut mereka. Karena pada akhirnya saya hanya bisa bekerja seperti tetangga-tetangga yang lain yang tanpa sekolah pun mereka sudah bisa bekerja. Dan menganggap keinginan ku terlalu tinggi untuk bisa meraih impianku. Tapi bagi kami pendidikan itu penting. Bisa merubah karakter setiap orang,  Selain itu kami juga percaya jika ada keinginan pasti ada jalan. Meski kita harus berjuang terlebih dahulu dalam menemukan jalan. Dan jalan kita tak selalu lurus. Ada jalan yang berliku yang musti kita lewati terlebih dahulu. Apa lagi di posisi saya seperti ini yang mesti berjuang berkali-kali lipat untuk memperjuangkan harapan kami.
Merasa ada peluang baru dari informasi yang diberikan oleh salah satu anak teman kerja ku pak Imam. Aku di satrankan agar di bawa Zainu agar turut bergabung bekerja di sebuah percetakan ternama di luar kota tempat anaknya bekerja. Zainu sendiri adalah salah satu karyawan lama yang sudah terpercaya di perusahaan tersebut. Sangat mudah sekali dia memasukkan seseorang untuk bekerja di perusahaan tersebut. Aku pun bisa di usulkannya untuk bekerja sebagai salah satu operator percetakan buku di sana. Dari situlah aku merasa menemukan suatu jalan untuk bisa menjalankan misiku beritunya yaitu, mengejar cita-citaku. Karena gaji yang di berikan juga cukup untuk bisa di bagi ke orang tuan dan bisa untuk menambah tabunganku sebelumnya untuk berkuliah.
Semakin lama semakin mereka melihat ada bakat tersendiri dari ku. Dan membuat mereka untuk memindahkan ku di posisi sebagai desainer di perusahaan tersebut. Dan Zinur yang sebulan setelah aku bekerja di sana menjabat sebagai asisten manager. Tak ku sangka dia mengusulkan ku untuk bisa mendapat fasilitas perusahaan untuk para karyawan yang berprestasi untuk bisa bersekolah dengan di biayayai perusahaan. Itu suatau kejutan besar dari Tuhan untukku ku. Tanpa menggunakan uang tabungan yang ku sediakan sebelumnya aku malah bisa bersekolah geratis dari fasilitas perusahaan.

…………………..…………………..……..oOo………………………………………………..

Dari jalan Tuhan yang lebih baik aku bisa melanjutkan pendidikan ku sekaligus bekerja untuk bisa memberi kiriman setiap bulannya untuk bapak dan mamak. Aku mengabil jurusan pendidikan TI di Universitas Terbuka di Jabar.  Membuat ku bisa membagi waktu ku dalam berkuliyah dan bekerja. Banyak keberuntungan-keberuntungan yang ku temui saat itu. Disana aku bisa lebih banyak mengenal banyak orang dari banyak kalangan. Dan memberiku banyak peluang juga wawasan yang membuatku lebih termotivasi lagi. Untuk benar-benar mengejar impianku.
3,5 tahun berlalu,
Akhirnya aku bisa menyelesaikan pendidikan ku dengan nilai yang cukup baik. Di kesempatan saya kali ini saya mendapatkan tawaran besiswa S2 di Salah satu Universitas di Bogor. Kali ini beasiswa di tawarkan dari Sekolah langsung. Jadi jika aku menerima tawaran tersebut aku harus mengambil cuti sementara dari perusahaan. Aku pun menerima tawara itu, karena kesempatan tak akan datang untuk kedua kali. Aku pun mengambil cuti sampai aku bisa menyelesaikan pendidikan ku.  Dan demi melanjutkan cita-citaku aku memilih bekerja Di sebuah lembaga prifat. Aku mendapatkan pekerjaan itu dari teman ku Renita mahasiswa yang belum terlalu lama ku kenal di Bogor. Dia mahasiswa berprestasi di jurusan MIPA. Aku mengenalnya saat kita sering tak sengaja bertemu di sebuah perpustakaan. Kebetulan waktu sering membuat kita makin mengenal satu sama lain. Dia baru menginjak jenjang S1. Kecerdasnya yang membuat dia dengan mudah mendapat job untuk mengajar di sebuah lembaga privat di Bogor. Aku benar-benar kagum padanya, Meski umurnya lebih muda dari ku namun wawasannya selalu membuat ku terpana oleh pemikirannya. Beruntunglah aku bisa mengenalnya.
Menganyam pendidikan S2 ku rasa sangat singkat sekali tenimbang sebelumnya. Bogor kini tinggal kenangan, singkat namun banyak cerita. Namun bisa menjadi bekal kun anti untuk menceritakan perjalanan ku untuk anak cucuku nanti. Kini aku kembali ke kota ku. Dengan membawa gelar ku. Kembali Tuhan memberi kejutan terbesar untukku. Yaitu sebuah kesempatan untuk bisa bekerja di sebuah Universitas Swasta di Ibukota tempat kelahiranku. Yah sekedar aku mencoba mendaftar lowongan di sebuah sekolah jenjang SLTA atau Universita. Ternyata aku di beri kesempatan untuk bisa di terima di salah satu universitas swasta di kota ku. Meski tak bersama Bapak dan mamak yang tetap tinggal di desa. Setidaknya aku lebih dekat dengan mereka. Dan bisa bertemu setiap minggunya. Dan Renita, masih sama aku tetap saling bertukar pengalaman melalui E-mail. Dia 1 tahun lagi Wisuda. Dia ingin sekali mengujungi desa ku. Melihat sawah dan ingin bermain lumpur adalah salah satu tujuannya. Yah wajar di kotanya hanya ada suasana perumahan. Tak seperti di desa yang sejuk dan mengasyikkan.
Kamis pagi aku  kembali ke rumah. Sengaja memang hari ini aku tak menginap di rumah mamak dan bapak. Karena terlalu banyak tugas yang harus aku selesaikan di esok harinya. Tak sengaja aku melihat sedikit keramaian di sebuah perempatan. Terlihat dari jauh ada 2 orang polisi yang sedang berbincang dengan seorang gadis seumuranku. Terdengar jelas perkataan mereka saat aku berada di antrian tempat pengecekan surat-surat kendaraan bermotor.
“Pak tolong pak jangan di bawa motornya.!! Nanti saya bekerja pake apa pak? Kalo saya gak kerja nanti saya perpanjangan pake apa?”, mohon wanita itu pada polisi yang ingin mengaman kan motornya.
“Maaf mbak sesuai aturan yang ada motor anda tetap harus kami bawa. Dan bisa anda ambil setelah surat-surat perpanjangan bisa anda urus dan ini surat tilangnya.”, dan polisi itu tetap membawa sepeda motornya.
Trenyuh melihatnya menangis aku pun menghampirinya. Dan mencoba berbincang padanya. Setelah selesai surat-surat sepeda motor ku di periksa.
“Kenapa mbak?”, tanyaku padanya.
“Itu mas, motor saya di sita. Padahal saya belum ada uang buat bayar itu. Baru saja saya dapat kerjaan, tapi ada-ada aja. Malah transportasi saya di sita. Nani saya jalan pake apa mas?”, jawabnya dengan wajah tak menegakan.
Aku pun mencoba berbicara dengan polisi yang masih berada di sana. Akhirnya motornya bisa langsung di urus. Aku pun mengantarkannya di kantor yang di anjurkan oleh para polisi itu untuk memperpanjang surat sepeda motor milik wanita itu. Entah hatik umerasa tergerak saja untuk bisa membantunya. Padahal dia tak ku kenal sebelumnya. Setengah hari aku gunakan untuk kegiatan itu. Tapi merasa lega saja bisa membantunya. Tanpa rasa kecewa aku pun baru bisa meneruskan perjalananku ke tempat tinggal ku di desa.

…………………..…………………..……..oOo………………………………………………..
2 Tahun setelah kejadian itu berawal (bertemu dengan gadis itu). Aku semakin lama semaki kenal dengannya. Karena merasa berhutang budi dia meminta nomor ponselku waktu itu. Dan membuat kita sering kontakan melalui handphone. Kita dekat dari itu, banyak hal yang membuat ku trenyuh dari kehidupannya. Aku banyak mencari informasi tentangnya dengan banyak bertanya dengan orang-orang di sekitarnya. Kehidupannya membuat ku sering memfikirkannya dan kawatir padanya. Entah mengapa perasaan ku terlalu berlebihan padanya. Renita bahkan dia yang ku kagumi tak membuat ku sekawatir dan serindu  ini saat aku jauh darinya. Padahal 1 tahun yang lalu kami bertemu saat aku menghadiri wisudanya. Rindu padanya hanya seperti rindu dengan seorang sahabat. Namun gadis ini?... Benar-benar mencuri hatiku seketika.
“Ah… sudahlah kini aku harus pulang, Dan memberi kabar gembira untuk bapak dan mamak.”, ucap ku kemudian setelah sadar dari lamunan ku memfikirkan gadis itu.
Sesampainya ku di rumah, bapak yang tek menyangka anaknya pulang segera meletakan kegiatannya menganyam tampah. Dan mamak pun segera menghampiri ku di ruang tamu. Kami berbincang di sana. Dengan suasana hangat seperti yang sering aku nantikan bersama mereka. Bapak duduk santai sambil memegang sebuah rokok desa di kursi depanku. Dan mamak setelah mengambil the hangat mengambil tempat duduk di sampingku.
“Pak-mak aku punya kabar gembira. Aku ada tawaran emas lagi . Namun kali ini lebih jauh, dan sebelum meng iyakan tawaran ini aku minta ijin sama emak dan bapak. Aku dapat tawaran study ke Luar Negeri melanjutkan S3 aku. Namun ini lebih lama dari sebelum-sebelumnyamak/pak.” Ucap ku meminta ijin pada mereka.
“Kalo bapak setuju-setuju saja nak, jauh dekat itu sama saja. Mamak bapak setuju-setuju saja. Yang penting kamu nya. “ jawab bapak yang selalu mendukungku.
Emak hanya diam saja, menatapku agak tak iklas jika kami berjauhan lagi.
“lalu bagaimana dengan emak?”, ucapku memahami sifat emak.
“emak mah ngikut keputusan bapak le”, ucap emak kemudian.
Diam sesaat
“jika mamak dan bapak merestui aku berangkat tahun depan pak.”imbuhku melengkapi
Belum ada tanggapan iklas dari ibu dari percakapan kami. Esok paginya ibu mengiyakan permintaan ku di kamar ku. Dia pun memelukku. Seperti yang ku duga, ibu merasa keberatan karena tak ingin jauh-jauh lagi dari ku. Beliau merasa makin tua.  Beliau takut jika nanti tak bisa melihat aku lagi.

…………………..…………………..……..oOo………………………………………………..

Kini perjalanan ku menjawab semua ketakutan emak itu salah. Aku yang masih melanjutkan study di Jepang bersama Istriku Lyla (gadis yang kena tilang waktu itu). Aku menikahinya sebelum aku berangkat ke Jepang. Aku mengajaknya berpetualang mengejar impianku. Sedangkan bapak dan mamak Alhamdulillah sehat-sehat saja di rumah. Mereka berpindah profesi menjadi bertani setelah aku bisa membeli ladang di daerah ku. Dan Renita, dia sempat mengungkapkan rasa pada ku sebulan sebelum kami menikah. Sungguh aku tak menyangka dia memendam rasa pada ku. Karena setelah wisuda dia memiliki pacar. Yaitu Zanu  seorang pengusaha muda di kota Bogor.  Zanu juga seorang yang membuat kehadiranku di wisuda Renita tak berarti lebih. Terakhir aku tau Renita putus denganya karena Renita tak siap menikah dengannya. Lalu memilih untuk melanjutkan study di Yogyakarta. Di Universitas ternama di sana. Dari sana lah Renita bisa menemui ku dan mengungkapakan perasaannya. Namun sayang waktu telah berubah. Aku tak mungkin merubah keputusanku untuk meneruskan jalan yang sudah ku pilih sebelumnya. Hingga kini lama aku tak mendengar kabarnya.
Sama sekali aku tak menyesali dimana hatiku pernah di patahkan Renita kemudian bisa membuka lembaran-lembaran baru untuk Lyla. Lyla merupakan obat mujarab ku. Dia wanita terhebat di mataku. Meski dia tak berpendidikan tinggi seperti Renita namun dia sangat cerdas. Dan senang bertukar fikiran dengan ku. Bahkan dia senang belajar danterus belajar dari apa yang aku pelajari. Aku pun senang dang orang yang suka belajar dan memiliki keingin tauan yang lebih sepertinya. Dan hal inilah yang membuatku lebih termotifasi dalam mencapai impianku di sini. Yang lebih aku kagumi dari Lyla dia sangat rajin beribadah. Dia juga pandai bersyukur. Sering malahan aku belajar tentang ketulusan dan keiklasan dari hatinya. Dia bagai pengingatku untuk mengingat Tuhan. Darinyalah aku tau kesempurnaan sebenarnya. Dan bersamanyalah aku selalu merasa menjadi manusia paling bahagia. Tanpa harus mencari yang istimewa. Tanpa meminta menuntut apa pun. Senyumnya lah yang mengajarkanku akan kesederhanaan itu. Terimakasih Tuhan untuk Lyla dan mimpi ku “Anak Sang Penjual Tali” .



Si Es Batu Yang Kian Mencair