Jumat, 03 November 2017

ARSITEK MANJA

Arsitek Manja
Oleh: ES Arini


1.      Pindahan
Tak  sengaja ada selembar kertas lipat berwarna merah tua terjatuh dari selipan buku catatan Farla ketika ia membereskan rak buku kamarnya. Dengan penasaran ia menggambilnya. Dan mulai membacanya.

** Nov 2011
Jika ku tuahkan amarah ku waktu itu
Mungkin benda-benda didepaku takkan sanggup lagi berdiridi hadapanku
Jika kata-kata kesalku ku ucapkan pada waktu itu
Mungkin saja tak akan ada satu orang pun dapat berkata
Kesal kecewa apalah itu
Sungguh masih terasa hingga saat ini
Sesekali aku harus mengingatnya
hanya membuat ku makin berkobar tak tertata
Kesal ingin berontak
Tapi tidak!..
Meski kuku ini seakan memanjang
Lalu meruncing setajam-tajamnya
& ingin rasanya mencengkeram
Tapi itu bukan sebuah penyelesaian
Walau…
Teringat  kejadian benar-benar
Membosankan,
Enyah enyahlah sudah!!!!!....
Aku ingin melupakan hal yang suram
Melepaskan rasa dendam

Ttd.
Farla

Setelah mengngejanya ia mulai mengingat-ingat alasan dia menuliskan kalimat tersebut. Setelah mengingat sejenak mulailah bayang Farlah kembali ke kejadian beberapa waktu lalu.
 ‘.... “Farla, bisa bicara empat mata dengan mu?”
“iya, ada apa?”.
“gak usah pake basa-basi ya, langsung aja pada intinya. Kamu taukan belanjaan bahan cucian kemarin?dan kamu jugakan yang ngecek semua barang yang datang?”
“iya bener”
“nah lalu kamu kasih kemana itu nota-nota barangnya?”
“saya kasih ke tempat biasa setelah pengecekan pak”. dengan wajah mulai pucat karena ketakutan.
“ya coba kamu cari saya tunggu disini”
Sejenak Farla mencari di tempat biasa ia mencari. Ia bolak-balik semua berkas nota ternyata tak ada secarik nota yang ia cari. Panik pun makin mengguncang. Wajah pucatnya pun mulai terlihat makin jelas. Ditambah dengan kedatangan Pak Galih yang tiba-tiba muncul di belakang pundaknya. Rasa-rasanya jantung Farla berdetak lebih cepat dari biasanya.
“ gimana sudah ketemu?”
“aduh pak se ingat saya saya taruh disini, tapi kok gak ada ya pak?”
“lah notanya warna apa saat itu mbak?” Dita tangan kanan Galih ikut menyambung percakapan.
“waduh gak terlalu memperhatikan warnanya mbak. Apa ya? Pink kali.”
“coba cari lagi!kurang teliti kali.” Dita nyahut dengan suara ketus.
“gak ada mbak, tapi seinget saya kemarin di taruh disini sama mbak Diana. Biasanya kita kan naruh nota-nota sebelum di input Cuma di satu tempat ini.”
“loh gimana sih?”
“kemarin sih saya ngeceknya sama mb Diana pak.”
“oh.. jadi Diana yang bawa ya?ya udah saya coba tanya dia.”
“bukan pak, bukan itu maksut saya. Bukan di bawa mbak Diana.”
“bukan gimana wong notanya gak ada di tempat biasa. Itu masalahnya penting buat pendataan dan buat bukti, gak bisa tledor gitu. Jika ada harga yang beda bisa buat tanda bukti buat salesnya.”
Tak sengaja Farla menatap wajah Dita mengejeknya saat itu. Hati Farla pun mulai menciut. Juga marah karena merasa di remehkan.
“mana mungkin sih bisa gak ada.” Dita mulai berkata.
“coba Dita kamu cari kembali berkasnya!!!..” Galih memberi tugas.
“kok bisa sih...!!” oceh Dita sambil membolak-balikkan berkas datanya.
Tak lama sesudahnya, ternyata barang yang di cari pak Galih telah ada pada penjepit data yang telah ia kerjakan. Dengan  wajah agak malu ia tak berani menatap Farla. Malah mencoba mengubah tema pembicaraan dengan mencoba bercerita dengan Galih tentang hal yang lain. Farla yang masih ada di ruangan tersebut pun hanya mereka diamkan. Farla yang mulai merasa dipermainkan akhirnya keluar meninggalkan ruangan tersebut. Dengan keadaan marah karena di fitnah. Tetap dengan keadaan marah dan merasa disudutkan. Tak kuasa ia menumpahkan air matanya. Di luar ruangan ia bertemu dengan teman kerjanya langsung saja ia menangis dan mencurahkan isi hatinya. Namun tanpa sengaja Galih muncul pas di belakangnya. Ia yang mengira Galih mendengarkan semua ceritanya ia tambah ketakutan. Takut jika Galih salah paham lagi dengan apa yang ia ucapkan kepada temannya. Dengan gelagapan ia mencoba menjawab pertanyaan Galih. Namun hanya kata takut lah yang keluar dari mulutnya. Galih pun percaya, ia langsung meminta maaf. Farla yang semakin terharu di hadapan Galih. Tak lama kemudian ia  mencoba mengendalikan dirinya tapi tetap saja air matanya tak dapat terbendung. Lalu Galih pergi dari hadapannya. Awalnya Farla mengira dia pergi untuk memberi waktu Farla agar dapat menenangkan diri dari masalah. Namun ternyata tidak, Galih di belakang malah menjelekkan Farla dan menganggap Farla terlalu lebay. Dan karena kecewa terhadap tuduhan kotor itulah Farla menulis kata-kata marah itu. ....’
Tersadar dari lamunannya. Farla pun tersenyum dan berkata,” ya apun ternyata kejadian itu masih teringat walau sudah 2 tahun lamanya. Benar ya selain kejadian yang amat membahagiakan ternyata kejadian yang menyakitkan lebih tak mudah terlupakan bahakan masih seakan nyata di depan mata. hemz... masa lalu, ada-ada aja.”
“Farla!!!...”
“iya buk.”
“sudah beres-beresnya?”
“belum, sebentar lagi bu.”
“ya sudah di tinggal aja dulu, kemari ada yang nyariin itu..”
“siapa buk..?” sambil beranjak keluar dari pintu kamar.”Kak Danu”. tersenyum riang menatap sosok pria di depan matanya.
Sesosok pria berbadan sedang gaya ala kantoran lengkap dengan jam tangan krepyek mengenakan kemeja warna biru tua sedang seukuran badan juga bercelanakan jeans hitam itu membalas dengan senyum ramah khasnya.
“Oh iya kenapa harus repot-repot kemari?” tambah Farla memulai pembicaraan.
“kenapa harus repot-repot, sebaliknya aku malah seneng bisa jemput kamu dari sini, sekalian bisa pastikan kalau kamu aman sampai tujuan.”
“sejak kapan kakak ku ini bisa ngegombal seperti ini?”. gurau Farla sambil mendekat ke arah Danu.
“Mas Danu kenapa harus repot-repot kesini, Farla yang di jemput aja belum selesai beres-beresnya”.
“iyakah bu, berarti dia gak on time, kemarin dia bilang kalo jam 12 paling dah mulai berangkat ke kota. tapi ini jam setengah 11 masih membereskan kamarnya.”
“bukannya gak on time tapi karena barangnya aja yang susah di bereskan.”
“alah alesan.”
“Farla mah gitu mas..”tawa mereka melesat kamudian.
Setelah mereka membereskan rumah dan menyediakan barang-barang yang akan di bawa. Segeralah mereka berangkat menuju ke kota. Menggunakan mobil Avanza milik Danu. Farla duduk bersama Danu di depan dan ibunya berada di tempat duduk belakangnya. Dalam perjalanan ibu dan Danu banyak bercerita, Farla yang sibuk dengan Laptopnya Cuma bisa sedikit menyimak mereka.
Sampailah Pada Tujuan. Di perumahan sederhana yang sedang namun aman dan hening. Itulah salah satu tempat favorit Farla. Di dalam kota namun tak terlalu ramai. Jauh dari kebisingan jalanan. yaitu tempat tinggalnya yang baru, bersama ibunya. Tersadar telah sampai di tujuan Farla pun mencoba membereskan laptopnya, dan mulai berajak mengeluarkan barang-barangnya dalam bagasi mobil. mereka bekerja sama dengan baik dalam memboyong barang-barang itu menuju rumah. seusai membawa barang terakhir Danu berseru,-
” Wauww.... akhirnya selesai juga... lumayan ya barang bawaan mu. untung gak semua rumah kamu bawa ke tempat mu yang baru. gak kebayang kalo semua kamu bawa, ini aja dah lumayan bikin ngos-ngosan.”sambil becanda mencoba memeriahkan keadaan.
“Namanya juga pindahan, piknik kali  bawa seperlunya aja.” balas Farla sambil menjulurkan lidah ke Danu.
2.    Suasana Baru
Tibalah pagi yang hening, suasana sunrise masih tergambar di atas sana.  Hingga matahari yang masih malu-malu mulai mengintip di balik bumi belahan timur. Burung-burung kian berterbangan menyambutnya. Embun yang sejuk turut menambah nuansa sejuk pada pagi yang masih hening, di atas daun juga terlihat butiran-butiran embun yang masih nyaman melekat. Di tempat yang baru Farla menyambut pagi yang beda dari biasanya. Dulunya ia yang tak dapat menatap embun langsung dari jendela kamarnya kini ia dengan leluasa dapat menatapnya. Dulunya yang tak bisa menatap langsung aktifitas burung saat menyabut pagi, kini ia dapat menatapnya dengan puas.
“Alhamdulillah Ya Allah, kini aku dapat menikmati apa yang pernah ku impikan.“ Sambil merbahkan kedua tanggannya. 
“ini semua karena Kakak.” Imbuhnya tersenyum mengingat jasa Danu. Susai menatap suasana di luar ia balikan badan menuju ke kamar mandi.
Di ruang lain ada ibunya yang sudah duluan berada di dapur. Sajian sarpan telah tersedia pada tempatnya. Ada kue tawar lengkap dengan selainya 3 macam (coklat,nanas, dan kacang) dan imbuhannya keju dan meisis. Tak lupa juga dengan segelas air teh yaitu minuman tradisi keluarganya. Pada saat ibunya sedang menuangkan air teh kedalam cangkir, Farla pun muncul masih dengan handuk yang ia balutkan di kepalanya.
“habis sholat subuh langsung tidur lagi?, emh... anak ibu rajin sekali.”
“TIDURNYA...hehemmm,,, ia buk maaf gak bisa bantu ibu pagi ini.” Sambil memeluk pundak ibunya dengan manja mencoba meminta ampun. Tanpa menunggu aba-aba ia pun langsung menarik roti yang telah tersedia di meja. Lengkap dengan pendampingnya langsung Farla lahab. Juga  meneguk secangkir teh hangat di depannya.
“Kamu ini mah kebiasaan.”Jawab ibu seusai menyiapkan sarapan. “oh iya bagaimana dengan besok sudah kamu siapkan semua?”
“iya sudah lah bu. Desain-desain dan bahan untuk presentasi besok juga sudah siap, jadi tinggal santai aja hari ini. Kemarin-kemarin udah aku siapkan sampai lembur.”
“Baguslah kalo begitu. Terus rencana hari ini, mau main dengan nak Danu?.”
“umhh... Untuk hari ini aku gak ada acara sama dia buk, udah bosen di kantor ketemu terus. Libur dulu boleh dong.”
“kalo bosen kok masih seneng kalo di ajak main bareng?.” goda ibu.
“hehemm.. Oh iya ibuk pengen kemana? aku siap anterin ibu kemana aja hari ini.”
“ya udah kalo begitu kita beli kebutuhan dapur aja di pasar? Mau kan?”
“oo siyap ibu, Farla siap 86.”


Dalam suasana kantor yang kondusif. Terlihat sebagian orang sedang memegang komputer, sebagian ada yang sibuk mondar-mandir menyiapkan berkas,juga OB yang siap sedia mengantarkan minuman. Tiba-tiba muncullah Danu dari pintu masuk dengan wajah sumringah.
“Selamat siang semuanya, kabar bahagia untuk semua. Hari ini proyek kita suskes di setujui oleh perusahaan besar itu. Akhirnya desain kita disetujui dan telah di tandatangani oleh pemilik perusahaan besar di kota. Dan semuanya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh perusahaan tersebut.”
Sontak semua karyawan yang menyimak kabar tersebut turut berbahagia.
“Yes!!.akhirnya !!Akhirnya kita menggarap proyek besar kali ini. Mungkin ini langkah awal kita untuk merubah nasib perusahaan menjadi lebih baik. Akhirnya ide-ide kita di akui juga.”ucap salah satu karyawan mengungkapkan rasa bahagianya.
“Baik, semangat buat kalian semua! Kita mulai kerja keras dari hari ini. Sukses semua semoga kita lebih maju.” Imbuh Danu sebelum meninggalkan ruangan.
“Siap mas!!!”.jawab mereka serentak. Tentu saja kabar pagi itu menamabah energy kita untuk bangkit kembali.
“oh iya saya tunggu kehadiran kalian semua nanti sore sebelum pulang, di ruang rapat untuk mendiskusikan proyek ini.”
“siap mas”.ucap mereka serentak.
Tak lama seluruh karyawan pun duduk di ruang rapat, kemudian tibalah Farla. Dan disusul oleh Danu. Di dalam sana mereka sedang mendiskusikan tentang proyek yang akan mereka kerjakan nanti. Tak lupa juga Danu menegaskan tentang alasan pemimpin besar itu akhirnya mau bekerja sama dengan perusahaan kecil miliknya. Hingga membahas siapa saja yang akan di utusnya untuk pergi ke luar kota. Seusai rapat para karyawan pun kembali keruangan masing-masing. Tinggallah Farla yang masih membereskan berkas denah buatanya yang masih di atas meja. Bersama Danu yang duduk tersantai di sampingnya.
“Farla, terimaksih. Semua ini berkat karya desain mu. Itu sangat unik, baru kali ini si bos besar itu setuju dengan proyek dari kita. Berkali-kali pengajuan ku sebelumnya ditolak. Tapi kali ini kita berhasil memikat hatinya. Dan itu berkat kamu. Terimakasih banyak.” ungkap Danu  saat turun tangan membantu membereskan berkas-berkas milik Farla.
“Ini berkat kerja sama kita semua. Dan aku beruntung karna telah bergabung dengan perusahaan ini.”
“Begitukah?...emmhh...tapi mengapa desain lain tak di pertimbangkan, bahkan sudah ku tawarkan berkali-kali dengan ide yang berbeda. Tapi milikmu malah langsung membuatnya terpikat. Dan bodo ya? mengapa Karyamu  dulu tak ku ajukan terlebih dahulu. Buang-buang waktu bukan? Kalo tau seperti ini aku harusnya tak meremehkan karya orang tanpa tau terlebih dahulu bagaimana kemapuannya.”,diam sesaat menyesali,” Cuma gara-gara ide orang lain yang katanya pandai. aku menomer duakan karyamu.”imbuhnya mengakui.
“Makanya, jangan memandang orang itu hanya dari sebelah mata. Dan ya sudahlah yang terpenting kita sudah menarik perhatian mereka agar bisa bekerja sama dengan kita bukan?, dan buat aku jangan terlalu berlebihan. karena semua ini juga berkat kerjasama kita semua. tanpa kalian desain ku bukanlah apa. Karena desain yang bagus tanpa adanya presentasi yang bagus, itu belum bisa menarik perhatian orang. oke kalau begitu saya rasa suasana sudah mulai petang, dan waktunya kita kembali dan menyiapkan tenaga buat rencana proyek itu.”
“baiklah. sukses untuk proyek kita nanti..”
insyaAllah.”

Akhirnya senja kembali hadir bersama semburatan lukisan alam yang begitu menawan. Magic hour terlihat menawan di angkasa. kali ini mereka baru saja pulang dari tempat kerja. Mungkin agak sorean sedikit. Farla yang baru saja menunggangi motor bebeknya tiba-tiba di sapa oleh seseorang  yang tak lain adalah Danu. dari jendela mobil yang ia tunggangi.
jangan lupa nanti malam ya.!!!”
sambil tersenyum malu ia berkata,”siap pak.”


Sial jalanan kali ini macet, entah ada suatu hal apa yang membuat jalanan macet sepagi ini. Danu dan Farla yang tergesah-gesah menuju bandara tak sabar mulai mencari tahu tentang apa yang terjadi di luar sana.
“pak-pak-pak ada apa sih di depan?... kenapa kendaraan di depan tak maju-maju.?”
“Oh.. itu pak, ada truk besar yang bawaannya tumpah memenuhi jalanan.”
“ya ampun ada-ada aja, kita bakalan telat ini.”
“sabarlah kak, kayaknya sebentar lagi juga lancar kok.”

Setelah menunggu agak lama mereka pun akhirnya dapat meneruskan perjalanan mereka. Kali ini mereka telat ½ jam dari jadwal landasan pesawat yang mereka tunggui. Melalui lobi penjemputan mereka mondar-mandir mencari seseorang yang mereka cari. Dari balik sekian banyak orang belum juga mereka temukan. Hingga mereka pun memutuskan untuk menuju ke kantin bandara, dengan harapan seseorang itu singgah di sana. Belum juga mereka temukan. Satu panggilan Handphone masuk menggetarkan saku kanan Danu. Danu yang tersadar segera mengangkatnya. Tak lain itu adalah temannya.
“hallo, kamu dimana?aku muter –muter gak nemuin kamu, maaf tadi jalanan macet jadi agak telat.”
“iya ini aku di kantin bandara..”, tak sengaja mereka bertatapan saat Zakky membalikkan badannya.
“hey...” Danu berteriak sambil melabaikan tangan. Zakky pun berdiri lalu sesegera menghampiri Danu yang sedang berada di sebelah Farla.
“apa kabar kawan?oh iya btw dari tadi aku nelfon in kamu lo. ”, sapa pria tampan itu (Zakky) sambil memeluk kawan lamanya.
“baik-baik. oh iya, maaf tadi ribet banget di jalan , bising macet lagi.”
“oh iya, kenalkan ini temanku Farla, dan Farla ini temanku Zakky.”
“Farla.”
“Zakky.”
“Oh dia ya yang sering kamu ceritakan waktu lalu,” tanya Farla.
“Tepat sekali, ya dia ini yang sampai sekarang belum bisa move on lo.” jawab Danu.
“belum move on apa sih? ..ah kamu ini, itu kan privasi. tapi ya sudahlah udah terlanjur, toh diakan teman dekat mu juga. Jadi aman." sahut Zakky.
Selanjutnya mereka bertiga menuju mobil dan menghantarkan  Zakky beserta barang bawaannya ke tempat tinggal Zakky. Sambil menikmati segelas kopi kemasan botol. Mereka berbincang-bincang manis membahas tentang pengalaman Zakky di luar negeri. Suasana riang pun meledak pada saat itu juga.


Pagi ini Danu mengajak Farla jalan santai di taman kota. Lengkap dengan baju olah raga mereka asik berdua. Mengobrol bersama, membicarakan omong kosong. Tentang pengalaman konyol. Hingga mereka berbicara lebih jauh. Saling terbuka satu sama lain. Hingga bercerita tentang makanan yang di sukai dan tidaknya mereka.
 “.. Kamu tau enggak aku paling gak suka itu dengan buah delima, dia enak sih tapi dia juga pernah membuatku sakit. Jadi gak suka aja sampai sekarang.” Ucap Farla.
“Oh ya. Aku juga gak terlalu suka. Dia terlalu masam. Dan yah gak enak aja di lidah..”Tanggap Danu.
“Oh iya ngomong-ngomong tadi kamu bilang kalo kamu pernah gitu di benci orang dari awal kamu jumpa. Masak sih ada yang benci kamu bukannya kamu itu orangnya suka konyol ya?”
“Gobal aja terus?. Ya,, pernah, dan ujung-ujungnya dia suka bikin masalah sendiri, didiamkan dianya malah makin merendahkan, di ladenin dianya malah makin menjadi. Tapi sudahlah lupakan. Itukan gak penting ya  namanya anak ABG hal sepele di jadikan masalah yang menguras emosi. Bukankah itu buang-buang waktu?.”
“oke faham kok. Dan bagus memang lebih baik di lupakan.buang-buang waktu, karena pantasnya hal buruk bisa di jadikan pembelajaran untuk kedepannya supaya kita lebih dewasa lagi. Dan dari situ kamu jadi lebih bisa menghadapi saingan dengan lebih sabar lagi bukan?.”
“Ya. mungkin. Karena bagi aku sekarang yang penting aku bisa mengusahakan untuk memberi yang terbaik.”
“sangat bijak.” Sambil tersenyum bangga menatap Farla.
Diam sesaat,
” ehmm... Kamu tau Zakky kan?”, Tanya Danu kemudian
“eh’em..”
“dia teman yang amat baik, dia itu orang yang paling aku kagumi dari teman-teman ku yang lain.”
“oh begitu. Terus ?.”
“Yah..yah aku kagum sama dia. Dia mandiri dari kecil. Dia sukses karena kerjakerasnya sendiri. Dia itu bukan anak dari keluarga yang royal. Yah kalangan menengah. Dan dia kerja keras semenjak ibunya sakit-sakitan dia yang baru lulus SMP. Berusaha berusaha keras buat mendapatkan dana sekolah geratis. Tanpa memfikirkan dunia remajanya waktu itu. Memang dia anak seorang pegawai, guru lebih jelasnya. Tapi apa daya dengan gaji pegawai yang tak seberapa. Harus membiayai pengobatan yang begitu tinggi di mata mereka. Semua itu tak cukup. Terpaksa Zakky harus mencari jalan lain agar tetap sekolah tanpa memberatkan ayahnya. Ayahnya pun harus mencari rizky lain. Dan ia tak bisa berdiam diri dan berusaha membantudengan usahanya sendiri. Nekad memang. Kamu tau dia berusaha sebagai apa?”
Karena tidak tau Farla menjawab dengan menggelengkan kepala.
“Sebagai pengamen jalanan. Nekad banget dia. Tanpa sepengetahuan ayahnya juga ibunya. Aku aja syok pernah menemuinya dalam keadaan serupa. Namun bagaimana lagi demi ibunya tercinta. Apapun akan ia lakukan. Dan rutinitas sehari-harinya seusai sepulang sekolah ia merawat ibunya, lalu menjalankan aksinya yang nekad itu. Hingga aksinya itu berlanjut di jenjang SLTA, dan kemudian terbongkarlah aksinya itu saat salah satu guru melihatnya sering berada di sebuah jalanan. Yang kemudia ayahnya sendiri tau jika anaknya menjadi seorang pengamen. Yah memalukan memang bagi seorang anak pegawai menajadi seorang pengamen. Sedikit konfilik pada saat itu. Yang akhirnya membuat orang tuanya luluh karena alasannya. Semenjak itulah dia tak melakukan kenekatannya lagi. Ia lebih berfokus untuk mendapatkan nilai terbaik demi mendapat kan beasiswa. Demi meringankan biaya keluarganya. Tak ia sangka dia malah mendapatkan kesempatan untuk study ke luar Negeri dengan geratis atas prestasinya. Namun dia bingung. Karena pada saat itu juga penyakit ibunya semakin parah. Tentu saja dia tak tega meninggalkan keluarganya. Namun, ibunya mendesaknya untuk mengambil kesempatan emas itu. Dan demi permintaan terakir ibunya, ia harus berangkat. Karena ibunya ingin dia sukses dengan apa yang sudah ia usahakan. Berjuang dan mengidam-idamkan sebagai dokter spesialis kanker. Mungki ibunya tak tau, bahwa cita-cita sesunggunya adalah karena dia ingin sekali menyembuhkan ibunya. Selama study disana ia jarang bahkan hampit tak meminta uang saku dari ayahnya, karena  ia sudah mandiri disana. Ya bekerja sambil berkuliah. Bahkan sampai dia tak pernah bisa pulang di setiap tahunnya. Setelah beberapa tahun study di sana. Dia pun berhasil meraih gelar sarjananya. Kemudian saat-saat mebahagiyakan itu berada di depan mata dengan membawa gelar sarjananya. Tak di sangka, setiba dirumah. Ia harus menerima kenyataan kalau ibunya telah tiada sejak masa pembuata skripsi. Harapan besar Zakky untuk bisa membantu mengatasi masalah ibunya kini pupus sudah. Bukan tawa bahagia yang tumpah pada saat itu. Akan tetapi tangis yang meradang. Mimpi yang tak bermakna. Yang membuat dirinya benar-benar rapuh pada saat itu. Sempat Zakky marah dengan semua keluargany terutama ayahnya. Karena mereka tak memberi kabar di saat ibunya benar-benar kritis. Makanya dia sering pergi mengabil kesempatan untuk pergi keluar negeri. Demi membunuh rasa kecewa dan amarahnya.”
“Ternyata kita gak pernah tau ya? Orang yang kita lihat sukses gagah pada saat ini ternyata itu hasil dari banyaknya terpaan kenyataan pahit dari masa lalunya. Awalnya aku kira dia ini ya seperti orang pada umumnya yang mendaptkan keberuntungan. Tapi aku salah, ternyata dia mempunyai pengalaman yang begitu menyesakkan yang membuat dirinya  bisa berdiri sekokoh ini.”
“ya Begitulah. Dari pengalaman pahitnya itu dia bisa setangguh ini. O iya coba deh kamu perhatikan jika dia bertemu dengan seorang ibu iya pasti memberikan perhatianya yang sangat baik. Jarangkan pemuda seumuran dia seperti itu.”
“yah salut aku dengan dia.”
 “salutan mana sama aku?”
“Dia dong kak. Becanda aja kamu.”
“ya udah kamu pacaran aja sama dia?”
“lo kok gitu? Cinta itu tak memadang siapa dia kan?, baik atau tidaknya seseorang itu tak menjadi masalah bukan? Yang terpenting bisa membuat saling memperbaiki diri juga saling memberi kenyamanan satu sama lain. Untuk meraih kebaikan bersama.”
“Ohhh... Begitu ya?” Sambil mencubit hidung Farla.
Perbincangan merka dilanjutkan dengan kejar-kejaran menuju tempat parkir sepeda motor mereka.


3.    Pengalaman pertama presentasi
Dalam suasana Bandara, saat para penumpang menyebar keluar dari pintu pesawat. Dengan bergantian mereka turun dari tangga pesawat. Hingga terlihat giliran Farla bersama tiga rekan kerja yang lain mulai turun. Dengan wajah agak gugup, Farla memikirkan tentang bagimana presentasinya besok pagi. Jelas saja Danu tak mendampinginya kali ini. Karena harus mengurus proyek lain yang kebetulan dalam waktu yang sama. Yang nantinya baru akan disusul di kemudian hari. Dan ketakutanya ini membuatnya agak gagap saat menanggapi basa-basi dari Pak Toro kepercayaan Pak Wisnu (nama Presdir di Perusahaan besar itu). Tak lama kemudian langsung saja mereka di antar menuju hotel besar di pusat kota. Mereka yang baru datang di persilahkan  untuk beristirahat. Agar dapat mempersiapkan diri untuk presentasi besok pagi. Mereka yang juga mulai letih karena perjalanan 2 jam ke kota. Membuat kami ingin segera merebahkan diri di atas sofa bersama. Anita dengan wajah sumringah terlihat girang merauk slimut tebal hotel itu. Dan berkata,”kita beruntung.”
“selamat kak Anita, dan aku harus benar-benar mempersiapkan diri sendiri kali ini. Besok pertama kalinya aku harus mempresentasikan desain ku. dan pertamakalinya juga berhadapan dengan pengusaha besar di negeri ini. Ya ampun aku terlalu pesimis.”
“aduh dasar Arsitek Manja. Maunya aja di temenin mas Danu terus. Tapi enggak aku percaya kok kalau kamu pasti bisa. Dan proyek ini benar-benar akan lancar nantinya.”
“Aaminn.”
Ting… (suara pesan WhatApp masuk).
Pesan Masuk Danu [Selamat Farla, akhirnya kamu bisa juga menginap di hotel termahal itu]
Balas Farla [ yeh, jadi kak Danu Cuma mau kasih selamat aja ni ke Farla? Gak nanya dulu gimana keadaan Farla?]
Scrool pesan WhatApp di atasnya
Pesan Ibu 5 menit yang lalu [ nak kamu dah sampai belum?]
Jawab Farla [Alhamdulillah sudah bu.]
Balasan Danu [ :) kalo dari balasan pesan mu. Aku dah bisa menyimpulkan kalau kamu baik-baik saja. Lain halnya kalau kamu tak membalasnya dalam waktu yang cukup lama.]
Pesan untuk Danu [ o jadi kalo nanti Farla balesnya lama. Kira-kira kakak kawatir dong?]
Balasan ibu [ ya Alhamdulillah kalo gitu. Semoga lancar ya nak.]
Balasan Farla ke ibu [Aamin. Makasih atas doanya ya bu]
Danu [ itu kamu tau.]
Farla [ J okey.. ]
Danu [ selamat malam, semoga rapat besok lancar.]
Farla [ aamin.]
Berakhirlah obrolan singkat mereka. Dengan menyisahkan senyum di antara keduanya. Hingga terlelap.


Pagi yang menegagkan pun tiba. Farla dan Anita sudah mempersiapkan diri untuk pertemuan nanti. Dalam kamar hotel Farla mencoba melatih diri untuk presentasi di depan kaca berulang-ulang. Anita yang masih sibuk dengan kosmetiknya juga turut sedikit memberi masukan untuknya.
Waktu sudah menunjuk pada jam 08.00. mereka berempat pun bergegas untuk hadir di ruang yang sudah di anjurkan sebelumnya. Mereka harus menaiki lift untuk dapat sampai disana. Sebelum memasuki ruangan itu kami di persilahkan untuk masuk dan duduk pada tempat yang sudah di atur sebelumnya. Ruangan yang begitu berbeda telah menyambut mereka disana. Di dalam ruang rapat terlihat sebuah pemandangan pantai kota. Dari jendela kaca yang sangat luas. Di sini agak tak terlalu gersang karena di teras samping ruangan terdapat beberapa tanaman yang memberi sedikit suasana sejuk. Juga mempercatik ruangan. Dan dinding batu marmer yang di kolaborasikan secara apik dengan tempelan dinding kayu olimpik warna gelap. di sela-sela kesibukan kami menatap ruangan rapat pak Wisnu, datanglah 4 orang yaitu tiga pria dan 1 wanita berjas rapi. Mereka adalah pak Toro, pak Erland (manager keuangan yang masih muda), pak Egy, bu Clara. Dan terakhir pak Wisnu sendiri.
Tiba tiba ponsel berbunyi Ting.. pesan dari Danu [ semoga lancar la. Kamu pasti bisa!!]
Tak sempat membalas pesan Danu. Farla hanya bisa mengintip pesan dari time line ponselnya. Karena ia sesegera mematikan ponselnya untuk memfokuskan diri pada rapat yang akan berlangsung.
Ternyata pertemuan ini tak terlalu semengangkan seperti yang Farla fikirkan sebelumnya. Di ruangan tersebut terasa hangat. Mereka juga berwajahkan ramah dan optimis. Yang membuat diri  Fala sedikit percaya diri.
Seusai presentasi dan penjelasan tata ruang desain hotel baru juga tentang gambaran rencana pendanaan bahan bangunan. Mereka berlanjut ke lokasi dimana bangunan akan berdiri. Yang letaknya itu sedikit jauh dari keramaian kota.  Dan itu memakan 1 jam perjalanan. Mengunakan mobil.
Di dalam mobil mereka semakin dekat dengan pak Wisnu. Ternyata pak Wisnu sangat ramah dan bersahabat. Padahal di luar beliau terkenal sulit untuk meluangkan waktu. Namun ternyata bekerja sama denganya itu tak seburuk dari apa yang terfikirkan di benak Farla sebelumnya. Buktinya saja pak Wisnu senang berbasa-basi bercerita sedikit tentang pengalamannya pada waktu muda dulu. Dan asalnya yang tak lain adalah dari kota Farla, juga di besarkan di kotanya sampai dia merantau dan sesukses ini.
Rasa gugup Farla semakin lama semakin menghilang setelah mulai ngobrol santai dengan pak Wisnu. Pak Wisnu banyak memberi dukungan pada mereka ber empat. Karena ide desain itu sangat menarik. Dan memiliki nilai daya tarik yang sangat bagus. Dan hal itu membuat merka lebih percaya diri. Dalam mengerjakan proyek yang akan berlanjut ini. Hingga mereka mendapatkan kenyamanannya.
Karena gedung itu akan di dirikan di pinggir kota. Disana mereka bertemu dengan sebuah lahan beberapa hektar yang masih kosong namun tanpa ada pepohonan. Di dekat pantai juga masih tersisa batu terjal. Datarannya juga cukup tinggi sehingga suasana kota yang menjolok ke pantai terlihat jelas disini. Suasananya masih seperti pedesaan namun jalan raya masih mudah ditemukan disini. Pohon-pohonan yang rindang pun masih terlihat gagah di samping-samping lokasi. Dan menariknya mereka dapat melihat batuan pantai yang masih kokoh di tengah-tengah laut. Bersamaan dengan burung-burung penghuni pantai yang masih tinggal di sekitaran sini.
Disana Farla mulai mengelilingi lahan. Mulai memilah-milah sudut lokasi yang cocok untuk meletakan sudut pendirian bangunan rancangannya. Setelah menemukan sudut yang cocok dengan beberapa alasan yang menarik. Akhirnya Farla mejelas kan kepada pak Wisnu tentang bagaimana rancangan bangunan nati akan didirikan. Kegiatan itu berlangsung sampai sore hari. Dan pak Wisnu pun setuju dengan ide-ide Farla. Namun ada sedikit pembenahan yang harus di perbaiki. Dan itu selanjutnya menjadi tugas Farla untuk presentasi ke akhir.
Pak Wisnu yang tiba-tiba harus terpaksa meninggalkan Farla dan rekan kerja lain. Akhirnya tak bisa mengantarkan mereka untuk kembali ke hotel. Waktu terus berjalan, sampai mega berubah warna menjadi sembura kemerah-merahan. Tersadar hari sudah mulai petang akhirnya pak Toro mengajak mereka untuk kembali ke hotel. Dalam perjalanan menuju pulang terlihat gambaran alam begitu indahnya terlihat di depan mata di sepanjang perjalanan kembali. Sepintas ia mengandaikan jika saja Danu ada bersamanya. Pasti magic hour kali ini lebih menarik.
“la kamu ngapin senyum-senum sendiri?”, Tanya lirih Anita saat menengok Farla yang kelapasan tersenyum menatap jendela mobil.
“enggak, ingat kak Danu aja.” Jawabnya di sela-sela senyumnya.
“ciehh… Farla. Baru sehari gak ketemu aja udah kangen.” Goda Anita.
“apa sih kak.”
Sesampinya di hotel barulah Farla menyempatkan diri untuk membuka ponsel miliknya. Di sana sudah ada beberapa pesan yang masuk . yaitu dari bundanya yang selalu menanyakan keadaannya. Juga memberi doa-doa terbaik untuknya. Selain itu juga terdapat pesan dari Danu. Yang isinya tak lain adalah motivasi ala motivator ala Merry Riyana. Farla baru bisa membalas pesan itu satu-persatu.
Ke esokan harinya. Tibalah Danu seorang diri di sebuah bandara. Kali ini ia agak terlambat. Danu yang terburu-buru hanya sibuk dengan ponselnya, tanpa menghiraukan suasana di sampingnya. Dia pun langsung menuju ke area mobil yang ia pesan. Untuk pergi menuju hotel pak Wisnu. Yah hari ini adalah rapat akhir untuk penggarapan hotel paling bergengsi itu.
Desain dan bahan yang tadinya harus di benahi sudah di acc oleh pak Wisnu melalui e-mail tadi malam. Dan hari ini akan di adakan pemutusan akhir rancangan dan juga star awal penggarapan proyek.
Di dalam ruangan rapat kini lebih banyak orang dari rapat sebelumnya. Di ruang hampir semua sudah siap di bangku masin-masing. Meraka duduk dengan berjaskan rapih. Danu yang baru hadir langsung menuju bangku yang sudah di sediakan sebelumnya. Tak lupa dia pun menyapa ramah mereka yang sudah hadir di ruangan. Lalu merapikan jas yang ia kenakan dan mengambil posisi duduk yang nyaman.
“sudah lama?”, ucapnya lirih kearah Farla dan teman-temannya.
“iya mas lumayan, tumben telat?”, jawab Zio dengan agak mendekatkan wajahnya di samping telinga Danu.
“iya, tadi jadwal landasan agak mepet”, jelas Danu.
“Cieh senyam-senyum. Ngeliat yang di tunggu-tunggu dah datang.” Goda Anita melihat senyum tipis Farla.
“apa sih kak”, balas lirih.
“oke selamat pagi semuanya,” sambut pak Wisnu yang sudah hadir di ruangan.
Berlangsunglah rapat hari itu hingga selesai.
Beberapa hari ke depan Danu berada di hotel itu untuk berdiskusi proyek dengan pak Wisnu. Walau  dalam tempat yang sama mereka sudah tak memiliki waktu luang seperti biasanya untuk berbincang santai. Kebersamaan mereka sedikit terhalang oleh kesibukan pengarapan proyek besar ini.


99% sudah proyek itu berlangsung. Farla yang begitu semangatnya menegerjakannya selama ini. Tanpa menyia-nyiakn waktu untuk bersantai. Kembali  bernafas lega karena telah berhasil mengerjakannya hingga sejauh ini. Tinggal beberapa penambahan properti lain untuk melengkapi tata ruang dalam hotel besar itu sehingga selesai. Pak wisnu amat sangat puas dengan hasilnya. Yang katanya unik dan cocok dengan harapan pak Wisnu. Juga memiliki nuansa modern yang tak jauh juga dengan nuansa khas tradisional daerah sini. Suasana alam nya pun tak terlalu hilang dengan gedung modern yang di bangun. Namun bentuk modernnya sangat terasa. Dan itu bisa menjadi ciri khas untuk menambah daya tarik para wisatawan untuk lebih menikmati suasana yang berbeda dari tempat lainnya.


4.    Lunturnya Kepercayaan & Tibulnya fikiran Negatif
Beberapa tahun ini memang Farla tak terlalu menghiraukan kegiatan lain selain pekerjaannya. Karena saking nyamanya dia mengerjakan proyek ini sampai hubunganya agak rengang dengan Danu. Wajar saja selama penggarapan proyek Danu harus kesana kemari untuk mengerjakan tugas di kotanya dan pemantauan juga hotel pak Wisnu. Juga mengurus beberapa pekerjaan dengan proyek lainya. Yang selama ini selalu membuat Farla dengannya sulit tuk bertemu. Sesudah proyek Farla di kota besar ini selesai, ia sudah di tunggui oleh proyek baru di kota asalnya. Yang lumayan cukup besar.. Tentu saja kesibukannya makin bertambah. Dan waktu luang itu hampir tak ada sama sekali. Apa lagi hanya untuk berbincang di ponsel. Bahkan pulang ke tempat tinggalnya pun dia cuma seperlunya. Juga mengabaikan waktu santai bersama ibunya.
Waktu luangnya yang singkat pun ia penuhi untuk mendesain denah. Sampai-sampai dia selama ini tak terlalu menghiraukan pesan Whats App dari Danu atau teman lainnya. Hanya what App soal pekerjaan yang ia tanggapi. Bahkan saat ada waktu bertemu dengan Danu pun cuma sekilas di kantor itu pun dalam membahas proyek. Sedikit waktu luang yang ada pun tak ia gunakan untuk bertemu secara pribadi dengan Danu di tahun-tahun menyibukan ini. Saat bertemu sebentar dalam acara pun Farla hanya fokus dengan laptopnya. Sangat sibuk.
Di keadaan yang membuat keduanya agak menjauh. Membuat Danu merasa kesepian dan merindukan sosok Farla yang kekanak-kanakan juga sering merepotkan Danu saat akan melaksanakan presentasi. Ia rindu sosok Farla yang sering bertanya banyak hal dengannya.
Hingga tiba lah dalam titik dimana rasa perhatian itu mulai luntur. Yang timbul karena kurangnya komunikasi juga prasangka buruk.
“Ini waktu longgar lo. Apa kamu tetap tak mau meluangkan waktu walau hanya sebentar?,” ucap Danu yang tiba-tiba muncul di depan meja kerja Farla.
“Eh kak Danu. Iya ini kak nanggung sebentar lagi.” Jawab Farla masih sibuk dengan laptopnya.
“ya udah jam istirahat aku tunggu di kantin ya.” ucap Danu lalu meninggalkan ruangan.
“oke kak.”jawab singkat Farla.
Selang setengah jam Farla pun datang.
“maaf kak. Agak lama ya. tanggung masalahnya.” Ucapnya sambil menarik bangku pas di samping Danu.
Danu yang sudah menghabiskan 1 gelas minumnaya hanya bisa menjawab dengan sabar.”iya, engak papa.”
“oh iya kakak mau pesan apa?”
“oh iya ini aku dah pesen minum duluan. Abisnya kamu lama.”
Melihat minuman Danu yang sudah habis Farla menengok jam tangannya. Tersadar sudah ½ jam lamanya Danu menunggu ia pun dengan penuh rasa menyesal berkata,“ya ampun maaf ya kak. “
Danu hanya bisa tersenyum menatap Farla. Lalu menjawab,”oke. Tidak masalah.”
“ makasih kak. O iya kakak mau pesen apa? Biar aku yang pesenin.”
“em .. pesan menu seperti biasanya aja.”
“Oke kak.”setelah tau apa yang hendak ia pesan Farla pun memesankan manu makanan di meja kasir kantin.
Tak lama kemudian makanan pesanan mereka datang. Dengan sedikit waktu mereka berbincang. Tak henti-hentinya ponsel Farla berbunyi. Atas nama pak Wisnu, Danu yang tau hal itu bertanya,”kenapa enggak di angkat?”.
“umh.. nanti aja kak kan baru istirahat. Kalo Farla angkat nanti Farlanya gak makan-makan.” Ucap santai Farla.
“entar di kira menyepelekan lo.” desak Danu mengingatkan.
“ahh engak tadi udah Farla kasih tau. Untuk menghubungi Farla sehabis jam 1. mungkin pak Wisnunya lupa.”
“oh gitu.” Agak ragu. Mengingat pak Wisnu yang super sibuk di matanya Danu berkata,“ emmh…. bukannya pak Wisnu itu orang yang sibuk ya?”
“emh iya..”
“kok sempat-sempatnya dia menghubungi kamu?”. diam sejenak merangkai kata yang pas untuk bertanya,”atas dasar apa?”
“emhh itu aku belum tau kak. Kemarin terakhir beliau tanya soal konsep yang pernah aku ceritakan di sela-sela pengarapan proyek di kota itu. Nah mungkin dia tertarik makanya menghubungi Farla lagi.” Jelas Farla kepada Danu sambil makan.
“owh..” jawab Danu sedikit tak percaya.
“oh iya kata pak Wisnu juga dia ada lahan di sini. Mungkin saja dia ada rencana untuk buat usaha di sini. Apa lagikan di kota kita ini udah mulai banyak para wisatawan yang berminat untuk berlibur di sini. Mungkin itu alasanya.”
“ya semoga cuma untuk itu saja alasannya.” Ceplos Danu.
“maksut kakak ?”,
“ah… enggak kakak hanya becanda aja.” Balas Danu mengendalikan suasana hatinya.
“owhh. Kirain kakak Negatif thinking.” ucap Farla tipis agak tersinggung.
“emh .. hem,, engak. Habis ini aku harus mengunjungi proyek jembatan bersama Wira. Dan setelah itu aku punya waktu luang yang banyak. Mungkin nanti kita bisa pulang bersama.”
“hehem.. kakak ini gimana. Nantikan jatah aku buat bertemu klien untuk perencanaan pembuatan perumahan. Berangkat jam 2. Dan gak tau juga nanti aku pulangnya jam berapa. Karena harus datang ke lokasi lahan.”
“owh gitu. Emh… hemm. ya udah lah lain kali saja kalo begitu.”diam agak kecewa,”nanti kamu dengan Anitakan?”
“iya seperti yang sudah di rencanakan di awal. Juga bersama Gio.”
“oke, sukses ya buat nanti.”
“iya, makasih.” Tersadar jam menujuk di jam 1 pas.
Farla pun bergegas untuk meninggalkan kantin. Tak lupa Danu yang masih santai di sana terpaksa ia tinggalkan. Seusai berpamitan dengan Danu ia sesegera menyiapkan berkas-berkasnya untuk persiapan nanti jam 2. Pas saat berberes selesai. pak Wisnu kembali menghubunginya. Perbincangan di lanjutkan di lobi kantor sambil menunggu rekan kerja dan mobil untuk mengantarnya di lokasi bakal proyek berlangsung.
Di balik kaca dalam kantor terlihat Danu menyimak gerak-gerik Farla. Farla yang terlihat ramah dan santai berbincang dengan pak Wisnu di Ponsel membuat muka Danu agak kusut.
Tiba-tiba muncullah sosok Anita yang membuat Danu sedikit salah tingkah.
“loh mas Danu engak keluar sekalian. Mau ke proyek jembatan kan bersama Wira?”
“ahm.. ini masih ada berkas yang harus aku ambil di dalam.”
“owh .. ya udah mas aku duluan ya?”
“oh iya.. silahkan.”
Setiba Anita di dekat Farla. Selesailah perbincangannya dengan Pak Wisnu di ponsel.
“telfonan sama siapa La?” tanya anita penasaran.
“ini kak sama pak Wisnu.”
“wah kayaknya akan dapat job lagi ini?”
“iya semoga saja. dan kayaknya job kali ini hampir sama dengan proyek yang kemarin di kota.”
“Wah bagus dong. bisa tambah maju perusahaan kita.”
Mobil yang di kemudikan Gio sudah tiba. Mereka pun menghampirinya. Dan segera menuju ke tempat tujuan.


Beberapa bulan kemudian. Akhirnya pak Wisnu tiba di kota Farla. Pertemuan kali ini melibatkan Farla dan pak Wisnu saja. Di sebuah Restoran dekat bandara mereka membicarakannya. Pertemuan awal mereka ini belum di ketahui oleh Danu. Karena mereka baru membahas secara pribadi rencana ini. Mengingat proyek yang di kerjakan Farla belum selesai.  Pak Wisnu ingin membicarakan secara empat mata terlebih dahulu. Karena ke pulangan pak Wisnu sementara ini adalah untuk berlibur sejenak. Jadi untuk rencana kerjasama lebih lanjut akan di rundingkan di waktu yang akan datang. Sambil menunggu proyek Farla selesai. Karena dia ingin Farla berfokus dengan proyek besarnya nantinya. Baru ia akan merundingkan kerjasamanya dengan perusahaan Danu. Yaitu untuk mendirikan hotel di lahan yang sudah di bicarakan dengan Farla baru-baru ini. Di tengah-tengah pembicaraan mereka pak Wisnu berkata,
“makasih ya la, sudah meluangkan waktu di sela-sela kesibukan mu.”
“oh tidak masalah pak. Justru saya sangat senang bisa kembali berdiskusi dengan bapak.”
“oke-oke, baguslah kalo begitu.” Sambil tertawa santai.
“oh iya sebenarnya, saya belum menghubungi Danu utnuk proyek ini. Karena saya baru menunggu kesimpulan kerja sama saya dengan rekan kerja saya yang juga turut bergabung dengan rancangan tempat wisata ini. Dan itu baru akan kami bicarakan kembali setelah nanti dia melihat langsung lokasinya. Bisa jadi nanti proyek ini pun lebih besar dari proyek sebelumnya. Makanya saya belum berani menghubungi Danu secara langsung. Dan yang pentingkan saya sudah memberi aba-aba agar kamu punya gambaran untuk proyek itu dari sekarang. Ya agar besok kamu mempunyai rancangan desain yang lebih matang.”
“oh jadi itu alasannya ya pak?. emhh.. baiklah.”
“o iya kamu punya waktu longar hari ini? Karena saya akan sedikit memperlihatkan gambar-gambar lokasinya.”
“iya pak pokoknya hari ini saya khususkan waktu longar saya untuk mendiskusikan proyek ini dengan bapak.”
“baiklah. O iya seharusnya hari ini adalah waktu liburan buat kamu ya?.(sambil meminum kopinya) tapi salut, kamu terlihat begitu bersemangat dalam proyek ini. Kalo saya lihat kamu ini benar-benar berbakat. Dan juga smart.”
“emh ..bapak bisa aja.yah,, saya merasa nyaman dengan apa yang saya kerjakan pak. Jadi selama ada peluang untuk mengerjakan apa yang saya senangi. Mengapa di sia-siakan?. Kan gak ada alasan untuk menolaknya.”
“emhh hehehmm.. berarti kamu berbakat di bidang ini. Dan orang-orang seperti kamu ini lo yang bagus jadi contoh untuk generasi selanjutnya.”
“makasih pak, tapi itu terlalu berlebihan. Banyak juga kok para arsitek muda yang lebih baik di luar sana.”
“ya bisa jadi, tapi yang saya tau kamu layak menjadi yang terbaik di antara mereka.” Puji pak Wisnu memastikan kekagumannya dengan semangat Farla.
Pertemuan Farla dan pak Wisnu berlangsung hingga hampir sore. Di rumah sudah ada Danu yang menunggui nya dari beberapa jam yang lalu.
“Assalamu’alaikum”, (sedikit kaget saat melihat Danu sudah terduduk di bangku ruang tamu). “loh.. kak Danu.” Ucap Farla yang agak kaget melihat Danu yang tiba-tiba ada di rumahnya.
“Wa’alaikumsala”, jawab ibu dan Danu kompak.”ehm iya la. Baru pulang?”, ucap Danu agak layu.
“iya kak. Ehem.. udah lama?”
“hemz.. iya begitulah. Apa kamu gak baca pesan aku?”
“pesan.?”
Danu hanya tersenyum tipis menanggapi Farla.
Farla yang penasaran pun sesegera menemukan ponselnya di ranselnya. Dengan wajah agak panic dia membaca semua pesan Danu. Ternyata Danu menghubunginya berkali kali. Dan terdapat pesan.[ La kamu di rumah engak aku main ke rumah ya?] scrool pangilan tak terjawab .
“dan aku putuskan buat kesini.” Ucap Danu kemudian.
“maaf kak aku tadi baru ada urusan. Jadi engak sempat buka-buka ponsel. Soalnya ponsel ku pada mode diam.”
“yah gak papa. Tapi tumben kok kamu gak cerita ke aku kalo kamu ada acara?”
“emh iya soalnya medadak kak. Sebenarnya belum sempet ngabarin aja.”
“emhh.. gitu..” diam sejenak. “tadinya aku mau ajak kamu keluar, tapi sepertinya sudah sorean.”
“emhh.. ya udah. Ayok kalo gitu?...”
Meski sedikit lelah Farla memaksakan diri untuk memenuhi keinginan Danu. Karena tak enak beberapa kali dia menolak keinginan Danu.
“ yakin?”
“kok ngomong gitu? Ya yakin lah. Kalo tidak aku dah suruh kakak pulang dari tadi.”
Senyum Danu sedikit mengembang mendengar candaan Farla.
“bu aku pamit lagi ya bu. Assalamu’allaikum.” Pamit Farla menuju dapur menemui ibunya.
“Wa’alaikumsalam. iya-iya. Hati-hati ya nak.”
Mereka pun akhirnya pergi ke tempat ajakan Danu. Yaitu di sebuah café baru di kota ini. Disana tersedia banyak menu menarik. Farla yang sedikit lelah tak terlalu bersemangat memilih menu makanan seperti biasanya. Hanya menyerahkan semua menu pada Danu. Danu yang merasa tak seperti biasanya hanya bisa mengendalikan diri untuk menutupi suasana suntuk di hatinya. Berulang kali pun Danu mencoba mencerahkan suasana. Dengan menceritakan tenaga-tenaga proyeknya yang konyol. Namun semua itu tak terlalu di respon oleh Farla. Tentu saja efek lelah membuat kosentrasi Farla buyar. Namun Danu mengira Farla malah sudah berubah. Hingga akhirnya suasana berubah menjadi sunyi. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Sesampainya di depan rumah Farla langsung  berpamitan.
“emhh la aku langsung aja ya. nitip salam buat ibu.”
“oh kakak nggak masuk duluan?”
“ahh enggak. Aku juga ada urusan.”
“emhh.. baik lah kalo begitu.” Sambil senyum dengan Danu.
Danu pun langsung melajukan mobilnya menuju rumah. di rumah Danu sedikit gelisah memikirkan sikap Farla yang sudah tak seperti dulu. Dia masih terbawa prasangka buruknya. Dia pun mulai menebak-nebak, alasan apa yang membuat Farla menjadi agak tertutup dengannya.
“hemzz.. Zakky sibuk engak ya? ,” ucapnya sambil mencari kontak WhatApp Zakky. “emhh iya sebentar lagi waktu sholat. Mending nanti aja abis Mahrib sekalian.” Tambahnya mengurungkan niatanya.
Setelah sholat ia pun kembali mencari kontak Zakky. Lalu menghubunginya. Nuut..nuutt. text memanggil berubah menjadi bordering. Syukurlah ponsel Zakky aktif.
“Halo Assalamu’alaikum. “ sapa Zakky setelah nada sambung berhenti.
“Wa’allaikumsalam. Kik.” Balas Danu.
“iya Dan tumben kamu telfon?”
“iya Kik, hehemm...”
“kenapa?”
“enggak lo sibuk nggak.?”
“enggak sih ini baru aja abis praktik. Kenapa Dan, mau cerita apa? Tumben lo kamu hubungi aku. Kalo ngak ada hal yang mendesak gitu kamu jarang banget hubungi aku kan?”
“gak gitu juga, aku kalo mau hubungi kamu itu fikir-fikir dulu. Kan kamu super sibuk di luar negeri.”
“hahaa.. iya juga sih kan waktu kita juga selisih 1 jam. Belum juga kesibukan kita di waktu yang berbeda. Sulit juga sih cari waktu luang.” Sambil tertawa geli.
“Kik sebenarnya apa sih alasan cewek itu berubah?”
“haha…haaa.. nggak salah kamu Tanya ke aku? Akukan orang gak tau banyak hal soal cewek. Punya cewek satu aja ninggal in aku.”
“yah.. kamu kan pernah punya pengalaman gitu. Jadi barang kali tau, alasan cewek itu berubah?”
“gini ya Dan, emhh aku bener-benar gak terlalu faham dengan perasaan cewek. Tapi kalo kamu Tanya masalah pengalaman aku, ya.. dulu aku di tinggalin karena dianya lebih memilih orang yang lebih mapan dari aku. Tapii.. itu aku. Eh.. tunggu-tunggu, jangan-jangan kamu ada masalah sama Farla?”
“a… emhh iya Kik sedikit.”
“ gimana ya Dan. Jangan salah faham dulu dengan ucapan ku. Karena setiap orang kan berbeda-beda. Kalo kamu Tanya pengalam ku ya itu jawaban ku. tapi semua orang gak gitu juga kok. “
“lalu bagaimana, kalo kita sama Kik.”
“aku sih Cuma bisa nyaranin. Sebelum kamu tau keben“
“lalu bagaimana, kalo kita sama Kik.”
“aku sih Cuma bisa nyaranin. Sebelum kamu tau kebenarannya lebih baik kamu cari tau dulu kebenarannya. Kalo kamu Cuma mikirin perasaan mu itu nggak adil. Saran saya lebih baik kamu cari tau dulu kebenarannya. Kalo kamu Cuma mikirin perasaan mu itu nggak adil. Karena fikiran buruk kita sendiri juga bisa menipu kita. Dan bisa menghalangi kita supaya mengabaikan kebenarannya.”
Danu terdiam sedikit merenungi amanat Zakky.
“jangan sampai ya Dan kamu kemakan sama prasangka buruk mu sendiri. Takutnya kamu nanti menyesal.”
“oke makasih ya Ki katas saran mu.”
Perbincangan mereka berdua berlangsung agak lama. Dengan di sambung saling memberi kabar tentang pekerjaan masing-masing. Juga sedikit bercerita tentang pengalaman mereka.


Pagi hari yang cukup indah. Masih dengan kesibukan masing-masing di dalam kantor. Farla dan Danu agak memiliki waktu yang longgar kali ini. Dalam sebuah taman kantor Farla terlihat sedikit sibuk dengan laptopnya. Bersamaan dengan segelas coklat hangat dia melihat-lihat foto-foto desain hotel. Sampai membuka banyak tab jendela crome dan semua di penuhi dengan model gaya desain interior gedung model saat ini. Dengan di dampingi oleh beberapa  buku interior. Dengan posisi nyamannya Farla mencari-cari inspirasi di teras kantor. Seperti biasanya tempat itu menjadi pilihan tempat untuk mencari inspirasi jika bosan di dlam ruangan kerja. Selain itu dari teras kantor yang di desain dengan banyak tanaman yang apik membuat nya sedikit rileks. Juga sedikit bisa menatap suasana luar.  Danu yang menatapnya dari dalam ruangan mulai menghampirinya.
“sibuk ya?.” sapa Danu setelah mendekat.
“ahh,, engak ini kak. Cuma cari-cari inspirasi.” Jawab Farla santai.
“emhh.. hari ini longar kan?.”
“yah .. begitulah. “
“kayaknya kalo pesan makanan tambah asik nih.”
“boleh sih. “
“oke aku pesenin go Food ya. kamu mau pesan apa?”
“emhh apa ya. martabak aja kayaknya lagi pengen itu deh.”
“okey.. kayaknya  lama juga gak makan itu.” sambil memesan pesanan lewat ponsel.
“o iya.. kakak gak ada pertemuan hari ini?”
“maksutnya ngusir secara halus ini?”
“ya ampun kak bukan itu maksud ku.”
 “baru hari ini lo kita bisa santai bersama. Ada waktu kosong. Jadi jangan fikirkan masalah kantor dulu.”
“kak bukan maksutku seperti itu.” tatap Farla sedikit tajam ke Danu.
Kemudian suasana menjadi sedikit tegang. Danu agak sedikit terpancing dengan prasangka buruknya. Karena di dalam fikirannya dia menganggap kalo Farla tak nyaman lagi di sampingnya. Juga merasa jika Farla mulai memiliki kesibukan sendiri dengan orang lain. Yang tak lain dalam fikiran Danu adalah Pak Wisnu. Farla yang mulai tak nyaman dengan suasana di sana, sedikit menenangkan egonya agar tetap bertahan di tempat itu. walau inspirasinya sudah buyar. dan membuatnya mematikan laptop juga memberesi buku-bukunya. Lalu memilih duduk sambil memikirkan apa yang ada di fikirkan Danu. Agak lama mereka bersama tapi masih diam-diaman. Makin bingung dan penasaran akhirnya Farla memberanikan diri untuk berkata,” kenapa sih kak? Kenapa akhir-akhir ini kakak seperti ini?”.
“aku yang harusnya tanya sepeti itu ke kamu lo La.” Ucap Danu dengan sedikit wajah kecut.
“jadi aku selama ini harusnya gimana? Tolong jelasi ke aku  biar aku tau.”
“kamu itu sibuk. Dan gak pernah mempergunakan kesempatan waktu santai yang ada buat kita bersama.”
“bukannya aku sibuk juga karena kerja. Dan kakak tau sendiri aku sibuk juga buat apa? Kakak bosnya lo. Semua itu jelas.” Sedikit kecewa mendengar ucapan Danu.
“yah kalo saat waktu kerja La. Waktu selain itu?. kenapa gak ada kesempatan buat kita sedikit berbincang. Dan di saat libur, kenapa kamu juga sibuk dengan kesibukan kamu sendiri. Ok, gak papa kalo kamu kasih kabar. Tapi ini boro-boro lo kasih pesan, pesan aku aja gak sempat kamu balas.” Terang Danu mengungkapkan keluh kesahnya selama ini.
Farla hanya bisa terdiam bingung. Bagaimana cara menjelaskan alasanya ke Danu. Karena di samping belum waktunya untuk menjelaskan soal proyek pak Wisnu yang jadi alasannya selama ini. Dia juga merasa bersalah karena selama ini dia sering mengabaikan pesan-pesan Danu karena saking sibuknya. Dan hanya bisa membalas sesempatnya. Bahkan sering lupa untuk memberi kabar. Karena dia selama ini berfikir positif dengan Danu. Yang ternyata sipkapnya selama ini malah membuat Danu berfikir negatif dengannya.
“kamu hanya bisa diam kan?”
Tintinn…(suara klakson motor pengantar martabak sudah tiba).
Danu melambaikan tangan memberi tanda.
“Dengan Pak Ahmad Hendanu Ferdian?”
“iya saya sendiri.”
Diserahkan lah pesanan itu pada Danu.
“ini uangnya, dan kembaliannya ambil aja.” Imbuh Danu sambil menyodorkan uang.
“Baik pak. makasih ya pak.”
Kurir itu pun beranjak pergi. Lalu kembali lah Danu ke arah tampat duduk semula.
Saat sedikit mendekat Farla mulai angkat bicara,”aku diam karena aku merasa salah kak. Tapi kakak harus tau aku punya alasan yang belum bisa aku jelaskan ke kakak sekarang.”
“alasan apa sih La? Kamu mulai gak percaya lagi sama aku?... apa pun alasanya akan aku fahami jika kamu ngomong.” Nada bicara Danu sedikit meninggi.
Farla mulai terpancing emosi. Dia pun hanya bisa diam bingung. Karena mulai merasa benar-benar tidak nyaman akhirnya Farla beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Danu pun berkata,“alasan yang belum bisa kamu jelas kan atau kamu belum bisa cari alasan buat jelasin ke aku soal pertemuan kamu kemarin dengan cowok La?”.
Sambil berlalu Farla menjawab singkat,”sebelum tau masalah sebenarnya. Harusnya kakak gak ngasih kesimpulan seburuk itu dengan Farla. Aku kecewa kakak seperti ini.”
Farla pun pindah ke meja kerjanya. Dan tak sempat menjelaskan hal yang sebenarnya. Karena terlanjur marah berat atas tuduhan Danu terhadapnya. Dengan perasaan penuh kecewa. Membuat inspirasi farla hancur seketika. Meski sudah menjahui Danu tetap saja fikiranya tak lepas dari masalah itu. Danu yang masih di makan emosi masih berdiri di luar. Bersamaan itu Anita yang tak merasa tak enak harus melewati tempat Danu berdiri memberanikan diri untuk melewati nya. Danu yang tak sengaja melihatnya akhirnya memberikan martabaknya ke Anita.
“oh iya Anita ini buat camilan pagi ini.”
Anita pun berbalik badan. Karena memahami kondisi Danu saat ini ia hanya bisa berkata singkat,”wah makasih makasih ya mas.”
Anita pun langsung masuk ke ruangan. Danu pun memutuskan untuk keluar. Tak lupa juga memberi pesan singkat pada sekertarisnya untuk meninggalakan kantor terlebih dahulu. Sesampainya di meja kantor Anita menawarkan martabak dari Danu yang sudah dia sajikan mengunakan piring kantor.
“hey semua aku bawa martabak lo. Kalo ada yang mau ambil aja ya.”ucapnya sambil duduk di meja kerjanya.
“ini la martabak.”
“hehem iya kak makasih.”
“enak lo.”
“iya kak. lagi gak pengen itu aja.”
“o ya udah aku makan duluan ya..”
Farla hanya membalas dengan senyum ke Anita.
“wah enak ni Nit..”salah satu rekan kerja tertarik mengambil martabak.
“o iya dong” jawab Anita ramah.
“ada masalah apa La?” ucap Anita melihat Farla yang terlihat membolak-balikan lembaran buku tak focus.
“oh ini kak aku lagi cari-cari inspirasi.”
“yakin cari inspirasi. ? kok keliatanya gak focus gitu. Apa karena tadi di luar? “
Farla terdiam, karena Anita bisa menebak fikiran Farla yang sedikit kacau. Datanglah Gio yang baru masuk ruang kerja sehabis mengurus urusan kantor di luar.
“wihh ada makanan nih.” Sambil mengambil martabak di dekat Anita.
Anita yang tadinya ingin mencoba mengorek informasi pribadi Farla. Mencoba menahan diri untuk tidak bertanya terlebih dahulu. Lalu mengalihkan pertanyaannya kepada Gio yang tiba-tiba muncul.“udah selesai?”
“belum sih, nanti juga balik lagi ke dinas.”
“napa lo pulang?”,
“Pegawainya belum ada, nanti adanya jam 1 siang. Iya kali nungguin sampe jam segitu, ya mendingan aku ke kantor dulu. Kan jadi bisa dapat martabak geratis juga. Haha…” Jawab Gio sambil becanda.
“seneng ya dapat yang geratis.” Ucap Anita menanggapi Gio.
“Oh iya La kamu kemarin ketemu sama siapa di Restoran?”, tanya Gio teringat keajdian kemarin melihat Farla berbincang dengan seorang laki-laki.
“itu, aku ketemu sama rekan kerja.” Jawab Farla sedikit tidak bersemangat teringat tuduhan Danu.
“oh gitu? Pantesan kayaknya penting banget. Jadi gak berani gabung.” Balas Gio santai.
“rekan kerja? Kok kayaknya mas Danu gak pernah bahas kalo ada yang harus mengurus pertemuan di hari libur?”, tanya Anita sedikit curiga.
“iya kak, itu pertemuan pribadi. Kakak ingat sama cerita ku kemarin soal pak Wisnu kan?”
“he em..”, ucap anita sambil menghidupkan computer di depannya.
“nah dia mau ngurus yang sempat aku ceritakan ke kakak. Karena berhubung dia liburan di sini ya udah di sempatkan buat ketemuan aja.”
“wah bakalan sukses dong besuk.”ucap anita dengan wajah sumringah menatap Farla.
“pak Wisnu yang mana sih?” sambung Gio sedikit penasaran.
“ada deh yo.. kepo kamu..” Balas Anita agak bergurau.
“sukses?sukses apa coba?”. Ucap Gio masih penasaran.
“mau coba main rahasia-rahasiaan ni ya? emhh … entar juga ketauan.” Ucap Gio pura-pura cuek.

Di pinggir jalan Danu yang masih berada di dalam mobilnya. Dia mencoba menenangkan diri dan merenungi masalahnya. Kembali dia menengok ponselnya dan berfikir untuk meceritakan masalahnya pada Zakky. Agar mendapat solusi. Seusai memberi pesan singkat ke Zakky. Tak lama kemudian ponsel Danu berdering. Panggilan masuk dari Zakky.
“Assalamu’allaikum Dan. Gimana Dan.?”
“wa’alaikumsallam. Iya ini gue lagi pusing. Ada waktu enggak?”
“ada tapi Cuma singkat ya paling 15 menitan. Abis ini gue ada rapat.”
“oke . makasih yan udah meluangkan waktu.”
“santai aja.”
Mereka pun berbincang-bincang. Setelah mendengar saran dari Zakky Danu agak tenang. Sedikit bisa mengendalikan egonya. Dan mulai menata lagi perasaannya. Meski hari ini dia belum bisa kembali ke kantor. Harinya ia gunakan untuk mengunjungi galeri fotografi milik temannya. Hingga sore hari ia menghabiskan waktu disana.
Di samping itu Farla yang masih di kantor menunggu kehadiran Danu. Mencoba menghubunginya berkali-kali. Namun ponsel Danu tidak aktif. Hingga semua karyawan kantor sudah meninggalkan ruanganya masing-masing. Tinggalah Anita yang masih tinggal karena sedikit kawatir melihat Farla. Selain itu dia juga penasran dengan apa yang terjadi.
“kamu kenapa sih La?”tanya Anita setelah melihat situasi sekitar sudah aman.
“hehem .. ia kak ini aku lagi ada masalah sama kak Danu.”ucap Farla kemudian mengungkapkan masalahnya. Masih resah memegang ponsel.
“pantesan dari tadi pagi kamu kelihatan cemas. Gak focus, kerjaan jadi gak beres-beres. Gak seperti biasanya aja. Coba kamu cerita, barang kali aku bisa bantu.”
“iya kak jadi gini. Sebenarnya aku tadi pagi juga syok.. masak kak Danu nyangka kalo aku ada main sama pak Wisnu.”
“haa… kok bisa La?”
“iya kak. Kayaknya dia salah faham deh. Iya sih aku salah akhir-akhir ini suka mengabaikan pesan WhatApp dia. Di kantor juga, aku sering nolak ajakannya. Tapi itukan demi pekerjaan. Aku kira dia maklum ya.. tapi malah dia salah faham.”
“o.. jadi itu masalahnya. Apa ya La. Ya kalo menurut aku kamu juga salah. Setidaknya kamu juga terbuka dengan dia. Jika gak ada waktu buat bicara setidaknya kasih pesan. Biar kesanya itu kamu gak nyuwekin dia kayak gitu. Terus alasan dia nganggep kamu ada hubungan dengan pak Wisnu itu karena ketemuan kemarin?”
“aku juga enggak tau kak, padahal aku sempat cerita loh kalo aku sempat ada rencana sama pak Wisnu buat desain rancangan proyek. Entah lah akhir-akhir ini dia itu sensitive dengar kata pak Wisnu. Dan  kak Danu gak tanya ke aku lebih banyak soal proyek. Malah dia mikirnya aku ada main sama pak Wisnu. Kapan itu, aku pernah di hubungi pak Wisnu berkali-kali.dan tiba-tiba dia jadi kesel.”
“oh,, terus kamu gak cerita atau whatApp gitu ke dia soal pertemuan kemarin ?. “
“belum sempat kak, tadinya aku mau ngomong tapi keburu marah deh berkali-kali di tuduh gitu. Jadi mau jelasi itu sudah gak sampai.”
“aduh…(sambil menggelengkan kepala) pantesan aja La. Harusnya kamu cerita pamit ke’ek, pas hari libur kamu ada keperluan sama pak Wisnu. Setidaknya kasih kabar lah. Kalo gitu kamu sama aja memanjakan dia dengan prasangka buruknya.”
“ya gimana dong kak, kak Danunya juga lagi gak mau denger in aku. Sekarang malah gak bisa di hubungi.”
“sabar mungkin dia butuh menengkan diri dulu. Belum terlambat. Dia pasti juga ngertiin kok La. Yang penting itu kamu kasih kabar, karena dia ini typekal orang kawatiran.”
Farla terdiam sejenak.
 “kan tinggal bagaimana kamu menyampaikan saja kalo soal itu. supaya dia mau dengerin ucapan kau.  mas Danu pasti faham kok.”
“iya deh nanti aku coba buat jelasin masalah sebenarnya. Setelah keadaan membaik.” Ucap Farla kemudian.
“nah gitu. Biar nanti kamu kerja juga enak. Temenya juga kalo mandangain kamu jadi enak.”
“hehemm iya kak.”
“Dan kamu masih pengen di sini aja ni?”
“tadinya mau ngunggu Kak Danu.”
“aduh... Gak bakalan deh dia balik ke kantor. Mending pulang, nanti setelah sampai rumah kamu kirim chat ke dia terus besok atau nanti kamu jelasin lewat ponsel apa malah ketemu langsung.”
“mungkin begitu aja ya kak?. Farla juga suntuk di sini terus.”
“ya udah yok bareng aja!!. Ada yang masih mau di beresin gak?”
“udah kok kak. Aku ambil tasku dulu ya.”
“ya udah aku tunggu ya.”

Sehari setelah kejadian itu berlangsung akhirnya Danu bisa menerima alasan Farla meski sedikit masih tidak percaya. Karena pak Wisnu belum juga menghubunginya tentang masalah itu. selain itu Danu juga sudah termakan oleh fikiran negatifnya sendiri jadi sulit untuk mudah percaya dengan Farla. Walau sudah Farla jelaskan mengenai pertemuan tersembunyinya dengan pak Wisnu.
 Danu harus berpura-pura untuk menyembunyikan fikirannya saat ada di depan Farla. Makanya dia sering mencari alasan agar dia tak sering bertemu dengan Farla. Disaat dia di kuasai rasa cemburunya. Farla yang masih merasa canggung mencoba memotivasi diri untuk membuang prasangka buruknya. Seringkai malah Farla mencoba menghangatkan suasana. Di sela-sela waktu senggang saat mereka berjumpa. Dan lebih bisa sering memberi kabar melalui ponsel. Danu sedikit bisa memaafkan Farla. Dengan cara itu. Namun belum bisa sepercaya 100 % dengan Farla. 
Hingga diamana waktu pun memberi jawaban atas perkataan Farla. 2 minggu setelah konflik berlangsung. pak Wisnu akhirnya menghubungi Danu untuk dapat mengadakan pertemuan pribadi. Danu yang sedikit ragu pun akhirnya bisa percaya kembali dengan Farla. Akhirnya hubungan yang sedikit canggung itu mulai sedikit hangat kembali.
Fiks dengan proyek yang ternyata lebih besar dari proyek yang di buat di kota besar. 1 bulan seusai pertemuan itu berlangsung akhirnya proyek itu mulai berjalan. Kali ini melibatkan banyak orang dalam proyek.  Yaitu  Gio, Farla, Anita dan Danu. Meski Danu tak kusus ada dalam proyek hanya berperan di bagian-bagian yang terpenting.
Kali ini mereka menggarap sebuah proyek yang akan di bangun di sebuah pengunungan yang sedikit mendekati hutan. Tapi bukan di tengah hutan. Tak terlalu dekat dengan pantai namun gambaran pantai masih bisa terlihat jelas di mata. Konsepnya adalah hotel modern bernuansa hutan kental. Selain hotel akan ada restoran yang berdiri di dekat jalan raya. Dengan sedikit di beri percikan adat daerah ini. Namun harus di imbangi dengan gaya modern. Supaya para pengunjung nantinya bisa benar-benar bisa menikmati suasana alam. Dan bisa berlibur dengan puas.
Dalam mengerjakan proyek. Mereka harus berkendara selama 2 jam perjalanan dari kantor. Cukup melelahkan memang karena mereka harus menempuh perjalanan naik turun bukit. Namun jalanan sudah mulus. Setiap hari mereka harus cek proyek itu.
Di sela-sela proyek, kabar baik . Danu memutuskan untuk melamar Farla. Danu merasa itu adalah waktu yang tepat. Karena ada waktu yang luang . juga kedua orang tua pun sudah menyetujui rencana mereka. Dengan pertemuan keluarga acara itu berlangsung. Rencana pernikahan mereka akan di atur setelah proyek dari pak Wisnu selesai.
hingga waktu 1.5 tahun yang mereka tunggu pun tiaba. Selang waktu pekerjaan itu berlangsung sayangnya Danu tak bisa bersama Farla selama   2 bulan terakhir. Karena harus menemani ayahnya berobat di luar  negeri. Yah di tempat Zakki praktik. karena di sana selain bagus dalam penanganan kanker juga bagus dalam menangani penyakit jantung. Penyakit jantung ayahnya memarah saat itu. dan terpaksa Farla dan Danu harus kehilangan kontak lagi.
Sinyal buruk yang sering melanda di kisaran hotel pun membuat semakin sulit mereka berhubungan. Terlebih Farla dan rekannya harus tinggal di sana selama 1 minggu dalam membantu membuat sebuah acara peresmian Hotel. Juga memberi arahan tataan property ruangan.
Baru sempat membukanya di hari ini. Dalam waktu santai malam ini di sebuah caffe di temani oleh secangkir coklat hangat, ponsel, laptop yang terdapat foto-foto kebersamaan dengan keluarga dan foto di sela sela proyek bersama Danu tentunya. Dia sengaja sendirian menikmati waktu kali ini untuk mengobati rasa rindunya. Lama kelamaan dia mulai meraba ponsel pribadinya, untuk membuka aplikasi  What’s App nya dengan niatan untuk mengecek sinyal. Syukurlah sinyal kali ini bagus karena sudah di pasang jaringan wifi di hotel. Tentunya dia syok melihat banyak pesan masuk seharian ini, juga hari-hari yang lalu. Banyak pesan yang masuk semuanya dari Danu. Dia pun membukanya. Saat menelan satu cegukan coklat dia kaget. Dan tersedak. Setela membaca pesan terakhir yaitu 12 jam yang lalu. sebuah pesan yang begitu sulit di percaya. Danu mengirim pesan agar Farla melupakan Danu untuk selamanya. Pesanya sedikit mengganjal. Pesan malam sebelumnya Danu merasa kangen. Dan resah ingin pulang. Tapi mengapa dia tiba-tiba memberi peasan serupa.
Pesan itu membuat Farla kawatir. Kaget  dengan hal itu kemudian Farla menghubungi Danu melalui ponselnya. Beberapa kali dia hubungi namun tidak di angkat. Tak lupa dia juga menghubungi Zakky. Namun hasilnya nihil. Teringat dengan ibu Danu ia pun menghubunginya. Ternyata ponselnya tidak aktif. Merasa ada yang tidak beres. Farla mulai mencari waktu luang untuk mencari kabar berita dan berpamitan untuk tidak mengikuti acara peresmian hotel besuk pagi. akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke rumah di pagi hari. dan menyerahkan acara ini ke Gio dan Anita.
Tujuan utama Farla adalah ruah Danu. Sebelum sempat pulang ke rumah dia mencari tau soal kabar Danu. Di rumah Danu dia hanya bertemu dangan pembantunya. ibunya juga sudah menyusul ke luar negeri. Dan dia tak cukup mengetahui banyak hal. Terakhir yang dia tau ibu Danu pergi kesana kemarin siang dengan keadaan terburu-buru. Dan belum mendapatkan informasi terbaru lagi. Dengan keadaan cemas dia memutuskan untuk pulang kerumah terlebih dahulu.
Di rumah seperti biasa dia mencoba menutupi kecemasanya di depan ibunya. Dan itu berhasil membuat ibunya percaya jika tak ada sesuatu yang terjadi. Setelah memberi salam dan mencium tangan ibunya ia pun masuk ke kamarnya. Masih cemas memikirkan Danu. Fikiran Farla hanya memusat ke Ayahnya Danu yang mengkawatirkan. Namun dia bingung mengapa dia memberi pesan seperti itu ke dia. Jarak yang jauh membuatnya semakin resah. Yang ia lakukan hanya bisa menghubungi telefon rumah Danu. Dan hasilnya tetap sama. Belum ada kabar terbaru. Di kantor pun juga tak ada kabar.
Malah dia dengar dari sekertaris Danu supaya Farla mewakili meeting dengan di bantu Wira sesuai pesan Danu sebelum berangkat ke luar Negeri. 2 minggu Farla dan Wira mengendalikan kantor. Beberapa tawaran proyek terpaksa di pending karena tidak ada persetujuan dari Danu. Jelas saja, kabarnya saja belum di ketahui. Keadan kantor sedikit tidak setabil. Karena Danu tak ada di sana. Selain harus mengurus beberapa proyek yang berlangsung dengan Wira. Dia juga terus mengintai kabar dari Danu dengan sering mengunjungi rumahnya.
Ponsel Farla berdering berkali-kali. Sayangnya Farla tak sengaja meninggalkan ponselnya dalam keadaan getar di Kamar rumah. Isi panggilan itu kebanyakan di hubungi oleh Ibunya dan Zaky. Sampai Zakki berpindah tempat di depan rumah. Masih berusaha menghubungi Farla di depan rumah tempat tinggal Farla. Tak lama setelahnya Farla hadir (sepulang dari proyek), karena kebetulan Farla juga pulang lebih awal karena merasa kurang enak badan juga karena perintah dari Wira saat menangani proyek renovasi RSUD. Farla yang tau kehadiran Zaky kemudian keluar dari mobil lalu mengampiri Zaky segera.
“Kak Zakki.. kemana aja,?aku hubungi berkali-kali engak di angkat.ada apa dengan kak Danu?”, ucap Farla mengungkapkan kekawairannya.
“iya La… emm… “, ucap Zaki serasa berat untuk mengungkapkan kata.
“ada apa kak? Kenapa semua sulit di hubungi?” desak Farla semakin penasaran.
Dengan wajah kurang enak Zaki mencoba menata kalimat terbaik untuk menjelaskan,“iya yang tabah ya la, Danu sudah gak ada La..”
Ucapan Zakky membuyarkan fikiran Farla. Diantara percaya dan tidak percaya. Farla merasa ini hanya mimpi buruknya karena terlalu kawatir selama ini.
“nggak ada?”, fikirannya melayang seakan kedatangan Zaki bagai mimpi buruk yang sedang menghantuinya.
Dia mencoba melangkah menuju pintu tiba-tiba tubuhnya merasa melayang. Pandanganya buram. Setelah menginjak 5 langkah masuk ke rumah dia pun roboh. Syukurlah Zaki dengan segera  menangkap tubuh Farla, lalu ia  membopong Farla ke bangku ruang tamu.
Sembari menunggu Farla terbangun dari pinsannya. Zaki dan ibunya mencoba memberi minyak di hidung Farla. Akhirnya Farla pun terbangun. Mengetahui Zaki yang masih berada di sana Farla pun menangis sejadi-jadinya. Karena menyadari kenyataan pahit yang di bawa Zaki. Zaki hanya bisa melihatnya iba.
“kak, katakan kalau ini Cuma mimpi burukkan?”,ucap Farla yang terduduk di pinggir shofa sambil menangis. Tanpa kata Zaki memegang tangan Farla dengan harapan supaya Farla lebih tabah.
“La yang tabah ya.”ucap Zaki menasihati.
“aku, haarus menemui kak Danu.”ucap Farla mencoba menebalkan hati. Dia mencoba bangki dari duduknya dan mengusap air matanya yang mengalir deras membasahi pipi.
“menemui kemana?”, ucap Zaki sambil menahan tanganya ketika Farla mau beranjak pergi.
“ke tempat kak Danu. Kemana lagi?”,balas Farla masih dengan wajah sedih.
“Danu gak di sini. Danu di makamkan di tempat ibunya. Di luar Negeri, tempat aku praktik.” jelas Zaki sambil bangkit dari tempat duduknya.
“ya aku harus ke sana kak.”ucap Farla tegas.
“ udah-udah, kamu tenangin diri dulu. Kalo kondisi kamu seperti ini kamu gak mungkin bisa ke sana.” Sambil mendudukan Farla kembali kesofa.
“manamungkin aku bisa tenang kak.? Aku gak bisa lihat kak Danu ke yang terakhir kalinya.” Sambil menangis sejadi-jadinya.
Ibu Farla yang sedari tadi menangis iba di antara mereka. Akhirnya  pun  ikut turun tangan menengkan Farla,“kamu yang tabah ya nak.!”
“ibu….”sambil memeluk ibunya.
Zaky belum sempat menjelaskan kejadian Danu di Luar Negeri. Namun mengetahui keadaan Farla saat ini, Zaki merasa waktunya kurang tepat.  Ia pun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. 

.........bersambung..........

                


------------------------------------------------------------------------


Instagram : @es.arini_LF / twitter: @AriniLf




........terimakasih sudah menyimak,  IKUTI AKU DI AKUN MEDIA SOSIALKU JUGA YA!!......

Si Es Batu Yang Kian Mencair