Langit kembali menerang, suasana gelap telah tersisihkan oleh angin yang pelan-pelan menghembus kearah barat. Entah kemana lagi aku harus mencari, dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Di berbagai tempat, telah aku jelajahi. Dan dari sinilah aku lanjutkan lagi perjalanan ini. Dingin basahnya aspal membuatku lebih nyaman melangkahkan kaki. Kearah utara kini aku melangkah. Dimana perjalanan ini penuh dengan aktifitas manusia yang seakan tiada henti ku pandangi. Dimana arah kanan ku terdapat beberapa kendaraan bermotor yang sedang beralulalang. Bersamaan berjuta manusia sedang berjalan di sampingku. Para pedagang asongan juga tak henti melakukan aktifitasnya. Beberapa gedung besar terlihat masih terdapat manusia yang beraktifitas di dalamnya. Toko-toko besar yang juga masih dengan aktifitasnya, masih membuka pintunya untuk para pengunjung.
Kearah kanan aku melangkah, mencoba mengikuti saran kakek tua itu. Tanpa lagi aku hiraukan niatanku sejak awal untuk mencari benda itu di tempat-tempat yang beberapa hari sempat aku singgahi. Sesampai-sampai aku bingung. ’Kalau aku melangkah ke arah kanan terus. Kapan usainya?.. yang ada aku kembali kea rah aku singgah setelah aku ambil melangkah kearah kanan. 'Fikirku sambil melangkah. Terhentiku di depan rumah mewah yang bertingkat. sejuk dan seakan damai sekali menghuninya, karena banyaknya pohon rindang di sekelilingnya. Aku hanya bisa meamandanginya dari luar pagar. Tak lama terduduk. Tibalah seorang anak muda yang seumur dengan ku keluar dengan wajah penuh amarah. Terlihat seorang wanita seumur ibu-ibu mengejarnya. Pipinya basah karena tangisan. Terdengar sedikit ucapan dengan nada tinggi,”Jangan pergi nak!!...jangan..jangan hiraukan papamu itu. Kembalilah!!..”. Namun pemuda berkostum agak urakkan itu tak hiraukan. Sampai-sampai wanita tadi terjatuh di lantai taman. Dengan secepat kilat pemuda itu pergi meninggalkan rumah mengunakan motor gagahnya. Satpam yang siap siaga membukakan pintu gerbang tadi dengan terburu-buru. Sontak aku menghindar dari ambang pintu gerbang karena takut hendak tertabrak. Tak enak mata dan hati ini melihatnya tak lama aku pergi tanpa menengok kembali kejadian itu. Kulanjutkan kembali langkah kaki ini menuruti keinginan hati. Selama perjalanan, aku mencoba memfikirkan perasaan wanita tadi. Mengapa bisa setega itu pria tadi mampu membiarkan ibunya terjatuh tersungkur dilantai. Apa tak merasa kasihan. Penasaranku bertanya-tanya dalam hati.
Disebuah warung pingiran aku singgah, di kursi kayu panjang agak tak nyaman aku menumpahkan sejenak rasa lelahku. Ku intip saku bajuku, dengan harapan uang sakuku masih tersisa banyak. Namun tidak untuk ini, uang sakuku hanya tersisah 5000. Itu pun entah masih bisakah untuk makan malam ini dan esok pagi. Perut kosong berteriak tak sabar menanti datangnya sebuah makanan. Tanpa ku hiraukan lagi kupesan sebuah makanan seadanya. Berlaukkan tempe garit, dan nasi putih dengan sedikit oseng di dalamnya. Minumpun hanya sebotol air mineral 500an. Setelah menerima uang kembalian, tanpa aku hitung lagi sesegara aku mencari lokasi untuk menikmati makanan ini. seusai makan ku sandarkan tubuh ini di sebuah tiang listrik yang berdiri pas di belakang kursi yang aku duduki. Datanglah seorang wanita muda sedikit lebih tua dariku, kira-kira 2 tahunan lebih awal dariku. Ia berkostum rapi, mengenakan jas dokter, sepatunya pun bersih, ia berkacamata namun tak menghalani sorotan mata indahnya, rambutnya panjang menawan. Sungguh pandanganku seakan terhiknotis olehnya. Dengan senyumannya yang menawan meramahiku.
Malam telah menghitam pekat, waktu mulai berlalu. Bintang-bintang dilangit mulai memancarkan cahayanya yang menawan. Bahkan bulan sabit pun ikut mempercantik lukisan lorong langit malam ini. Rasa lelahku telah beranjak pergi, ku lanjutkan lagi perjalanan ini. kini ku mencoba mengabil langkah maju untuk menuju jalanan. Disamping berdiri beberapa supermarket. Terdapat lampu yang berwana-warni. Membuatku ingin sedikit mengitip suasana disana. Toko buku, toko elektronik, toko musik dan berbagai toko semua ada disana. Musik yang merdu terengar lirih dari sebuah toko buku di samping ku berdiri. Sungguh suasana ini begitu berbeda dengan suasana tempat tinggalku. Yang hanya ada bisikkan binatang, dan alunan suara bocah yang kadang menangis dengan dilengkapi suara omelan seorang ibu-ibu yang sibuk memarahinya. Sungguh kunikmati sekali melodi kali ini. Lalu kududuk di sebuah mimbar toko buku itu. Mungkin tak semewah toko buku disebrang. Namun beruntung ku tak diusir seperti bocah-bocah pengamen di depan toko disebrang jalan. Kutatapi suasana disekeliling. Tatapanku tertuju kepada sepasang suami-istri didepan dengan 3 orang anak kecil. Satu darinya sangat lucu. Ia sepertinya masih berumur 3 tahun. Berlari-larilah dia seakan tak ada beban fikiran sama sekali. Satu kakaknya mengejar dia, ia sepertinya berumur 7 tahunan dengan rambut panjang yang diikat seperti ekor kuda. Berbeda degan kakaknya yang lebih dewasa, ia hanya duduk terdiam sambil memain-mainkan sebuah kocekan yang terbuat dari kayu dan tutup botol. Ia seakan memfikikan sesuatu. Tak lama ayahnya seakan berbisik dengan ibu mereka lalu pergi meninggalkan meraka entah apa yang ia lakukan. Ibu itu pun menghampiri anaknya. Terlihat seperti menenangkan hati anaknya. Ayahnya pun datang kembali, ia membawa sesuatu di tanganya. Kedua bocah kecil tadi berlari taksabar menghampiri ayahnya. Diberikanlah sebungkus makanan satu per satu. Terakhir ia sodorkan makanan ke putranya yang sedang ada disamping istrinya. Entah apa yang membuatnya harus meneteskan kedua matanya. Ia seakan merasa bersalah dan meminta maaf pada ayahnya. Ia peluk ayahnya. Lalu dibalasnya dia dengan ciuman di rambutnya. Lagi-lagi ini mengingatkanku pada ayah. Entah apa yang dilakukan ayah sekarang 3 hari berturut-turut aku tak bersamanya. Biasanya sepulang menyemir sepatu aku cium tangannya. Tapi kini, aku tak ada dirumah. “kira-kira ayah sedang ngapain ya?... apa sedang minum teh sambil makan kue boluemprit atu jangan-jangan ayah sakit kefikiran benda itu. Ah TIDAK..TIDAK!!...”Tiba-tiba semangatku seakan terkumpul lagi untuk melanjutkan perjalanan. Tersadar bahwa waktu telah larut malam. beberapa warung disekitar pun mulai ditutup. Suasana ramai seakan beubah senyap. Kini aku berfikir untuk mencari tempat untuk tidur terlebih dahulu. Di sebuah teras toko sorum motor yang telah sepi aku mencari tempat untuk singgah.
“mas. Mas bangun mas!!!...”suara seorang laki-laki itu berderu kencang sambil memegang lenganku.Sayup-sayup mata ini kucoba membukanya.Suasana subuh menyapaku.Ku tatap laki-laki itu sambil melebarkan kedua mataku yang masih berat.Ia tersenyum. Sepertinya ia seorang petugas kebersihan lengkap dengan seragam dengan alat-alatnya. “maaf mas, emas bangun dulu ya, tempat ini akan saya bersihkan,” katanya setelah tahu aku mulai tersadar.
Dan berkata,”ini nak kalu mau digunakan untuk mandi?”.
Idqama mulai dikumandangkan. Bapak tadi yang semula disampingkupun berdiri lalu maju kedepan. Ternyata ia seorang iman mahjid. Dirapikanlah 4 soft dari kami berdiri. Berheninglah alunan suara, ”Allahuakbar.....”, dengan merdu. Kami mulai salat jama’ah kami. Seusai sholat Bapak tadi memberikan ceramahnya. Ia mengambilkan tema (Berbakti Pada Orangtua). Di sini aku berusaha berkonsentrasi mendengarkannya.
Selesailah sudah waktu untuk beribadah. Aku yang masih menunggu bapak tadi berdiri di depan pintu tengah mahjid. Ya pintu yang paling lebar. Bapak itu menuju kearah ku.
Berjalanlah kami menuju tempat tinggal bapak ini. Tak lupa bapak membawa sabun dan handuknya. Suasana pagi menyambut kami di seujung jalanan ini. Kami harus berjalan agak sedikit agak jauh dari mahjid. Gang-gang sempit kami lalui. Sesampai di sebuah rumah di pojok jalan kecil yang sampingya penuh dengan gedung-gedung rumah mewah. Tak aku sangka masih ada sebuah rumah yang sederhana. Ku tatapi rumah itu, gentingnya masih genting kuno, yang terbuat oleh tanah liat. Pintunya pun mengunakan pintu kuno. Rumah itu masih terbalutkan oleh tembok anyaman bambu namun menariknya anyaman bambu itu unik. Jendelanya juga cuma ada dua. Sekelilingnya terdapat sebuah tanaman pot yang terjajar rapi. Ya sedikit memperindah sepetak rumah itu. Bapak itu menyuruhku masuk . Didalam aku disambut oleh istrinya dan 2 orang wanita seumuran SMP dan SMA. Disana saya dan bapak itu disambut dengan makanan lengkap dengan teh hangat.
Sesampai kami dirumah sakit.Bapak di dorong dengan meja roda menuju UGD.2 jam kami menunggu diruang itu. kemudian sesosok dokter pun keluar dari ruangan itu. ternyata dia adalah wanita tadi malam. Sungguh pandanganku tak mampu berpaling darinya.tapi tidak, ini belum waktunya aku membahan masalah itu. aku pun sesegera menanyakan keadaan keadaan bapak Tedjoe. Sayup-sayup wajahnya, seperti aka nada jawaban yang tak baik.
Waktu sore hari sehabis menguburan pak Tedjoe selesai, aku hanya mampu termenung diatas persingaahanya sekarang. Sungguh aku tak percaya. Wajah ramanhya, senyumanya beberapa jam yang lalu saja masih melekat kental di mataku. Tapi, begitu cepatnya waktu itu berlalu. Tak sadar tiba-tiaba terasa sentuhan tangan wanita dipundakku.Sambil berkata.
Aku yang masih heran, ku tatapi ruangan ini. Sebelum ku berajak pergi kekamar mandi. tempat tidur yang luas seukuran dengan rumah ku. Ku coba rebahan di sebuah kasur yang empuk di depan mata. Sungguh sebelumnya aku belum merasakan ini semua. Ini sebuah surga bagiku. Masih aku heran dengan hari ini. Aku belum percaya bahwa ini bukan mimpi beberapa kali aku tampar pipiku sendiri. Akan tetapi sakit masih terasa. Yang bertanda bahwa ini buka mimpi. Tapi nyata, ya kenyataan. Tak lama akupun bangkit dan menuju kamar mandi.
Seusai kegiatanku dikamar akupun beranjak menuju mushola rumah ini setelah mendengar suara lantunan Azan berkumandang. Kutuju sebuah tempat wudhu. Lalu mulailah aku mengambil air untuk mensucikan diri dari hadas. Selesailah kegiatan ini, akupun mulai memasuki ruangan yang tentaram, tempat ibadah. Ku lihat wanita cantik itu diruangan ini ia napak bercakap –cakap denga ibunya. Ternyata ia sedikit manja. Tersadar melihat ku memasuki ruangan wanita itu tersenyum malu menatapku. Tak lama kemudian dari belakang pak Ahmad memegang pundakku dan memintaku untuk segera mengambil soft di belankangnya. Tak lama beliau lantunkan iqmah dengan merdu. Mulailah kami beribadah.
Tibalah kami di ruang makan disana aku duduk di bangku sebelah kanan pah Ahmad. Karena permintaan beliau. Dan tak kusangka wanita cantik ini memilih duduk di sampingku. Padahal ibunya berada di sebelah kiri papanya. Mamanya pun mengabilkan nasi dan lauk untuk papanya.
Pagi pun tiba rasanya sulit sekali untuk beranjak pergi dari tempat tidur nyaman ini. aku dengan segala kemalasanku pun berusaha bangkit karena teringat oleh jaji pak Ahmad. Ku tujulah kamar mandi dan ku ambil air untuk mandi. Untuk mengembalikan kebugaran jasmaniku kembali. Seusai dari kamar mandi terlihat baju kantor lengkap telah disiapkan di atas tempat tidur. Aku pun memakainya. Di sebuah kaca aku bercermin. Tak lupa ku sisir rambut ku yang agak berantakan ini. Ku pakai dasi warna coklat tua ini. ‘ternyata tak kalah menwan juga ya aku ini’, hayalku sambil menatap kaca cerminanku. Keluarlah aku dari ruang tidurku ku lihat pak Ahmad dan ibu Ahmad telah berada di ruang makan. Tiba-tiba pandangan mereka tertuju kepada ku.
Usailah makan pagi ini, sehabis siap-siap dia pun beranjak pergi dari sini. Sebelumnya kata pamit pun telah terucap. Aku dan pak Ahmad pun segera berangkat menuju garasi mobil untuk berangkat. Ku lirik dia yang mulai membuka pintu mobilnya hingga mobilnya beranjak pergi dari tempat semula.
Di sebuah kantor yang megah, baru kali ini aku menginjakkan kaki ku disini. Aku kagum berada disini namun ku coba untuk menutupi. Serayak aku merasa biasa saja. Meski hati ini amat gembira. Di sebuah pintu luas terdapat satpam yang siap menjaganya. Kami yang telah sampai di depan pintu gsegeralah di bukakan pintu dengan penuh hormat. Padahal dahulu seringkali aku diusir kala aku berada di ambang pintu masuk sebuah supermarket. Dengan alasan yang bermacam-macam, diama tak boleh membawa kemoceng, dimana karna pakaianku yang agak kumal mungkin. Namun kini sebaliknya. Dengan bersama beliau aku merasa terhormat. Bukan Cuma itu senyuman terindah pun aku dapatkan dari para karyawan di sana. Dan itu aku dapatkan ketika aku bersama dengannya. Ini berrasa seperti mimpi bagiku. Tanpa sadar kami telah sampai di sebuah liftperusahaan. Beliau memencet salah satu tombol dari pintu lift tersebut. Lalu terbukalah lift itu. kami pun masu kedalamnya. Dan kembali beliau memencet beberapa tombol dari lift itu. tak lama kemudian terbukalah pinti lift itu kembali di sebuah tempat yang dituju oleh pak Ahmad. Expresi terkejut kiniterpancar dari wajah beliau ketika melihat seseorang yang telah berada diruangannya.
Dari sanalah aku dan pak Farhat mulai dekat. Terlebih dalam waktu 3 bulan saya ditetapkan sebagi kepercayaannya. Kini aku tinggal di salah satu tempat tinggal pak Farhat. Yang tidak ia gunakan. Ya sudah 1 bulan yang lalu aku meninggalkan rumah wanita cantik itu. Bukan karna apa. Hanya saja aku mulai tak enak untuk terus merepotkan mereka. Meski aku sendiri menyayangkan untuk berpisah dengan wanita cantik itu dan suasana kekeluargaan pak Ahmad yang begitu hangatnya. Dan jugasama saja aku memberi jarak dengannya. Dan memnungkinkanku untuk tak setiap hari melihatnya. Namun inilah pilihanku.
“Thinnn..tinnn..!!!!”, suara klakson menghentikan langkahku. Sontak terkaget aku menengok ke arah sumber suara, tiba-tiba suara lantang seorang wanita itu menegurku,”Kalau jalan lihat-lihat dong!!!...ini ambang pintu masukkan?!!!... Minggir-minggir-minggir!!!”.Dengan wajah penuh dengan amarah ia melontarkan kata-katanya dari ambang jendela mobil sedan yang ia naiki. Tersadar bahwa aku salah, maka mingirlah aku menghindarkan tubuhku menjauhi arah laju mobil mewah itu. Melajulah aku setelah mobil wanita tadi memasuki gedung kantor tujuannya. Sesampainya di sebuah sudut taman kota aku kembali, tempat inilah seingat ku sebelum terjadinya razia para pengamen yang kemungkinan terakhir benda itu terjatuh, lalu menghilang.
"Bilamana saja ayah tak memarahiku karena benda itu, akupun tak mau rela berhari-hari mencarinya. Toh mendapatkannya juga tak dapat ditukar dengan uang.” Rintihku sambil membolak-balikkan rumput mengelilingi pohon waru di pojok taman. Sampai-sampai got pun aku turuni.
“Mencari apa nak dibawah?”, terdengar sura kakek-kakek tua menegurku dari arah atas. Belum sepatku tengok ia pun menyodorkan tangannya untuk membantuku kembali ke atas. Sontakku berkata,” ahh tidak usah repot-repot kek, saya bisa sendiri kok.”
“Menolak bantuan dari orang lain itu pamali. Ayo lah jangan sungkan-sungkan.!!”. Sahut suara kakek itu dengan ramah.
“Aduh jadi engak enak ini kek,”ucapku ketika tangan ku ditariknya.
“ah tidaklah apa nak. Ini ngomong-ngomong kamu sedang apa di bawah(got) ?..”Tanya kakek penasaran sambil menatap got.
“ini kek saya lagi nyari sebuah kerajinan kayu yang bentuknya oval, tapi ada pahatan namanya dengan tulisan Arab.”jawab ku dengan harapan semoga kakek itu tahu, dan membantu mem bebaskanku dari janji ku terhadap ayah.
“Wah mungkin kakek tak bisa membatu mu, namun kakek pastikan benda itu tidak ada lagi di sini.”Kaget aku dengan jawaban kakek yang seakan tau benda itu berada.
”Namun kamu bisa mencarinya dengan sabar.”
‘Dengan sabar? Sesabar bagaimana lagi aku harus menunggu? bukannya seseorang menujukkan sesuatu itu dengan patokkan sebuah tempat?’, beberapa kali aku mengelah dalam hati. Namun mengejutkannya lagi ia seakan tahu apa isi hatiku, rasa takut tiba-tiba muncul, entah siapa makhluk yang sedang disisiku ini, apa hantu? Apa akhluk penjaga pohon besar disini?.. ketakutan itu tak dapat aku hentikan. Keringat dingin pun mulai bercucuran, bahuku merinding tak tertahankan. Tubuhku mulai bergetar. Suara pun makin memberat.Kakek tua itu tersenyum menatap ku, lalu berkata,”Tenang nak aku bukan apa yang kamu fikirakan. Aku kesini karena amanah. Jangan takut, pesanku hanya sabar jangan menyerah mencari apapun yang kamu cari, sebentar lagi kamu pasti mendapatkannya. Kuncinya sabar dan jangan pantang menyerah. Berkorban demi amanat orang tua itu bukanlah suatu kesalahan yang harus kamu sesali. Baiklah jika kamu takut karena kehadiran kakek, kakek akan pergi. Setelah ini kamu harus mencari kearah kanan mu saat ini. Setelahnya kamu akan di tujukkan ke arah dimana hatimu meminta.” Lalu kakek itu pergi begitu saja dengan langkah rentanya. Entah siapakah dia. Rasa penasaranku ini belum juga terjawab. Bila dilihat dengan mata ia hanya sesosok manusia biasa. Penampilannya pun juga seperti ala kadarnya. Dengan baju putih lusuh. Dan celana agak kumal. Ia tak menakutkan, dari segi wajah, dari segi nada berkata, dari segi tingkah. Malah seakan ia orang yang ramah. Namun rasa ketakutan ini seakan-akan mengubahnya menjadi seperti moster atau hantu yang begitu menyeramkan.
Kearah kanan aku melangkah, mencoba mengikuti saran kakek tua itu. Tanpa lagi aku hiraukan niatanku sejak awal untuk mencari benda itu di tempat-tempat yang beberapa hari sempat aku singgahi. Sesampai-sampai aku bingung. ’Kalau aku melangkah ke arah kanan terus. Kapan usainya?.. yang ada aku kembali kea rah aku singgah setelah aku ambil melangkah kearah kanan. 'Fikirku sambil melangkah. Terhentiku di depan rumah mewah yang bertingkat. sejuk dan seakan damai sekali menghuninya, karena banyaknya pohon rindang di sekelilingnya. Aku hanya bisa meamandanginya dari luar pagar. Tak lama terduduk. Tibalah seorang anak muda yang seumur dengan ku keluar dengan wajah penuh amarah. Terlihat seorang wanita seumur ibu-ibu mengejarnya. Pipinya basah karena tangisan. Terdengar sedikit ucapan dengan nada tinggi,”Jangan pergi nak!!...jangan..jangan hiraukan papamu itu. Kembalilah!!..”. Namun pemuda berkostum agak urakkan itu tak hiraukan. Sampai-sampai wanita tadi terjatuh di lantai taman. Dengan secepat kilat pemuda itu pergi meninggalkan rumah mengunakan motor gagahnya. Satpam yang siap siaga membukakan pintu gerbang tadi dengan terburu-buru. Sontak aku menghindar dari ambang pintu gerbang karena takut hendak tertabrak. Tak enak mata dan hati ini melihatnya tak lama aku pergi tanpa menengok kembali kejadian itu. Kulanjutkan kembali langkah kaki ini menuruti keinginan hati. Selama perjalanan, aku mencoba memfikirkan perasaan wanita tadi. Mengapa bisa setega itu pria tadi mampu membiarkan ibunya terjatuh tersungkur dilantai. Apa tak merasa kasihan. Penasaranku bertanya-tanya dalam hati.
Disebuah warung pingiran aku singgah, di kursi kayu panjang agak tak nyaman aku menumpahkan sejenak rasa lelahku. Ku intip saku bajuku, dengan harapan uang sakuku masih tersisa banyak. Namun tidak untuk ini, uang sakuku hanya tersisah 5000. Itu pun entah masih bisakah untuk makan malam ini dan esok pagi. Perut kosong berteriak tak sabar menanti datangnya sebuah makanan. Tanpa ku hiraukan lagi kupesan sebuah makanan seadanya. Berlaukkan tempe garit, dan nasi putih dengan sedikit oseng di dalamnya. Minumpun hanya sebotol air mineral 500an. Setelah menerima uang kembalian, tanpa aku hitung lagi sesegara aku mencari lokasi untuk menikmati makanan ini. seusai makan ku sandarkan tubuh ini di sebuah tiang listrik yang berdiri pas di belakang kursi yang aku duduki. Datanglah seorang wanita muda sedikit lebih tua dariku, kira-kira 2 tahunan lebih awal dariku. Ia berkostum rapi, mengenakan jas dokter, sepatunya pun bersih, ia berkacamata namun tak menghalani sorotan mata indahnya, rambutnya panjang menawan. Sungguh pandanganku seakan terhiknotis olehnya. Dengan senyumannya yang menawan meramahiku.
“ikut duduk ya ?”, serunya ketika duduk di samping kananku. Sungguh begitu lembutnya nada suaranya. Agak terpesona aku menatapnya. Lalu ku jawab,”emmhh…iya…silahkan”. Salah tingkahku ketika iya duduk disampingku. Jujur saja ia cantik, ia perfec,ia idamanku. Tanpa berkata, karna bingung. ia pun yang selalu memulai percakapannya.
“ Kamu juga nunguin seseorang ya?”, ia mencoba mramahiku dengan senyum manisnya.
“ohh…engak. memang kamu sendiri?”
“ohh, aku iya ini aku sedang nungguin jemputan.”
“pacar?,oh maaf”,
“ya begitulah, gak perlu minta maaf kok,” senyumlah dia dengan senyuman manis sekali. Namun, perkataanya itu mebuatku seakan jatuh tersungkur ke lantai, kecewa. Ternyata ia telah ada yang memiliki. Diamku agak lama. Sesaat kemudian sebuah mobil avanza bewarna hitam mengkilat tiba didepan kami singgah. Sesosok pria dewasa berumur kira-kira 27 tahun keluar dari mobil. Ia menyapa gadis disampingku dengan senyum bahagia. Mereka pun bercakap-cakap penuh dengan kemsraan. Tak lama meraka beranjak memasuki mobil. Tak lupa ia berpamit,” aku duluannya?”. Sapaannya ramah kepadaku.
“oh iya,”jawabku singkat sambil kulebarkan senyum untuknya.
Malam telah menghitam pekat, waktu mulai berlalu. Bintang-bintang dilangit mulai memancarkan cahayanya yang menawan. Bahkan bulan sabit pun ikut mempercantik lukisan lorong langit malam ini. Rasa lelahku telah beranjak pergi, ku lanjutkan lagi perjalanan ini. kini ku mencoba mengabil langkah maju untuk menuju jalanan. Disamping berdiri beberapa supermarket. Terdapat lampu yang berwana-warni. Membuatku ingin sedikit mengitip suasana disana. Toko buku, toko elektronik, toko musik dan berbagai toko semua ada disana. Musik yang merdu terengar lirih dari sebuah toko buku di samping ku berdiri. Sungguh suasana ini begitu berbeda dengan suasana tempat tinggalku. Yang hanya ada bisikkan binatang, dan alunan suara bocah yang kadang menangis dengan dilengkapi suara omelan seorang ibu-ibu yang sibuk memarahinya. Sungguh kunikmati sekali melodi kali ini. Lalu kududuk di sebuah mimbar toko buku itu. Mungkin tak semewah toko buku disebrang. Namun beruntung ku tak diusir seperti bocah-bocah pengamen di depan toko disebrang jalan. Kutatapi suasana disekeliling. Tatapanku tertuju kepada sepasang suami-istri didepan dengan 3 orang anak kecil. Satu darinya sangat lucu. Ia sepertinya masih berumur 3 tahun. Berlari-larilah dia seakan tak ada beban fikiran sama sekali. Satu kakaknya mengejar dia, ia sepertinya berumur 7 tahunan dengan rambut panjang yang diikat seperti ekor kuda. Berbeda degan kakaknya yang lebih dewasa, ia hanya duduk terdiam sambil memain-mainkan sebuah kocekan yang terbuat dari kayu dan tutup botol. Ia seakan memfikikan sesuatu. Tak lama ayahnya seakan berbisik dengan ibu mereka lalu pergi meninggalkan meraka entah apa yang ia lakukan. Ibu itu pun menghampiri anaknya. Terlihat seperti menenangkan hati anaknya. Ayahnya pun datang kembali, ia membawa sesuatu di tanganya. Kedua bocah kecil tadi berlari taksabar menghampiri ayahnya. Diberikanlah sebungkus makanan satu per satu. Terakhir ia sodorkan makanan ke putranya yang sedang ada disamping istrinya. Entah apa yang membuatnya harus meneteskan kedua matanya. Ia seakan merasa bersalah dan meminta maaf pada ayahnya. Ia peluk ayahnya. Lalu dibalasnya dia dengan ciuman di rambutnya. Lagi-lagi ini mengingatkanku pada ayah. Entah apa yang dilakukan ayah sekarang 3 hari berturut-turut aku tak bersamanya. Biasanya sepulang menyemir sepatu aku cium tangannya. Tapi kini, aku tak ada dirumah. “kira-kira ayah sedang ngapain ya?... apa sedang minum teh sambil makan kue boluemprit atu jangan-jangan ayah sakit kefikiran benda itu. Ah TIDAK..TIDAK!!...”Tiba-tiba semangatku seakan terkumpul lagi untuk melanjutkan perjalanan. Tersadar bahwa waktu telah larut malam. beberapa warung disekitar pun mulai ditutup. Suasana ramai seakan beubah senyap. Kini aku berfikir untuk mencari tempat untuk tidur terlebih dahulu. Di sebuah teras toko sorum motor yang telah sepi aku mencari tempat untuk singgah.
“mas. Mas bangun mas!!!...”suara seorang laki-laki itu berderu kencang sambil memegang lenganku.Sayup-sayup mata ini kucoba membukanya.Suasana subuh menyapaku.Ku tatap laki-laki itu sambil melebarkan kedua mataku yang masih berat.Ia tersenyum. Sepertinya ia seorang petugas kebersihan lengkap dengan seragam dengan alat-alatnya. “maaf mas, emas bangun dulu ya, tempat ini akan saya bersihkan,” katanya setelah tahu aku mulai tersadar.
“oh iya mas, maaf-maf ya,”jawabku sambil berdiri.Masih dalam keadaan agak ngantuk aku mencoba melangkah menghindar dan menuju ke jalanaan. Tengak-tengokku mencari sebuah mahjid.Ternyata mahjid tak jauh terletak di samping rumah luas bercatkan hijau di depan pertigan sana. Sesampainya aku menuju sebuah toilet. Yah ku ambil air terlebih dahulu untuk mandi. Yah Cuma di mahjidlah aku bisa mengambil air geratis untuk mandi. Di ambang pintu ruangan kamar madi aku di sapa seseorang berwajah cerah bersinar. Ia memakai sarung dan kopyah putih ala Arab. Ia menawariku sebuah sabun lengkap dengan handuk bewarna hijau miliknya.
Dan berkata,”ini nak kalu mau digunakan untuk mandi?”.
“oh iya pak, tidak usah repot-repot. Saya sudah terbiasa mandi begini.”
“oh tidak apalah nak, selama bapak masih bisa membantu orang selama itulah kakek bisa mengumpulkan amal ibadah. Ayo pakailah, kasihani bapak agar bisa memperoleh amal.” bapak itu berusaha menawariku sambil menyodorkan sabun dan handuknya.
“wah,, bapak ini. sayakan jadi engak enak. Ya sudahlah, tapi sebelumnya saya terimaksih ya pak.”
“oh iya.. pakailah!!saya tungu kamu di dalam. Nanti sabun dan handuknya taruhlah saja di ember hitam diatas meja sana”
“oh iya pak.”Sesaat setelah selesai aku dari kamarmandi. Ku berjalan menuju mahjid. Sebelumnya ku letakkan sabun dan handuk tadi di tempat yang diperintahkan bapak tadi. Masuklah aku kedalam mahjid itu, disana tampak 7 orang yang sudah berbaris di soft paling depan termasuk bapak tadi.Beranjaklah seorang laki-laki berbaju koko coklat untuk mengumandangkan Adzan. Ku hampirilah bapak berjengot rapi tadi, aku pun duduk disampingnya. Setelah beberapa detik sebelum Azan itu selesai, datanglah beberapa kelompok manusia yang akan menunaikan ibadah sholat subuh. Rata-rata meraka yang berusia renta. Dan sedikit sekali pemuda sepertiku yang memasuki mahjid ini. Itu membuatku berfikir, ‘ternyata orang yang hina seperti diriku ini lebih banyak tenimbang mereka yang tekun beribadah. Yang hanya kadang-kadang memnunaikan ibadah sholat.Banyak molornya. Kalau di ibaratkan daun, seperti daun yang termakan oleh hama ulat bulu banyak lobangnya. Tak rata sempurna. Kadang iya kadang tidak, bahkan banyak tidaknya. Sungguh hina sekali diriku.’
Idqama mulai dikumandangkan. Bapak tadi yang semula disampingkupun berdiri lalu maju kedepan. Ternyata ia seorang iman mahjid. Dirapikanlah 4 soft dari kami berdiri. Berheninglah alunan suara, ”Allahuakbar.....”, dengan merdu. Kami mulai salat jama’ah kami. Seusai sholat Bapak tadi memberikan ceramahnya. Ia mengambilkan tema (Berbakti Pada Orangtua). Di sini aku berusaha berkonsentrasi mendengarkannya.
Selesailah sudah waktu untuk beribadah. Aku yang masih menunggu bapak tadi berdiri di depan pintu tengah mahjid. Ya pintu yang paling lebar. Bapak itu menuju kearah ku.
“Kamu menunggu ku nak?”sapanya ketika telah berdiri pas didepanku.
“oh iya pak, oh iya pak saya hanya mau menyampaikan makasih atas sabun dan handuknya”.
“oh itu, tak apalah. Lantas kamu sekarang mau kemana?”
“saya mau mencari sesuatu pak”.
“sesuatu?, lalu dimana kamu harus mencarinya nak?apa bapak bisa membantumu?.”
“iya pak sesuatu yang hilang. Ya kemana aja pak yang penting ketemu. Oh tidak usah repot-repot pak. Toh saya juga belum ada tujuan mau kemana.”
“oh iya.iya.. baiklah kalau memeng tak bisa saya membantumu untuk ini, tapi bersediakah kamu meluangkan waktumu nak?, untuk menemani bapak sarapan pagi.”
“ah tak usah repot-repot pak. saya juga mau pergi.”
“ah tidak, kamu harus ikut. Barangkali ini juga bisa membantumu untuk memperoleh enrgi buat mencari sesuatu itu lagi.”
“benar pak engak usah.”
“tidak nak kamu harus mau, sekali lagi apa kamu tak mau membantu bapak untuk mencari amal ibadah selama masih hidup?”, paksa bapak ngotot.
“ah bapak, bisa aja membuat saya luluh.Baiklah pak kalau itu mau bapak.”
Berjalanlah kami menuju tempat tinggal bapak ini. Tak lupa bapak membawa sabun dan handuknya. Suasana pagi menyambut kami di seujung jalanan ini. Kami harus berjalan agak sedikit agak jauh dari mahjid. Gang-gang sempit kami lalui. Sesampai di sebuah rumah di pojok jalan kecil yang sampingya penuh dengan gedung-gedung rumah mewah. Tak aku sangka masih ada sebuah rumah yang sederhana. Ku tatapi rumah itu, gentingnya masih genting kuno, yang terbuat oleh tanah liat. Pintunya pun mengunakan pintu kuno. Rumah itu masih terbalutkan oleh tembok anyaman bambu namun menariknya anyaman bambu itu unik. Jendelanya juga cuma ada dua. Sekelilingnya terdapat sebuah tanaman pot yang terjajar rapi. Ya sedikit memperindah sepetak rumah itu. Bapak itu menyuruhku masuk . Didalam aku disambut oleh istrinya dan 2 orang wanita seumuran SMP dan SMA. Disana saya dan bapak itu disambut dengan makanan lengkap dengan teh hangat.
“Assalamu’alaikum wr.Wb.”Si bapak menyapa mereka.
“Wasalamu’alaikum wr.Wb.”Bangkitlah mereka dari tempat duduk, lau saling bergantian mencium tangan bapak disampingku.
“Oh iya, kali ini kita sarapannya ditemani oleh seseorang.” Kata bapak itu pada anak-anaknya.Akupun tersenyum menatapwajah meraka.
“Wah senangnya kali ini sarapannya tambah rame. Kalau begitu ibu siapkan piring dan cangkir satu lagi ya.”Wajah-wajah ramamereka yang membuatku nyaman berada disini. Entah tadimalam aku bermimpikan apa. Sehingga pagi hari ini aku bertemu mereka. Sarapan pun kami awali dengan basmallah lalu berdoa sebelum makan.
“Sudah 25 tahun aku tinggal di sini”, bapak itu mengawali percakapannya.Diam sejenak sambil menelan makanan.
“Biar pun seadanya, tapi ini merupakan hasil kerja keras ku sendiri. Ya,..saya memang bukan asli orang sini. Bisalah dikatakan orang perantauan.Saya asli orang Gunungkidul.”
“Wah jauh sekali, lalu apa yang membuat bapak untuk mau tingal di sini.? Padahal Jakarta adalah tempat yang kejam. Beda dengan bertempat tinggal di Yogya.”
“Sebenarnya saya dulu tak ada niatan sama sekali untuk pergi ke sini. Malahan saya ingin bisa pergi ke luar pulau. Tapi jika saja tidak, mungkin saja saya tak memiliki mereka.”tanggapan bapak sambil becanda.” Ya saya tinggal disini karena alasan tertentu untuk itu. Dulu saya memiliki seorang kawan, dia adalah kawan dari kecil bapak. Tetangga, kawan sekolah juga. Dia hidup sebatangkara, ia hanya tinggal dengan kakek-neneknya. Namun ia sangat berbakti dengan mereka. Padahal kakek-neneknya bukanlah kakek-nenek kandungnya. Namun rasa kasih mereka bagaikan kasih sayang dengan keluarga sendiri. Ia setiap pagi selalu bangun lebih awal, hanya untuk menimba air, lalu merebusnya. Masak pun ia lakukan. Semua itu dilakukan setiap kali kedua orang tuanya membutuhkan hal itu. Saya dulu saking penasarannya karena salut terhadapnya. Karena laki-laki jaman saya belum ada yang mau mengabil profersi seorang wanita. Saya bertanya, (apa kamu terpaksa melakukannya?/ kamu ditekan utuk harus seperti ini?) kamu tahu apa yang ia kataka?ia tak katakana ia. Tapi ia mngatakan serupa (saya sayang kepada mereka. Apapun akan saya lakukan untuk mereka. Sesekali ia tak menyuruhku untuk berbuat apapun sesukannya. Namun rasa sayang kumembuat aku ingin melakukan apa yang sekiranya berguna). Sungguh ia katakana itu dengan ikhlas.Hingga pada suatu saat seorang kakek darinya kembali ke Rahmadtullah ia amat sangat bersedih waktu itu. Sehari dua hari pun tak cukup untuk menghapuskan rasa sedihnya. Namun ia teringat akan masih ada nenek disampingnya. Menjelang 3 hari kepergian kakeknya itu ia lakukan kegiatan sehari-harinya. Tetap mealkukan hal yang sama. Namun nyirisnya, ia selalu lupa jika salah satu dari orangtuannya telah tiada. Selalusaja iasiapkan 3 cangkir teh hangat, 3 piring makanan di meja manakannya. Dan terkadang ia suka menunggui satuorang tua yang telah pergi itu.Saya tahu ia sedih namun, saya hanya bisa membisikinya, (kakekmu itu sudah senang disana, apa kamu mau membebani nenekmu dengan sikapmu itu?dia juga kehilangan. Namun apa ia lakukan hal serupa ?kalau saja di tanya ia juga sayang. Bahkan mungkin lebih.Ayolah, sedih boleh, tapi tak usah berlebihan.) ketika itulah ia bangkit kembali. Kamu tahu bahkan ia memiliki keinginan untuk bisa memberi apa yang belum pernah dimiliki nenenknya. Dan kamu tahu sekarang?Ia sekarang menjadi seorang pengusaha yang sukses.Ia lulusan S3. Ia sekolah dengan kepandaiannya. Ya mendapatkan beasiswa.Saya lulusan SD, dia tetap lanjutkan pendidikannya sampai ke jenjeang pendidikan tinggi. Hingga ia terpaksa harus pergi meninggalkan neneknya ke Jakarta.Ia sebenarnya tak mau, tapi karena neneknya yang meminta. Ia terpaksa harus mengambil tawaran itu. Neneknya pun di pasrahkan ke kami. Sampai saatnya ia kembali, ia tak hanya membawa gelarnya. Namun ia juga membawa sebuah selembar kertas yang mengejutkan kami. Surat itu berlogokan sebuah perusahaan ternama waktu lalu.Lebih mengejutkannya lagi isi didalamnya menyebutkan bahwa ia di panggil untuk mau bergabung dengan perusahaan tersebut. Dan ia izin berpamitan untuk membawa neneknya kesana. Ia katakana juga bahwa ia diberikan fasilitas sebuah rumah untuk tinggal. Karena itulah ia mau menerimanya. Dari situlah ia pergi selamanya hingga mendapatkan seorang istri. Waktu itu ia kembali ke desa kami dengan membawa istrinya. Ia ingin membawaku untuk mau bersamanya. Karna tak tega ia melihatku hanya menjadi seorang petani biasa. Kala itu aku menolak. Karena aku berharap dibawa pamanku yang ada di Sumatr, karna sebelumnya ia menawariku untuk bersamanya. Bahkan aku hingga teimpi-impikan oleh keadaan disana. Sampai-sampai aku bercita-cita untuk dapat kesana. Namun orang tua ku mematahkan keinginan itu. Ia tak menjamin kalau paman bisa membawaku. Dan memintaku untuk memilih yang sudah pasti-pasti saja. Lalu saya ikut bersamanya. 2 bulan kiranya aku tinggal dirumahnya bersama neneknya, istrinya, anaknya dan dengannya. Aku bekerja di kantor tempat ia bekarja. Berkatnya aku bisa bekerja sebagai karyawan di kantornya itu.Sehingga aku bisa bertemu dengannya (ditataplah istri tercintanya) .” maka tersenyumlah istrinya.
“ah maaf pak jadi ngorek-ngorek tentang bapak.”
“ah tidak nak. Bapak senang bisa berbagi cerita denganmu. Oh iya dari tadi bapak Cuma memangilmu dengan kata-kata kamu. Sebenarnya siapa namamu nak?”
“saya pak, saya Rantanu.Oh iya bapak sendiri?”
“Saya Tedjoe. Dia(menujuk anaknya yang besar) Laila, dia(menunjuk anaknya yang kecil) Aulia dan istriku Nur.”
“Salam kenal.”Berakhirlah waktu sarapan dipagi ini. Kubereskan bekas makananku di meja. Namun ibu Nur menuruhku untuk duduk manis kembali. Meski tak enak namun apa daya dia memaksaku untuk duduk. Bapak itu pun mengajakku untuk pindah keruang tamu. Tiba-tiba nafas bapak ini tak teratur.Ia memegang dada sebelah kirinya. Namun ia berusaha menutupinya. Tanyaku kawatir,”bapak tidak apa-apa?”. lirih ia menjawab,”ah tidak nak.” sambil berusahan melebarkan senyumnya. Anak-anak dan ibu nur pun kawatir tapi aku tak tau menahu apa sebenarnya yang kini melanda bapak ini. “ah tidak apa, kalian jangangan kawatir.!!” sesaat setelah kata itu terucap, tersungkurlah bapak itu ke lantai kira-kira lima langkah dari meja makan. Agak jauh pula dariku sehingga aku tak dapat menangkapnya. Suasana saat ini berubah menjadi panik. Aku berusaha memapang bapak menuju kursi panjang di depan. Laila pun mencari orang untuk dapat membantu kami membawa bapak untuk dapat dibawa ke rumah sakit.
Sesampai kami dirumah sakit.Bapak di dorong dengan meja roda menuju UGD.2 jam kami menunggu diruang itu. kemudian sesosok dokter pun keluar dari ruangan itu. ternyata dia adalah wanita tadi malam. Sungguh pandanganku tak mampu berpaling darinya.tapi tidak, ini belum waktunya aku membahan masalah itu. aku pun sesegera menanyakan keadaan keadaan bapak Tedjoe. Sayup-sayup wajahnya, seperti aka nada jawaban yang tak baik.
“bagamana pak Tedjoe?”,tanyaku kawatir.
“Beliau. Maaf saya sudah berusaha.”jawabnya dengan nafas tak teratur. Dia yang melihat ibu Nur dan anak-anaknya langsung berpaling menju meraka. Dia peluk ibu Nur. Lalu berkata,” maaf bu saya sudah berusaha semaksimal mungkin tapi,,,, Tuhan berkata lain.”sambil menahan tangis.Aku yang mendengarnya seakan tubuh ini roboh begitu saja, baru beberapa jam yang lalu kami bertemu bercakap-cakap. Tapi Tuhan telah mengambilnya. Lari aku menuju bapak itu.memastikan tentang apa yang dikatakan oleh dokter cantik itu. Namun kenyataannya tak jauh berbeda. Bapak Tedjoe tergeletak tak bernyawa di atas rnjang dengan sedikit senyuman dibibirnya. Tak terasa air matakupun bercucuran keluar. Sampai-sampai tak dapat aku bundung lagi. Mereka pun memasuki runangan ini. Ruangan ini serayak terpenuhi tangis kehilangan. Aku yang tak mampu lagi menatap mereka. Berusaha mundur untuk keluar dari ruangan itu.duduklah aku di kursi biru rumah sakit. Tak lama setelahnya, beberapa orang datang memasuki ruangan itu. Masih dalam keadaan sama. Yaitu dengan membawa tangis kehilangan. Rasa tak percaya seakan membasahi pipi mereka. Aku hanya terdiam disini. Lengkap dengan rasa tak percaya.
Waktu sore hari sehabis menguburan pak Tedjoe selesai, aku hanya mampu termenung diatas persingaahanya sekarang. Sungguh aku tak percaya. Wajah ramanhya, senyumanya beberapa jam yang lalu saja masih melekat kental di mataku. Tapi, begitu cepatnya waktu itu berlalu. Tak sadar tiba-tiaba terasa sentuhan tangan wanita dipundakku.Sambil berkata.
“Mungkin beliau terlalu baik dengan banyak orang. Hingga aku sendiri yang bukan apa-apanya pun ikut kehilangan. Juga kamu.”
Aku diam. Ia pun berdiri. Lalu mengulurkan kedua tangannya pada ku. Sambil berkata,” Ayo!??...”Aku masih termenung.
“Sudahlah beliau sudah lebih baik disana, kamu tahukan bila orang baik pasti di tempatkan di tempat yang baik pula. ”katanya sambil menyodorkan tangannya serayak membantuku untuk bangkit. “Dia lebih nyaman disana.” Tambahnya.Ku paksakan bibir ini untuk tersenyum. Lalu ku pegang tangan wanita cantik ini. Sungguh baru tersadar aku bisa memegangnya. Langkah kaki kami membawa kami untuk segera beranjak pergi dari makam ini. Disekujur jalan aku hanya terdiam. Lagi-lagi ia yang memulai percakapan.
“kamu lihat anak itu!..”
Aku tengok kearah yang iya tunujukan, dan menjawab,” dia, bukannya dia anak paling kecil pak Tedjoe?”
“ya,,, tapi ada yang tak kau ketahui darinya..”
“hemm… apa?”
“dia bukan anak kandung pak Tedjoe”
Aku terkejut atas ucapan wanita ini.“bagaimana mungkin?”
“ya mungkin bukan Cuma kamu saja yang berangapan serupa, akupun pertamkali tahu, ya tak percaya sepertimu. Beliau memang baik sekali, bahkan ia mampu berbuat adil pada kedua anaknya meski salah satunya bukan anak kandungnya.”Sambil tersenyum kagum.”aku ingin sekali menirunya, tapi aku belum sehebat beliau.” Tambahnya.
“ya beliau memang baik, tapi ngomong-ngomong kamu siapanya pak Tedjoe? Kok tahu segala hal tentangnya.?” Dengan penuh expresi wajah penasaran.
“Wajah mu lucu ya ketika penasaranmu mulai meninggi, hehemmm… yah dia teman papa ku. Teman kecilnya. Aku kenal beliau sejak kecil. Beliau dulu tinggal seatap denganku. Dan mulai bertempat tinggal di tempatnya itu sewaktu ia bisa membeli rumah. Dulu ia karyawan berprestasi, meski ia tak berbekal pendidikan yang tinggi. tapi ia hebat bisa mengerjakan pekerjaan para sarjanawan jaman dahulu. Maka ia diangkatlah menjadi mandor di pabrik. Sehingga ia bisa membeli rumah. Namun sayang rumah mewahnya itu tak lama ia tinggali semenjak istrinya menderita tumor pada kandungannya. Saat itu anaknya baru berumur 2 tahun. Dan sisah uangnya sehabis buat operasi dan biaya pengobatanlain-lainia belikan rumah yang sampai saat ini ia tinggali. Nyirisnya lagi setelah kejadian itu beliau sendiri menderita penyakit jantung. Bahkan beberapa kali harus opname di rumah sakit. Dan pekerjaannya itu, ia dihentikan karena penakit jantung. Entahlah mengapa orang sebaik beliau mendapatkan ujian yang seberat itu. Padahal ia dulu sehat, tak sakit-sakitan. Karena penyakit itu yang membuatnya keadaannya seperti sekarang ini. Andai saja ia tak menderita penyakit serupa mungkin dalam jangka waktu 2 tahun 3 tahun saja ia sudah bisa kembali ke keadaan semula. Beliau bekerja menjadi pengurus masjid danpenjual bunga.”
“seperti itukah beliau?... sungguh luar biasa.. padahal beberapa jam yang lalu beliau tak membahas tetang dirinya sewaktu ia sempat sukses. Malah ia membanggakan sahabat kecilnya yang kini sukses. Beliau memang rendah hati sekali. Aku kagum dengannya.”
“hehemm,,, iya… beliau memang begitu".Kita diam sesaat. Tak terasa hitamnya jalan aspal telah kami injak. Kami baru keluar melewati pintu makam. Seperti biasa ia yang selalu memulai percakapan kami.
“oh iya,.. kamu sendiri mau kemana?... mau aku antar?”
“saya….,”diam sejenak sambil memikirkan jawaban. “hehem… munkin konyol saya mengatakan ini, tapi saya taka da tujuan..” sambil tersenyum malu.
“maksudnyakamu mau mengembara?”, ia mencoba bercanda denganku.
Kami pun tertawa lalu aku berkata,” ahh tidak, aku serius. Aku gak ada tujuan untuk pergi. Tapi aku ada maksud dari perjalannku ini.”
“iyakah? Lalu apa?. .apa bisa aku membantumu?”
“Aku mencari barang yang hilang, sekaligus mematuhi perinta ayah.Mungkin kamu bisa saja membantuku jika aku ada tujuan untuk menacarinya, tapi sayangnya aku tak ada tujuan.”
“oh baiklah kalau begitu, namun jika kamu taka da tujuan. Lalu kamu ingin mencari dimana?”
“entahlah, menuruti kata hati saja.”
“lantas kata hatimu berkata kemana?”, ia mencoba bercanda dengan ku dengan kata-katanya dan senyum manisnya. Aku pun tersenyum lepas padanya.
“Lala.”Suara keras tiba-tiba berhening di sela-sela percakapan kami. Suara itu muncul dari arah mobil avanza hitam di tempat parkir pas depan kami. Lalu tubalah sesosok lelaki gagah berkacamata, ia Nampak menawan dengan baju batik dan celana hitamnya. Ia seumuran dengan pak Tedjoe. Dengan langkahnya yang santai iapun menghampiri kami.
“iya pa..” ucap wanita cantik ini kepada laki-laki gagah itu.
“ siapa anak ini?, teman mu?”
“dia teman pak Tedjoe pa. oh iya ini papa ku.”Aku pun tersenyum dengannya.
“Oh begitu.Tapi ngomong-ngomong kok saya beliau pernah melihat sebelumnya ya?”
“iya pak kami baru kenal tadi pagi.”
“emmm..,”sambil mengangukkan kepalanya.”oh iya kenalkan saya Ahmad, Ahmad Syarif”. Dengan menyodorkan tangannya. Kami pun bersalaman
“saya Rantanu pak. Rantanu Wirapradja”,
“aduh saya yang kenal duluan, kenapa yang kenalan lebih dulu papa.? Ngomong-ngomong saya boleh memperkenalkan diri tidak?”Kami pun tertawa.
“iya silahkan…”aku menjawab disela-sela tawa kami.
“oke, nama saya Lala, Amanda Keyla Ahmad”.
“baiklah, jadi saya harus memanggil mu dengan sebutan Lala?”
“Ya!..tapi kalau diruma saja ya! Kalau di rumasakit tentunya dokter Keyla”, sambil tersenyum manis.
“baiklah”, ucapku merespon cakapnnya.
“oh iya nak kamu sendiri ingin kemana?” sambung pak Ahmad.
“saya belum ada tujuan pak.”
“belum ada tujuan ?”
“iya pa dia sedang mencari barangnya yang hilang tapi ia lupa dimana barangnya hilang.” Cakap Wanita cantik ini mencoba menjelaskan.
“tapi hari sudah larut, sebentar lagi magrib. Bagaimana kalau kamu ikut dengan kami?...” tawaran bapak ini dengan keramahannya.
“ah tak usah repot-repot pak.”
“ah tidak nak, bapak senang jika bisa membantu mu. Ah...... sudah lah jangan sungkan-sungkan.!!!” Sambil menarik tangan ku.aku yang terlanjur tak enak terpaksa menigikuti keinginan bapak ini. Dan ikut dengannya kembali kerumahnya.Tak membutuhkan perjalanan yang lama untuk sampai ke rumah pak Ahmad. Kami pun sampai di sebuah rumah yang luas, dengan di kerubungi oleh dedaunan tanaman disekitarnya. Banyak sekali tumbuhan disini. Pohon buah-buahan, bunga, bonsai dan rerumputan sungguh membuat hati ini sejuk dibuatnya. Ternyata di tengah-tengah kota masih ada tempat yang senyaman disini. Bersyukur sekali aku bertemu dengan mereka.Apalagi ketika aku bisa dekat dengan gadis cantik di sampingku ini. Sungguh tak ku sangka sebelumnya, jika aku bisa bertemu dengannya lagi. Entahlah betapa besarnya keberuntungan ku sehingga membuat ku akan bisa tidur seatap dengannya tanpa sengaja, meski sementara. Bahkan ayahnya sendiri yang memintaku kesini. Jujur asenang sekali hati ini.
“baiklah ini gubuk kami, semoga nanti kamu kerasan disini.”pak Ahmad berkata sesudah mesin mobil terhenti. Kami pun keluar menuju rumah itu.di ambang pintu aku namapk heran dengan suasana dingin disana. Sehingga aku terkaget oleh ucapan dari wanita cantik yang sudah membukakanpindu didepanku,“ayok silahkan masuk!”
“oh iya makasih”, ucapku merespon percakapan.
“Assalamu’alikum mah..”, ucap pak Ahmad kemudian.
“Wasalamu’alaikum pa,” jawaban lembut seorang wanita dari arah ruangan sebelah kanan dari aku berdiri saat ini. Lalu tak lama munculah dia dengan baju santainya. Ia agak terkejut melihat ku. Wajar saja aku orang baru disini. Lalu ia berkata dengan penuh penasaran,”oh ada tamu?”
“iya ma, dia akan tinggal disini. Dia teman Tedjoe.”ucap pak Ahmad menjelaskan maksut kedatangnku sore ini.
“oh begitu, oh iya silahkan nak!…silahkan duduk terlebih dahulu!, biar saya suruh simbok siapkan kamar untuk mu. Dan pa, tadi ada telfon dari orang kantor. Dia Cuma titip pesan agar papa bisa menghubungi kembali. Dan La, kamu temani anak ini ya, nanti kalau simbok udah selesai kamu ajak dia ke kamar tamu, mama mau siapkan makan malam kalian dulu. Baik saya tinggal dulu ya nak. Ini tadi juga baru siap-siap buat ke tempat Alm. Pak Tedjoe lagi. Mungkin setelah makan malam mau ke sana dulu.”ucap ibu itu panjang-lebar.
“iya ma”,”iya buk” jawab kami serempak. Kami pun saling tatap dan saling tersenyum malu.
“oke nak, La papa masuk dulu ya.??”pamit pak Ahmad meninggalkan ruang tamu.
“baiklah silahkan duduk Tanu. Maaf ya aku panggil Tanu, itu kebiasaan kami memanggil nama orang setengah-setengah. Biar cepat maksudnya. hehemmm…”ucap manis wanita cantik ini.
“oh tidak apa.”Panjang lebar kami bercerita. Dari sinilah kami mulai akrab. Begitu banyak iya bercerita dan bertanya. Akupun begitu. Boleh dikata tukar pengalaman. Hinga seorang ibu-ibu sekiranya ia pembantu di rumah ini. memberi tahu bahwa kamar telah siap. Aku pun diantar olehnya. Dan disuruh untuk mengambil air untuk mandi. Ia beri tahu mana baju yang nantinya aku pakai, mana handuk, dan mana arak menuju ruang tamu dan mushola. Ia jelaskan dengan rinci. Setelah selesai iapun pergi meninggalkan ku. Untuk pergi ke tempat tidurnya.
Aku yang masih heran, ku tatapi ruangan ini. Sebelum ku berajak pergi kekamar mandi. tempat tidur yang luas seukuran dengan rumah ku. Ku coba rebahan di sebuah kasur yang empuk di depan mata. Sungguh sebelumnya aku belum merasakan ini semua. Ini sebuah surga bagiku. Masih aku heran dengan hari ini. Aku belum percaya bahwa ini bukan mimpi beberapa kali aku tampar pipiku sendiri. Akan tetapi sakit masih terasa. Yang bertanda bahwa ini buka mimpi. Tapi nyata, ya kenyataan. Tak lama akupun bangkit dan menuju kamar mandi.
Seusai kegiatanku dikamar akupun beranjak menuju mushola rumah ini setelah mendengar suara lantunan Azan berkumandang. Kutuju sebuah tempat wudhu. Lalu mulailah aku mengambil air untuk mensucikan diri dari hadas. Selesailah kegiatan ini, akupun mulai memasuki ruangan yang tentaram, tempat ibadah. Ku lihat wanita cantik itu diruangan ini ia napak bercakap –cakap denga ibunya. Ternyata ia sedikit manja. Tersadar melihat ku memasuki ruangan wanita itu tersenyum malu menatapku. Tak lama kemudian dari belakang pak Ahmad memegang pundakku dan memintaku untuk segera mengambil soft di belankangnya. Tak lama beliau lantunkan iqmah dengan merdu. Mulailah kami beribadah.
Tibalah kami di ruang makan disana aku duduk di bangku sebelah kanan pah Ahmad. Karena permintaan beliau. Dan tak kusangka wanita cantik ini memilih duduk di sampingku. Padahal ibunya berada di sebelah kiri papanya. Mamanya pun mengabilkan nasi dan lauk untuk papanya.
“ayo nak jangan sungkan-sungkan!!, La…!!”, tawaran pak Ahmad sambil memberi kode anaknya untuk mengajakku mengambil makanan. Tanpa ku sangka. Ia mengabilkan makanan untukku. Hayalan kecil pun tiba,’ya Tuhan senang sekali, makanan ini pasti aku habiskan, jika saja ia milikku pasti setiap makanan darinya takkan ku sia-siakan. Akan aku habiskan hingga tak tersisa.Sungguh.’
“Tanu…nak..nak Tanu!!!...” suara remang-remang kemudian mengeras itu mengagetkan lamunan ku.
“ehhh… maaf pak,, iya, iya ada apa pak?”, ku jawab dengan salah tingkah.
“gini nak Tanu, setelah ini nak Tanu mau kemana?”, jelas bapak mengulangi kata-katanya sewaktu aku melamun.
“saya belum tahu pak, namun saya mau meneruskan perjalanan saya mencari benda itu,”
“oh begitu, ngomong-ngomong bemda apa nak?apa bapak bisa bantu?.”
“oh tak usah repot-repot pak.”
“kalau saya bisa bantu tak apalah nak. Dan jika kamu berkenan. Kamu tingal saja di sini selama kamu mencari barang itu.”
“waduh pak saya jadi tambah engak enak ini.”
"Oh iya La nanti biar aku dan mama saja yang ke tempat pak Tedjoe. Kalian kesananya gantian besok sore saja."
"emhh... baik pa", jawab Keyla santaiTiba-tiba suara handphone memecahkan percapan kami. Beliau pun berhenti sejenak menelan makanannya dan mengambil arah untuk beranjak pergi menerima pangilan. Suara kumandangannya sidikit terdengar tapi tak ku hiraukan. Karena kedua wanita ini mencoba berbicara denganku. Tibalah kembai beliau. Diambilah posisi duduk paling nyaman menrurutnnya. Lalu melanjutkan lagi aktifitasnya.
“ehhh… Nak Tanu, kalau boleh tau kamu bekerja dimana?”, tiba-tiba beliau menanyaiku dengan penuh penasran.
“saya pak, saya bekerja di jalanan pak,kadang nyemir sepatu, terkadang juga bersih-bersih di komplek-komplek, yah macam-macamlah pak asalkan ada dan halal.”
“oh begitu,….”, terhenti sekejap meminum air.”emmh,,, bagaimana ya nak?...emm gini, tadikan saya dapat telphon dari kantor, dari teman saya. Beda kantor tapi masih saling kerja sama nak. Dia membutuhkan tenaga.Di untuk menjadi asistennya pribadi. Ia menyuruh saya untuk mencarikan orang, ya secepatnya. Dan jika nak Tanu berminat, besok nak Tanu bisa bertemu dengannya. Bagaimana nak?.”ucapnya menjelaskan.
“kalau masalah mau atau tidak, kenapa tidak pak. tapi saya Cuma lulusan SMK pak mana bisa bekerja di kantoran?. “
“loh kenapak tidak nak, pendidikan sebenarnya tak terlalu penting asalkan kamu mau belajar dan berminat betul. Toh nantinya kamu juga belajar dari pengalaman, mencari pendidikan itu bukan harus di bangku sekolah lo, tapi lewat kehidupan, pengalaman itu juga pembelajaran.Toh malah lebih penting pengalaman bukan. Kalau kamu tahu nak banyak sarjanawan disana yang masih ngangur, karna apa?dia taka da tekat untuk berusaha. Dan sebaliknya, banyak juga bengusaha yang pendidikannya hanya lulusan smp, bahkan SD pun ada yang jadi pengusaha. Karena apa?karena dia punya tekad untuk sukses.Jadi kamu tak perlu takut, saingan yang tampak sulit dikalahkanpun terkadang amat mudah untuk dikalahkan jika kamu mau mencoba menandinginya. Dengan tekad tentunya.”, ucap beliau menyakinkanku.
“Baik lah pak, saya bersedia.”ucap saya luluh.
“nah begitu nak, kesempatan pun tak datang dua kali. Beruntung kamu yang dapat tawaran ini. biasanya kalau aku tak dapat orang untuknya. Ia buka lowongan untuk Umum, tentunya lowongan untuk para sarjanawan diluar sana. Itu pun masih dipertimbangkan.”
“lalu kenapa bapak memilih saya untuk memasuki posisi itu, apakah pendidikan saya tak menjadi alasan mengecewakan hati teman bapak.?” Tanya saya meyakinkan keputusan beliau.
“yah, tidak mungkin. Dia sebenarnya sependapat dengan saya tentang pendidikan, asalkan jujur dan mau bertekat untuk bisa. Ya pilihan bagi kami. Kami kawan akrab nak. Sudah bertahun-tahun saya menjadi tempat ia mencarikan karyawan kepercayaannya. Karna Alhamdulillah, pilihan saya semuanya dicocoki olehnya. Maka ia selalu mecariku lebih dulu. Dan saya mempunyai keyakinan besar kalau kamu adalah orang yang tepat untuk nya. Saya memandang mu lain nak.”
“tapi apakah bapak yakin dengan saya? kita baru kenal beberpa jam yang lalu lo pak. Padahal bapak belum kenal betul dengan saya?”
“kenapa tidak nak. Kamu berkepribadian baik. Itu sudah terbaca dimata bapak. Baiklah nak kamu besok pagi berangkat dengan bapak jam 7 pagi kita kekantor pak Feddy. Cukup ya jangan merasa lemah!.. bapak yakin kamu bisa.”
Aku pun terdiam, sebenarnya saya tak enak dengan beliau, saya merasa takut jika mengecewakan beliau. Beliau memang baik.Berakhir sudah makan malam hari ini. Papa dan Mama Keyla sesegera bersiap-siap ke tempat Alm. Pak Tedjoe. Aku dan Keyla pun mengabil langkah menuju ruang tamu sesuai ajakan Keyla. Benar-benar tak kuduga aku bisa mengenalnya dalam waktu sesingkat ini. Bahkan bisa sedekat ini dapat mengenal keluarganya langsung. Dan tinggal di rumah ini seperti tinggal di lingkungan keluarga sendiri. Nyaman sekali. Malam ini kami habiskan waktu untuk berbincang dengan banyak hal dengan wanita intu. Sungguh aku merasa dekat sekali dengannya. Hari ini seakan tak mampu aku lupakan dari sekujur perjalanan hidupku. Dari mana tadi pagi aku bertemu dengan pak Tedjoe, sekaligus bersedih atas kepergiannya. Lalu membawaku menemui wanita yang pertama kali membuat hati ku ini terpana. Terlebih aku tinggal bersama kelurgannya hari ini. Malam pun makin larut, sehingga memecahkan kebersamaan kami malam ini.
“oh iya Tanu sepertinya sudah semakin larut malam. Jika kamu lelah silahkan kamu istirahat di kamar. Saya pun juga akan istirahat.”
“iya La baik,”jawabku sopan.
“oke selamat malam Tanu. Selamat istirahat.”Ucapan wanita ini sambil tersenyum hangat.Lalu kami pun berjalan menuju kamar masing-masing. Dan dia, dia searah denganku menuju . Yah... dia tidur di ruang tidur sampingku. Tak ku sangka kita sedekat ini Tuhan. Tak lupa sebelum kami masu ke kamr masing-masing ia pun mengucapkan selamat malam pada ku, aku dengan suara ter patah-patah pun menjawabnya.
Pagi pun tiba rasanya sulit sekali untuk beranjak pergi dari tempat tidur nyaman ini. aku dengan segala kemalasanku pun berusaha bangkit karena teringat oleh jaji pak Ahmad. Ku tujulah kamar mandi dan ku ambil air untuk mandi. Untuk mengembalikan kebugaran jasmaniku kembali. Seusai dari kamar mandi terlihat baju kantor lengkap telah disiapkan di atas tempat tidur. Aku pun memakainya. Di sebuah kaca aku bercermin. Tak lupa ku sisir rambut ku yang agak berantakan ini. Ku pakai dasi warna coklat tua ini. ‘ternyata tak kalah menwan juga ya aku ini’, hayalku sambil menatap kaca cerminanku. Keluarlah aku dari ruang tidurku ku lihat pak Ahmad dan ibu Ahmad telah berada di ruang makan. Tiba-tiba pandangan mereka tertuju kepada ku.
“wah cocok sekali baju ini untuk mu nak…”, cakap pak Ahmad serayak kagum dengan penampilanku.Tak lama wanita cantik itu keluar dari kamarnya. Ia ber pakaian dokter rapi dengan membawa alat-alatnya. Rambutnya terurai kali ini. Dengan jalannya yang anggun dia berjalan menuju ke arahku namun yang berbeda kali ini adalah ketika pandangan matanya seolah tertuju padaku. Padahal pandangankupun selalu tertuju padanya setiap kali dia ada. Ia pun berkata,”wah... cocok sekali kamu berpakain serupa.” Lengkap dengan senyumannya yang begitu manis, yang terhias oleh lesung pipitnya. Aku yang semula terdiam pun menjawab dengan terpatah kata,”oh iya, terimakasih”. Senyumku mengembang kali ini. Makan pagi pun kami mulai. Lagi-lagi ia ambil tempat duduk di sampingku. Dengan posisi yang sama.
Usailah makan pagi ini, sehabis siap-siap dia pun beranjak pergi dari sini. Sebelumnya kata pamit pun telah terucap. Aku dan pak Ahmad pun segera berangkat menuju garasi mobil untuk berangkat. Ku lirik dia yang mulai membuka pintu mobilnya hingga mobilnya beranjak pergi dari tempat semula.
“mari nak masuk..!” suara pak Ahmad memalingkan pandanganku terhadap wanita cantik itu.
“oh iya pak,” jawabku sambil membuka pintu mobil beliau. Harumnya parfum aroma jeruk nipispun tercium saat aku mulai duduk didalamnya. Kali ini aku duduk di samping beliau. Beliau yang siap memegang stir mobil, sesegera beliau tekan gas mobil. Lalu mobil yang kami tumpangi pun segera meluncur meninggalkan rumah.
“nak Tanu nanti kamu tunggu saya sebentar ya…? Saya harus mengurus sedikit masalah di perusahaan. Cuma sebentar kok..” kata pak Ahmad kemudian.
“tak apa pak, silahkan!”, jawabku dengan hati yang tulus.
“oh iya, nanti kamu setelah bertemu pak Farhat mungkin kamu saya tinggal nak. Dan saya jemput kamu setelah saya dapat komfirmasi dari Farhat.” ucapnya memberi tahu, “Oh iya, nanti kalau kamu bertemu dia jangan heran ya…! Dia orangnya agak keras, tapi diaenak jika sudah mulai dekat dengan seseorang.”imbuhnya.
“Oh iya pak, iya saya akan berusaha memahaminya pak. dan saya juga berjanji untuk tak mengecewakan bapak.” Jawab ku serius.
“Iya nak kamu pasti membanggakan bapak. Dan terutama untuk orang tua mu.”Teringat ku terhadap ayah ketika beliau berkata serupa. Sungguh beberapa hari ini aku terbuai akan kebahagiaan. Tanpa memfikirkan ayah, yang kini sedang apa, dimana ,dan bagaimana. Dan benda itu?.. ya Tuhan saya hamper melalaikannya. Sungguh aku merasa bersalah sekali. Lalu bagaimana sekarang, apa aku harus menolak tawaran ini. Tapi, bagaimana dengan pak Ahmad yang terlanjur mengiyai tawaran itu. Jika aku tolak apa mungki aku bisa mendapatkan kesempatan ini lagi. Tapi bagaimana dengan permintaan ayah. Apakah harus aku ingkari?. Bahkan sampai hari ini pun aku tak mampu menemukannya.
“nak?..”seruan pak Ahmad menyadarkan lamunanku.
“Iya pak,” jawabku terkaget. “oh iya pak”, imbuhku meyakinkan. Dari keterbimbangan itu ku coba menjauhkannya untuk saat ini. Dan ku coba untuk memfikirkannya setelah urusanku ini selesai.
“kenapa nak?”
“ah tidak pak. iya pak pasti saya akan berusaha dengan baik.”Mesin mobil tiba- tiba memelan. Dan berbeloklah mobil kami ke sebuah kantor yang tinggi sekali bangunannya. Dengan di jaga oleh beberapa satpam didalammnya. Gerbangnya pun juga menjulang tinggi. Di sebelah kiri perusahaan terdapat tempat parklir yang cukup luas. Akan tetapi mobil pak Ahmad tak jua menju kesana malah mengambil arak ke pintu perusahaan. Lalu berhenti disana. Beliau lepaskan tali pengamannya. Akupun meniru tingkahnya. Dan berkata,”kita turun disini nak.” .lalu kita pun keluar. Tak lama seorang berseragam rapi menghampiri kami. Pak Ahmad pun menyerahkan kunci mobilnya. Serba praktisnya kehidupan beliau.
Di sebuah kantor yang megah, baru kali ini aku menginjakkan kaki ku disini. Aku kagum berada disini namun ku coba untuk menutupi. Serayak aku merasa biasa saja. Meski hati ini amat gembira. Di sebuah pintu luas terdapat satpam yang siap menjaganya. Kami yang telah sampai di depan pintu gsegeralah di bukakan pintu dengan penuh hormat. Padahal dahulu seringkali aku diusir kala aku berada di ambang pintu masuk sebuah supermarket. Dengan alasan yang bermacam-macam, diama tak boleh membawa kemoceng, dimana karna pakaianku yang agak kumal mungkin. Namun kini sebaliknya. Dengan bersama beliau aku merasa terhormat. Bukan Cuma itu senyuman terindah pun aku dapatkan dari para karyawan di sana. Dan itu aku dapatkan ketika aku bersama dengannya. Ini berrasa seperti mimpi bagiku. Tanpa sadar kami telah sampai di sebuah liftperusahaan. Beliau memencet salah satu tombol dari pintu lift tersebut. Lalu terbukalah lift itu. kami pun masu kedalamnya. Dan kembali beliau memencet beberapa tombol dari lift itu. tak lama kemudian terbukalah pinti lift itu kembali di sebuah tempat yang dituju oleh pak Ahmad. Expresi terkejut kiniterpancar dari wajah beliau ketika melihat seseorang yang telah berada diruangannya.
“Farhat?. Sudah sampai sini?loh tadi kenapa tak ada yang memberitahuku?..”
“iyaiya.. ya memang permintaanku untuk tak memebritahumu terlebih dahulu. Asistenmu pun ku larang untuk memberitahu.”
“siapa lagi yang berani melarang asistenku untuk melaporakan sesuatu padaku kalau bukan kamu kawan!”.Mereka un tertawa lepas.
“Oh iya Fahat, ini Rantanu dia orang yang ku pilih untuk menjadi asisten mu. Aku titipkan dia padamu,aku harap kamu merawatnya dengan baik ya,,,!”ucap pak Ahmad memberitahu sambil becanda.
Kami pun bersalaman.”saya Rantanu Pak.”sambil tersenyum ramah.
“Saya Farhat, senang bertemu dengan mu nak.” Ucap pak Farhat dengan ramah.
“kalian kan sudah bertemu. Sebelumnya saya minta maaf sekali pada mu jika saya tinggal sebentar. Terserah kamu mau milih ruangan dimana pun di sini. Di ruang saya atau di ruang yang kamu sukai. Tapi maaf sekali jika aku tak bisa menemani kalian.” Ucap pak Ahmad kepada pak Farhat.
“loh memang kamu mau kemana?”
“oh ini ada sedikit masalah di perusahaan. Ini saya akan segera ke ruang rapat.Mereka sudah menunggu saya. Dan nak Tanu silahkan kamu bersama Farhat.” Beranjaklah pergi beliau dengan tergesa-gesa.
“iya pak” jawabku kemudian.Berbincang-bincanglah kami di ruang kantor pak Ahmad. Dari mana saya menceritakan tentang diri saya. Mulai pekerjaan apa yang nantinya aku kerjakan, membahas tentang jam dan gaji. Terlebih beliau memberi gambaran sekaligus mengajarkan sedikit apa yang belum aku bisai. Dan beliau menjelaskan tentang profesi saya kelak. Di ruangan itu saya melihat sosok beliau yang ramah. Namun agak tegas. Beliau juga penyabar, dari segi ia mengajari ku. Yang terkadang harus beberapa kali belum aku kuasai.
Dari sanalah aku dan pak Farhat mulai dekat. Terlebih dalam waktu 3 bulan saya ditetapkan sebagi kepercayaannya. Kini aku tinggal di salah satu tempat tinggal pak Farhat. Yang tidak ia gunakan. Ya sudah 1 bulan yang lalu aku meninggalkan rumah wanita cantik itu. Bukan karna apa. Hanya saja aku mulai tak enak untuk terus merepotkan mereka. Meski aku sendiri menyayangkan untuk berpisah dengan wanita cantik itu dan suasana kekeluargaan pak Ahmad yang begitu hangatnya. Dan jugasama saja aku memberi jarak dengannya. Dan memnungkinkanku untuk tak setiap hari melihatnya. Namun inilah pilihanku.
.............Bersambung............
------------------------------------------------------------------------
Oleh Lens Afala
Instagram : @es.arini
Facebook : Ambarini
twitter: @endangambarini
motivasi untuk anda yg hilang harapan https://youtu.be/0RmOklC1sls dan video menarik lainya di https://www.youtube.com/channel/UCny6-rabWFMSJ49TD-eDB2A
juga di
https://www.youtube.com/channel/UCy3L_xF_bFypRxaoGDqOarw
........terimakasih......